PARENTING
27 Agustus 2019

Tips Menyapih Anak Kembar dengan Penuh Cinta

Bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk para Moms yang akan menyapih anaknya
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Florida Tiur Ronauli Vera Linawati, ibu dari Amalia Benetta dan Gita Elina (1 tahun 11 bulan)

Amalia dan Gita merupakan anak kembar. Saat ini, saya bekerja sebagai ibu rumah tangga, namun juga sedang merintis usaha yang bergerak di bidang creative industry dan clothing line fashion, serta sedang melakukan proses Weaning with Love (WWL).

Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengenai menyapih anak kembar karena tidak terasa umur mereka sudah menginjak 2 tahun. Tidak bisa dipungkiri proses menyapih itu tidak mudah, apalagi dengan kondisi yang saya hadapi saat ini.

Baca Juga: Mendampingi Anak Epilepsi dan Delay Tumbuh Kembang

Memulai Weaning with Love di Usia 22 Bulan

WhatsApp Image 2019-08-23 at 18.53.06.jpeg

Bagi seorang ibu, bisa memberikan ASI ekslusif pada buah hatinya memiliki kebahagiaan tersendiri. Bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang tepat, tapi pemberian ASI eksklusif juga menjadi sarana kedekatan emosi yang positif antara ibu dan anak.

Meskipun ada yang mengatakan bahwa anak akan menyapih dengan sendirinya, namun menurut saya peran kita sebagai orang tua justru harus mempersiapkan Si Kecil untuk disapih. Kita akan sangat membantu anak mencapai kesiapan penyapihan (weaning readiness).

Kejelian orang tua mengenali weaning readiness adalah salah satu kunci keberhasilan proses WWL. Proses ini merupakan salah satu teknik menyapih di mana proses penyapihan dilakukan dengan sangat halus dan mempertimbangkan kesiapan Si Kecil.

Inti dari WWL adalah proses yang lembut, bertahap, fleksibel, penuh kesabaran, dan penghargaan terhadap buah hati.

Proses WWL dimulai saat usia anak mencapai 22 bulan. Memang sangat dekat sekali jaraknya menuju 2 tahun, hanya tersisa waktu 1 bulan lagi. Saya tetap optimis dan berusaha untuk melakukan proses WWL ini.

Selama proses penyapihan, anak-anak sangat rewel dan tantrum. Ini membuat saya dan suami kewalahan.

Untuk menyapih anak, saya sangat butuh sekali dukungan dari suami, terlebih ketika menghadapi mereka di saat rewel.

Lalu usaha apa yang saya lakukan dalam menyapi anak dengan teknik WWL? Saya share di bawah ya Moms.

Baca Juga: Jurus Ampuh Bertahan Hidup sebagai Ibu Bekerja dengan 2 Batita tanpa ART

1. Banyak Memeluk dan Mencium

Saya sering memberikan pelukan dan ciuman untuk anak-anak ketika menyapih mereka.

Mungkin banyak Moms yang sedang menyapih, khawatir memeluk atau mencium Si Kecil akan mendorong anak untuk meminta menyusui. Padahal anak juga butuh pelukan atau kontak fisik dengan ibu untuk menggantikan kontak fisik yang berkurang karena kurangnya frekuensi menyusui.

2. Fokus pada Anak

Selain itu saya juga sering meluangkan waktu untuk fokus pada si kembar. Inilah salah satu alasan mengapa saya akhirnya memutuskan untuk resign, karena ingin fokus pada anak khususnya saat proses menyapih, seperti saat sedang menyusui si kembar.

Baca Juga: Kebahagiaan Ibu PH Survivor dalam Merawat Dua Anak yang Terlahir Prematur

3. Kontak Mata

Kontak mata adalah hal penting yang harus kita dah anak lakukan untuk membangun sebuah hubungan yang lebih intim.

Duduk atau berbaring bersama, lihat dan berbicara dengannya dari mata ke mata, itu hal sederhana yang saya lakukan.

4. Beri Aktivitas Menyenangkan

Lakukan suatu aktivitas yang menyenangkan dengan anak. Biarkan mereka tahu melalui berbagai cara bahwa kita tetap ingin dekat dengannya.

Jika Si Kecil mulai menunjukkan keinginan yang sangat kuat untuk menyusu, jangan ditolak. Namun jika selama proses penyapihan anak tidak memperlihatkan keinginan untuk menyusu, jangan ditawari.

Bedakan Kebutuhan Atau Kebiasaan

WhatsApp Image 2019-08-23 at 18.53.04.jpeg

Menurut pengalaman saya, anak biasanya menyusu karena dua alasan yaitu karena kebutuhan dan kebiasaan.

  • Menyusu karena kebutuhan yang biasa dilakukan ketika anak saat haus. Oleh karena itu, selama proses penyapihan saya melakukan beberapa hal di bawah ini.
  1. Tawarkan banyak minuman yang menarik (seperti susu UHT dengan varian rasa yang disukai anak atau jus yang disukai anak) agar anak tidak merasa haus.
  2. Selain itu, tawarkan banyak makanan yang tinggi protein dan nutrisi untuk mengimbangi kehilangan nutrisi dari ASI. Dalam hal ini saya memberikan si kembar 3-4 kali makanan berat disertai cemilan yang sehat dan disukai.
  • Menyusu karena kebiasaan biasanya dilakukan pada waktu dan tempat tertentu (di kamar sebelum tidur). Pada kondisi ini, yang saya lakukan dengan anak-anak saya yakni:
  1. Menghindari situasi di mana anak terbiasa menyusu, misalnya dengan membuat rutinitas baru seperti membaca buku sebelum tidur, mendengarkan musik, bernyanyi bersama (papa, mama, dan anak-anak).
  2. Selain itu, berikan anak banyak kegiatan yang menyenangkan agar pikirannya teralihkan dari kegiatan menyusu. Dalam hal ini sebelum tidur anak-anak saya berikan waktu untuk bermain dengan boneka kesayangannya.
  3. Selain itu, biasanya anak menyusu sebagai sarana untuk rasa aman bagi dirinya sendiri, misalnya saat menangis ia minta menyusu, atau saat merasa bosan, ia minta menyusu juga.

Baca Juga: Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia

Di sini tugas kita sebagai orang tua adalah menyediakan bentuk dukungan emosional melalui berbagai cara. Misalnya tepukan halus, elusan di pantat anak, dan sebagainya. Hal ini diperlukan agar Si Kecil belajar bahwa ada berbagai cara yang membuatnya nyaman selain menyusu.

Demikian sepenggal kisah pengalaman saya dalam proses menyapih si kembar dan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Meskipun tersisa waktu 1 bulan lagi, saya yakin bahwa saya dan suami dapat melakukan proses WWL ini dengan sukses dan tak lupa dengan penuh cinta bagi si kembar tentunya.

Dukung saya terus ya Moms!

Artikel Terkait