PARENTING
5 November 2019

Tips Terapkan Disiplin Positif pada Anak Usia Dini Tanpa Kekerasan Menurut Psikolog

Karena Si Kecil belum bisa mengelola emosinya sendiri
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Salah satu tantangan bagi para orang tua dalam mengasuh anak adalah menentukan bagaimana cara terbaik dan tepat untuk mendisiplinkan anak.

Dalam membuat anak disiplin, tidak sedikit orang tua menggunakan cara yang kurang baik, seperti dengan kekerasan fisik atau verbal.

Namun, Moms bisa lho, mendisiplinkan anak usia dini tanpa perlu memakai kekerasan. Cara ini yang dinamakan sebagai disiplin positif.

"Pemberian disiplin positif merupakan cara atau bagaimana kita memberitahu hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dengan cara di waktu positif dan disesuaikan dengan empati anak," jelas Rayi Tanjung Sari, M.Psi, Psikolog, dalam acara "First Anniversary Orami Community" pada Sabtu (26/10/2019) di JSC Hive, Kuningan, Jakarta Selatan.

Lebih lanjut, Rayi menjelaskan bahwa ada manfaat yang didapatkan dengan mengajari anak disiplin.

"Anak jadi mengerti tentang hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan, lingkungan menjadi lebih terstruktur sehingga anak lebih aman untuk berkembang secara optimal," terangnya.

Baca Juga: Menerapkan Kedisiplinan pada Anak Tanpa Menjadi Ibu Kejam

Mengelola Emosi Terlebih Dahulu untuk Orang Tua

Strategi Disiplin Untuk Menghadapi Anak Dengan ODD 1.jpg

Rayi menjelaskan, bahwa sebelum mendisiplinkan anak, orang tua perlu untuk belajar mengelola emosi sendiri terlebih dahulu.

"Kadang sebagai orang tua, emosi kita gampang tersulut. Hal pertama sebenarnya harus belajar untuk bisa menenangkan diri sendiri," kata Rayi.

Menurutnya, bila emosi belum mereda, orang tua akan menjadi lebih emosi ketika mau mendisiplinkan anak. Dampaknya, orang tua akan berbicara menggunakan nada tinggi, menyebabkan perilaku anak semakin negatif.

"Akhirnya, terjadi interaksi negatif dan anak tidak bisa mendengar nasihat orang tuanya," lanjutnya.

Jika Moms berada di satu titik sudah tidak tahan dengan anak, Rayi menyarankan untuk mengganti dulu pengasuhan dengan suami atau pengasuh.

"Moms bisa istirahat 5 menit, baru kita dapat kembali menghadapi anak lebih tenang, dan lebih terkoneksi dengan anak," katanya.

Baca Juga: Pojok Emosi, Bantu Anak Kelola Emosi

Dampak Gunakan Kekerasan dan Time-out dalam Mendisiplinkan Anak

grooming, taktik jahat pelaku kekerasan seksual dalam mendekati anak calon korban 2

Dalam melakukan disiplin positif, tidak boleh melakukan teriakan, memukul, dan menghukum.

"Kalau Moms teriak, dan anak masih merasa kesal, akhirnya orang tua dan anak tidak bisa saling mengerti. Begitu juga dengan memukul. Karena dengan memukul, kita mengajarkan anak bahwa kekerasan fisik dibolehkan, dan anak akan meniru," jelas Rayi.

Lebih lanjut, Rayi juga tidak menyarankan untuk melakukan "time-out" sebagai cara untuk mendisiplinkan anak.

Time-out dilakukan dengan memisahkan anak sementara dari lingkungan ketika ia tidak berperilaku baik.

"Time-out membuat anak merasa dijauhkan ketika ia sedang emosi dan melakukan kesalahan. Anak merasa seperti dipaksa belajar untuk mengelola emosinya sendiri, padahal mereka masih susah untuk memikirkan apa kesalahannya, dan ia butuh bantuan orang tua untuk mengelola emosinya," jelas Rayi.

Dampaknya, anak tidak mengerti apa kesalahannya, karena orang tua juga tidak menjelaskan pada anak. Selain itu, konsekuensinya bisa tidak sejalan dengan apa yang dilakukan anak.

"Apa yang anak tahu, ia berbuat salah dan dia disuruh memojok. Anak pun merasa jauh dari orang tua, merasa tidak dimengerti, padahal sebenarnya anak butuh perhatian orang tua, misalnya," lanjutnya.

Baca Juga: Kekerasan Verbal Bisa Berpengaruh Buruk Ke Anak!

Pentingnya Disiplin Positif pada Anak Usia Dini

utamakan diskusi, 1 dari 7 kiat mendisiplinkan anak keras kepala 6

Ketimbang time-out, Rayi pun menyarankan bagi orang tua untuk melakukan time-in sebagai cara untuk memberikan hukuman bagi perilaku anak yang buruk.

"Misalnya, Moms menentukan tempat untuk anak agar dapat menenangkan dirinya. Hal ini sudah membantu anak untuk merasakan emosinya," saran Rayi.

Selain itu, disiplin positif diperlukan untuk membantu anak memahami lingkungan dan memberikan struktur yang tepat. Sehingga, anak paham apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Terakhir, Rayi juga menyebutkan tiga cara menerapkan disiplin pada anak.

Pertama, orang tua harus empati terhadap perasaan anak, sehingga orang tua bisa paham apa yang dirasakan anak, dan latar belakang dari perilakunya tersebut.

Kedua, memberitahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak, supaya anak mengerti tentang aturan dan batasan-batasan.

Ketiga, orang tua dapat memberikan solusi dari masalah dan pilihan dari situasi yang dihadapi.

Nah, itu dia cara menerapkan disiplin positif pada anak usia dini yang bisa dilakukan sebagai metode pengasuhan anak.

(AWD/DIN)

Artikel Terkait