TRIMESTER 1
24 September 2020

Tontonan Ibu Hamil dan Dampaknya Bagi Janin, Bumil Wajib Tahu!

Benarkah tontonan ibu hamil berdampak bagi janin? Seberapa bahaya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkah Moms menangis atau terbawa dalam cerita dalam sebuah film saat hamil? Tiba-tiba terisak atau malah merasa ikut pada hal yang hanya ada di acara televisi? Ternyata, tontonan ibu hamil memang memengaruhi Moms dan janin. Dan itu ada alasan ilmiahnya lho Moms.

Dilansir Daily Mail, ilmuwan telah menemukan bahwa bayi yang belum lahir merespons suasana hati ibu mereka saat dia menonton film. Dalam studi mengenai tontonan ibu hamil yang dilakukan di Universitas Nagasaki di Jepang menjadi landasan ilmiah terkait hal tersebut.

Dalam studi tersebut, sepuluh ibu hamil sukarelawan diminta untuk menonton klip berdurasi lima menit dari musikal Julie Andrews, ‘The Sound of Music’.

Empat belas lainnya menyaksikan lima menit yang menghentak dari film Franco Zeffirelli 1979 ‘The Champ’, di mana seorang anak laki-laki menangis atas kematian ayahnya.

Ibu hamil tersebut mendengarkan film menggunakan earphone untuk menjamin bayi yang belum lahir tidak terpengaruh oleh soundtrack film. Hasilnya penelitian tersebut menunjukkan janin seolah sedang merangkul saat ibunya menonton klip yang membuat senang dari ‘The Sound of Music’, tetapi menjadi tenang saat adegan sedih dari ‘The Champ’.

Para peneliti tidak mengetahui bagaimana bayi menangkap emosi ibunya, tetapi menduga bahwa aliran hormon yang dipicu oleh lapisan emosional ditransmisikan secara tidak langsung ke janin. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa suasana hati ibu hamil dan tingkat stres dapat mempengaruhi janinnya.

Ini artinya, secara tidak langsung, tontonan ibu hamil memberikan pengaruh pada janin dalam kandungan. Emosi yang muncul karena tontonan ibu hamil berpengaruh pada janin.

Baca Juga: Ibu Hamil Ingin Menonton Konser Musik? Pahami Dulu Aturannya!

Tontonan Ibu Hamil, Emosi, dan Pengaruhnya pada Janin

Tontonan Ibu Hamil dan Dampaknya Bagi Janin -1

Foto: OramiPhotoStock

Jadi, seperti apa hubungan tontonan ibu hamil, emosi dan pengaruhnya pada janin? Berikut ulasannya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa calon ibu yang stres akan berisiko lebih tinggi mengalami bayi yang meninggal saat lahir atau kelahiran prematur. Bayi yang lahir dari ibu yang mengalami stres juga dua kali lebih mungkin memiliki IQ di bawah rata-rata.

Dr Kazuyuki Shinorhara yang memimpin penelitian di Universitas Nagasaki tersebut mengatakan, para peneliti menggunakan pemindaian ultrasound untuk menghitung jumlah gerakan lengan, kaki, dan tubuh janin saat ibunya menonton klip tersebut.

“Para peneliti menemukan bahwa janin menggerakkan lengan mereka lebih banyak selama klip bahagia dari The Sound of Music. Tetapi di kelompok lain, bayi yang belum lahir bergerak secara signifikan kurang dari biasanya sementara ibu mereka menyaksikan tangisan tersebut,” jelasnya.

Sebuah penelitian lain yang dipublikasikan dalam New Scientist telah menunjukkan bahwa ketika perempuan hamil terkena stres, janin mereka mungkin terpengaruh.

Studi di National Institute of Health menyebutkan, kadar hormon stres kortisol ibu juga telah dikaitkan dengan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, peningkatan volume amigdala pada anak perempuan, dan efek perilaku seperti peningkatan risiko ADHD dan PTSD.

