GAYA HIDUP
26 Februari 2020

Penyakit Kuning Bisa Terjadi pada Orang Dewasa, Ini Penjelasannya!

Jika Moms memiliki penyakit kuning, penting untuk segera mengunjungi dokter untuk pemeriksaan kesehatan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Orami

Moms pasti sering melihat bayi yang baru lahir menderita penyakit kuning. Penyakit kuning adalah istilah medis yang menunjukan adanya perubahan warna pada kulit dan bagian putih mata menjadi berwarna kuning.

Penyakit kuning terjadi ketika ada terlalu banyak bilirubin (pigmen kuning) dalam darah, suatu kondisi yang disebut hiperbilirubinemia. Akan tetapi, tahukah Moms bahwa penyakit kuning ternyata juga bisa terlihat pada orang dewasa?

Dikutip dari healthline.com, penyakit kuning itu sendiri bukanlah penyakit khusus. Penyakit kuning adalah gejala dari beberapa penyakit yang mungkin mendasarinya. Pada orang dewasa, penyakit kuning dapat mengindikasikan masalah serius dengan fungsi sel darah merah, hati, kantong empedu, atau pankreas.

Steven K Herrine, MD, Dokter Gastroenterologi Spesialis Penyakit atau Transplantasi Hati, mengatakan banyak orang dengan penyakit kuning juga memiliki urin berwarna gelap dan feses berwarna terang.

Perubahan-perubahan ini terjadi ketika penyumbatan atau masalah lain mencegah bilirubin dihilangkan dalam tinja dan menyebabkan lebih banyak bilirubin dikeluarkan dalam urin.

"Jika kadar bilirubin tinggi, zat yang terbentuk ketika empedu rusak dapat menumpuk dan menyebabkan gatal di seluruh tubuh. Tetapi penyakit kuning itu sendiri bisa menyebabkan beberapa gejala lain pada orang dewasa," katanya seperti dikutip dari msdmanuals.com.

Baca Juga: Kenali Gejala Hepatitis B Pada Anak dan Penanganannya

Penyebab Penyakit Kuning pada Orang Dewasa

Penyebab Sakit Kuning

Foto: Weartv.com

Penyakit kuning jarang terjadi pada orang dewasa, tetapi Moms bisa mengalaminya karena berbagai alasan. Akan sangat membantu untuk memahami berbagai penyebab perubahan warna kulit atau ikterus dengan mengidentifikasi masalah yang mengganggu metabolisme bilirubin dan atau ekskresi normal.

1. Hepatitis

Menurut American Family Physician, kondisi peradangan hati ini disebabkan oleh infeksi virus, penyakit autoimun, kehilangan darah yang ekstrem, obat-obatan, racun, atau alkohol. Hepatitis bisa bersifat akut atau kronis, yang berarti berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Tergantung pada penyebabnya.

Seiring waktu, hepatitis dapat merusak hati dan menyebabkan penyakit kuning. Kelelahan, lesu, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, kulit gatal, sakit perut bagian kanan atas, kulit atau mata kuning, dan penumpukan cairan di perut adalah gejala yang mungkin terjadi.

2. Penyakit Hati Terkait Alkoholik

Terbiasa mengkonsumsi alkohol dalam kurun waktu panjang yaitu 8-10 tahun, ternyata bisa merusak organ hati secara serius karena menyebabkan hepatitis alkoholik dan sirosis alkoholik. Gejalanya bervariasi tergantung pada separah apa kerusakan organ hati yang dialami.

Mudah berdarah atau memar, kelelahan, perubahan kondisi mental seperti mudah kebingungan, sakit atau bengkak di perut, mual dan muntah, penurunan berat badan, dan pastinya penyakit kuning ( kulit atau mata menguning) adalah semua gejala yang mungkin terjadi.

3. Kanker Pankreas

Kanker pankreas adalah kanker ke- 10 yang paling umum terjadi pada pria dan ke-9 pada wanita. Kanker pankreas terjadi ketika sel-sel pankreas, yang merupakan organ endokrin vital yang terletak di belakang perut, menjadi kanker dan tumbuh di luar kendali.

Kanker pankreas dapat memblokir saluran empedu dan menyebabkan penyakit kuning. Kanker pankreas mungkin sulit dideteksi dan sering didiagnosis ketika stadium penyakit sudah pada posisi lebih lanjut.

Gejala umum dari kanker pankreas adalah kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan yang tidak disengaja, sakit perut, sakit punggung bagian bawah, pembekuan darah, dan penyakit kuning pada kulit dan mata kuning, serta depresi.

4. Batu Empedu

Batu empedu terbentuk ketika ada konsentrasi tinggi dari empedu, bilirubin, atau kolesterol dalam cairan yang disimpan di dalam kantong empedu.

Batu empedu biasanya tidak menyebabkan gejala atau rasa sakit sampai batu tersebut benar-benar menghalangi pembukaan kantung atau saluran empedu.

Nyeri perut kanan atas atau sakit perut biasanya terjadi setelah makan makanan yang tinggi lemak. Gejala lainnya adalah rasa sakit disertai mual, muntah, urin gelap, tinja putih, diare, bersendawa, dan gangguan pencernaan.

Baca Juga: Wajib Tahu, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Penyakit Hepatitis C

Gejala Penyakit Kuning pada Orang Dewasa

Gejala Penyakit Kuning

Foto: medicalnewstoday.com

Penyakit kuning adalah tanda dari proses penyakit yang mendasarinya. Tanda dan gejala umum yang terlihat pada seseorang yang memiliki penyakit kuning meliputi:

  • Perubahan warna kuning pada kulit, selaput lendir, dan bagian putih mata
  • Tinja berwarna terang
  • Urin berwarna gelap
  • Gatal pada kulit

Proses penyakit yang mendasarinya dapat menghasilkan tanda dan gejala tambahan, seperti mual dan muntah, sakit perut, demam, letih lesu, kehilangan selera makan, sakit kepala, kebingungan, serta pembengkakan pada kaki dan perut.

Perawatan dan Pencegahan Penyakit Kuning pada Orang Dewasa

Pencegahan Penyakit Kuning

Foto: healthline.com

Perawatan dari penyakit kuning akan tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

  • Penyakit kuning yang disebabkan oleh anemia dapat diobati dengan meningkatkan jumlah zat besi dalam darah. Mengkonsumsi suplemen zat besi atau makan lebih banyak makanan kaya zat besi dapat menjadi solusi untuk pencegahan.
  • Penyakit kuning yang disebabkan oleh hepatitis membutuhkan obat antivirus atau steroid.
  • Penyakit kuning karena penyumbatan usus dan empedu, diobati oleh dokter dengan operasi pengangkatan penyumbatan.
  • Jika penyakit kuning disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, merubah perawatan dengan melibatkan pengobatan alternatif bisa dilakukan.

Baca Juga: Penyakit Hepatitis C, Apakah Bisa Disembuhkan?

Satu yang harus Moms ingat bahwa penyakit kuning sangat berhubungan dengan fungsi hati. Sangat penting bagi orang untuk menjaga kesehatan organ vital ini dengan makan makanan seimbang, berolahraga secara teratur, dan tidak mengonsumsi alkohol lebih dari jumlah yang disarankan.

(RIE/ERN)

Artikel Terkait