PARENTING
29 Agustus 2019

Tetap Bekerja sambil Membesarkan Anak Ternyata Menyenangkan!

Saya sempat merasakan baby blues selama kurang lebih dua minggu lebih
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Ferina Tyas Hapsari (26 th), Ibu dari Feiyaz Aleesha W, Member WAG Orami Working Moms

Leaving My Comfort Zone untuk Hidup Mandiri

orami momspiration 1.jpg

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Setelah menikah, saya memilih meninggalkan comfort zone saya di rumah orang tua dan ikut dengan suami untuk membangun keluarga dan membina rumah tangga kami secara mandiri.

Awalnya, terasa sulit ketika kami hanya berdua, lalu saya akhirnya memutuskan untuk bekerja demi membangun keluarga kecil impian kami, sekaligus mengurus rumah mungil kami.

Tak lama setelah itu, saya dianugerahi Tuhan karunia yang begitu indah dengan kehadiran janin di rahim saya. Saya menjalani kehamilan jauh dari orang tua dan keluarga. Dengan kondisi itu, saya tetap bekerja dari pagi sampai malam, lalu sampai di rumah lanjut mengurus suami.

Masa-masa kehamilan yang sulit dan penuh rasa mual saya jalani hanya berdua dengan suami. Mulai dari mengikuti yoga untuk ibu hamil, senam hamil, sampai dengan hypnobirthing.

Hampir tidak ada waktu untuk istirahat, karena di akhir pekan pun saya memilih untuk membekali dan mempersiapkan diri untuk kelahiran buah hati kami nanti.

Baca Juga: OMG! Ternyata Saya Mengalami Blighted Ovum alias Kehamilan Kosong

Welcoming The Little One dan Serangan Baby Blues

orami momspiration 2.jpg

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Hari yang dinanti-nantikan pun tiba. Saya melahirkan putri kecil yang begitu cantik melalui persalinan secara normal. Selama cuti melahirkan, saya memilih untuk tetap tinggal berdua dengan suami dan mengurus putri saya sendirian.

Di sinilah tantangan dimulai..

Saya sempat mengalami baby blues selama 2 (dua) minggu lebih sebelum akhirnya bisa menerima segala rintangan dengan hati yang lapang.

Setiap kali ingin mengeluh karena lelah, saya memandang wajah mungil nan indah yang diciptakan Tuhan yang sedang berada didekapan saya.

Hari-hari berikutnya saya jalani dengan penuh sukacita, saya dan suami telah memilih jalan hidup kami, dan akan saya jalankan dengan penuh komitmen pada diri sendiri.

Rasanya menyenangkan, karena saya menentukan dan menjalankan sendiri metode pengasuhan anak saya tanpa intervensi dari orang lain. Saya menutup kuping dari semua omongan orang.

Ketika cuti melahirkan hampir habis, dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan mempekerjakan jasa pengasuh.

Tak mau mengambil resiko, dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan Si Kecil, kami meminta bantuan ibu mertua untuk mengawasi anak, selagi saya dan suami bekerja.

Baca Juga: Serunya Menikmati Tahun Pertama bersama Bayi Prematur

The Struggle is Real

orami momspiration 4.jpg

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Meskipun memakai pengasuh, saya tetap mengurus sendiri segala keperluan Feiyaz, nama putri cantik saya.

Dimulai pagi hari sebelum berangkat kerja, saya selalu memandikan dan menyiapkan susu atau makan Feiyaz terlebih dahulu. Ketika malam hari pulang kantor, saya meninggalkan segala hal berbau pekerjaan untuk bisa memiliki quality time bersama Feiyaz.

Tak perlu muluk-muluk, cukup 30 menit sebelum tidur, saya bermain dan membacakan dongeng yang akhirnya menjadi rutinitas untuknya tanpa gangguan gadget atau sosial media.

Hal ini membuat saya tetap merasakan kedekatan batin yang begitu erat dengan Feiyaz. Feiyaz pun begitu melekat dengan saya.

Ditambah Tuhan begitu baik, saya tetap diberikan kesempatan untuk memberikan ASI eksklusif untuk Feiyaz.

Terlepas beban pekerjaan yang menumpuk di kantor, dengan tekad yang kuat, saya tetap bertahan untuk melakukan pumping ASI di sela-sela jam kantor.

Seringkali, saya pumping di ruangan kerja dengan menggunakan apron, di mobil ketika sedang perjalanan meeting, bahkan ketika meeting pun saya tetap pumping jika memang sudah waktunya.

Awalnya rekan kerja saya memandang “aneh” kelakuan saya tersebut. Namun saya cuek saja, demi nutrisi dan kehidupan anak saya, toh akhirnya mereka semua terbiasa dengan pemandangan saya pumping di mana saja dan kapan saja

Baca Juga: Paniknya Saya sebagai Ibu Baru saat Melihat Anak Kejang karena Demam

Enjoying Motherhood!

moms_.jpg

Foto: Orami/Ferina Tyas Hapsari

Hari demi hari, saya semakin menikmati peran sebagai seorang ibu. Saya rajin membaca buku-buku yang berkaitan dengan parenting, mengikuti kelas, group, ataupun akun-akun media sosial yang berkaitan dengan parenting.

Semua ilmu yang saya dapatkan turut saya bagikan kepada suami, pengasuh, dan juga kedua orang tua kami. Hal tersebut penting bagi saya, agar kami mempunyai persamaan persepsi dalam metode pengasuhan anak.

Feiyaz pun tumbuh menjadi bayi yang sangat aktif, saya mengikutsertakan dia dalam sekolah renang khusus bayi setiap hari Sabtu, dan juga baby sensory class setiap 2 minggu sekali di hari Minggu.

Hal itu saya lakukan supaya Fei bisa belajar bersosialisasi sembari bersenang-senang dan bonding dengan saya dan ayahnya.

Di waktu senggang ketika di rumah pun, saya selalu berusaha mengulang permainan-permainan yang diajarkan di sensory class yang pernah Feiyaz ikuti.

Tak perlu repot-repot, dengan bahan sederhana di rumah pun semua bisa dilakukan. Hal tersebut tentu menambah keceriaan dan kekompakkan di rumah mungil kami.

Sampai saat ini Feiyaz berusia hampir 9 bulan dan saya sangat menikmati peran sebagai seorang ibu sambil terus bekerja. Saya yakin akan tetap bisa menghadirkan cinta, kasih, dan perhatian untuk Feiyaz, meskipun sehari-hari harus pergi ke kantor.

Saya yakin tetap dapat bekerja dengan maksimal, meskipun tetap harus memantau segala keperluan dan perkembangan Feiyaz selagi bekerja.

Artikel Terkait