Ini membuktikan bahwa tontonan ibu hamil memberikan dampak bagi janin. Karena mood swing yang sering terjadi selama kehamilan, hal yang dianggap remeh seperti menonton televisi pun bisa membuat stress, jika tontonan tersebut terlalu sedih atau menakutkan.

Meski begitu, sebuah studi meta yang dipublikasikan National Center for Biotechnology Information dari 35 studi yang menghubungkan stres ibu dengan pertumbuhan janin yang lebih lambat menyimpulkan bahwa meskipun ada kaitannya, stres ibu hanya menyumbang 1 persen dari perbedaan berat janin.

Ini terjadi karena plasenta menyaring banyak kortisol ibu dan hormon terkait stres lainnya, terutama selama awal kehamilan, jumlah kortisol mungkin perlu sangat tinggi untuk memberi pengaruh.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat stres sedang, terutama pada akhir kehamilan, sebenarnya baik untuk janin yang sedang berkembang dengan meningkatkan perkembangan kognitif, dikutip National Center for Biotechnology Information.

Hindari Tontonan Ibu Hamil yang Jadi Sumber Stres

Tontonan Ibu Hamil dan Dampaknya Bagi Janin -2.jpg

Foto: Parentingfirstcy.com

Meski kemungkinannya kecil, namun tetap membuat kondisi yang positif agar emosi saat hamil tetap stabil adalah pilihan yang terbaik. Saat hamil, sangat memungkinkan bagi Moms untuk menjadi hipersensitif.

Ini akan tertanam secara evolusioner terhadap kekerasan, pembunuhan, dan penganiayaan dan hal-hal yang menghasilkan tingkat kortisol yang sangat tinggi.

Menghindari sumber stres ini bisa menjadi cara melindungi bayi, salah satunya menghindari tontonan ibu hamil yang memicu stres. Ilmuwan evolusi telah menyelidiki bagaimana emosi dan reaksi perempuan terhadap situasi yang berpotensi berbahaya berubah selama kehamilan dan setelah melahirkan.

Misalnya, para peneliti di University of Bristol menemukan bahwa perempuan hamil mengalami ‘pemrosesan emosi yang sangat waspada’.

Dalam penelitianya, ibu hamil lebih sensitif terhadap ekspresi wajah yang menandakan potensi ancaman, terutama ekspresi ketakutan, jijik, dan amarah.

Para penulis menyimpulkan bahwa peningkatan kemampuan untuk menyandikan wajah emosional selama kehamilan trimester akhir mungkin merupakan adaptasi evolusioner untuk mempersiapkan perempuan menghadapi tuntutan perlindungan dan pengasuhan sebagai ibu, dengan meningkatkan kepekaan emosional umum dan kewaspadaan terhadap sinyal emosional dari ancaman, agresi dan penularan.

Jika pikiran ibu hamil tidak sepenuhnya memahami bahwa menonton kekerasan di televisi pada dasarnya berbeda dengan menontonnya di kehidupan nyata, mungkin kewaspadaan terhadap situasi berbahaya dapat diterjemahkan menjadi tidak ingin menontonnya di layar.

Memang, penelitian telah mengaitkan menonton film kekerasan dan televisi dengan peningkatan kadar kortisol. Sebuah studi tahun 2010 oleh Journal of Children and Media di Jerman menemukan peningkatan kortisol dan variabilitas detak jantung pada anak laki-laki praremaja yang menonton televisi kekerasan, sementara studi tahun 1996 terhadap perempuan menemukan peningkatan detak jantung, tekanan darah, kortisol dan hormon lain saat menonton film kekerasan.

Para penulis studi menyimpulkan bahwa ini adalah bukti adanya perubahan neuroendokrin yang terkait dengan mekanisme pertahanan dan dibangkitkan oleh kekerasan film dan situasi konfliktual.

Baca Juga: 7 Aktivitas yang Bisa Mengurangi Mual saat Hamil

Larangan Nonton Film Horor saat Hamil Hanya Mitos

Tontonan Ibu Hamil dan Dampaknya Bagi Janin -3.jpg

Foto: Freepik.com

Banyaknya mitos hamil yang tak terhitung dan beragam. Misalnya ada yang mengatakan bahwa beberapa makanan yang dikonsumsi ibu hamil miliki selama kehamilan akan mempengaruhi kebiasaan makan bayi.

Ada juga yang mengatakan bahwa tontonan ibu hamil akan memberikan dampak bagi janin karena akan mempengaruhi penampilan fisik bayi dan meniadakan peran genetika sepenuhnya.

Tentu ini adalah mitos. Karena ini tidak memiliki pembenaran ilmiah apa pun dan sama sekali tidak berdasar. Film horor, secara umum, bisa menjadi roller-coaster emosi seseorang, baik dia hamil atau tidak.

Oleh karena itu, efek film horor pada perempuan hamil sangat bergantung pada jumlah stres yang ditimbulkan oleh film tersebut padanya. Faktanya, film apa pun yang memberi tekanan pada ibu hamil lebih baik dihindari.

Alasan utama dan mungkin satu-satunya mengapa menonton film horor tidak disarankan selama kehamilan adalah karena hal itu dapat menyebabkan stres pada ibu. Stres pada ibu hamil dapat menyebabkan perubahan hormonal dalam tubuhnya yang pada akhirnya dapat mempengaruhi janin.

Beberapa dari masalah ini mungkin termasuk ketidakmampuan untuk berkonsentrasi atau memperhatikan selama masa kanak-kanak atau menjadi gelisah atau mudah ketakutan. Perhatian utama yang perlu diperhatikan dalam hal ini, bagaimanapun, adalah apakah film horor memang bisa sangat membebani ibu hamil.

Jadi jika Moms merasa tidak nyaman menonton film horor dalam keadaan normal, tentunya Moms juga harus menghindari menonton film horor saat hamil.

Namun, jika dia menikmatinya dan menganggapnya sebagai pengalaman yang menyenangkan, hal itu tidak akan berbahaya bagi bayi yang belum lahir dengan cara apa pun.

Baca Juga: Tampil Fashionable Saat Hamil Ala Natalie Portman

Cari Cara Agar Tetap Bahagia

Tontonan Ibu Hamil dan Dampaknya Bagi Janin -4.jpg

Foto: Parentingfirstcry.com

Jika Moms merasa bahwa tontonan ibu hamil tidak akan berdampak pada janin, menontonlah. Siapa tahu itu justru cara Moms untuk bersenang-senang dan melupakan stress selama kehamilan.

Jika Moms tidak merasa terganggu dengan genre apapun, menontonlah dengan rileks . Biarkan hormon kebahagiaan meluncur deras.

Namun jika Moms masih ragu dengan tontonan ibu hamil dan dampaknya pada janin, sebaiknya Moms harus mencari cara lain untuk membuat Moms tetap bahagia. Moms bisa mencari judul film atau hiburan di televisi yang menyenangkan. Atau, Moms bisa juga mencoba beberapa cara di bawah ini agar tetap rileks selama kehamilan.

  • Letakkan Gadget. Akan selalu ada pertanyaan yang terkait kesehatan kehamilan, tetapi informasi yang berlebihan tidak akan membantu. Dapatkan informasi utama dari dokter dan cari hanya apa yang perlu diketahui.
  • Bersyukur. Salah satu cara terbaik untuk menghilangkan stres adalah dengan berfokus pada rasa syukur, karena ini mengurangi pusat stres di otak. Apakah Moms bersyukur untuk bayi, pasangan, atau dapat tidur siang, terus pikirkan atau tulis apa yang Moms syukuri setiap hari.
  • Hilangkan Khawatir Berlebih. Semua kekhawatiran tidak hanya meningkatkan stres, tetapi juga dapat mentransfer kecemasan ke area lain dalam hidup. “Khawatir juga dapat membebani Anda secara fisik, membuat sakit dan nyeri saat hamil semakin parah. Itu membuat emosi lebih intens,” kata Dr Elizabeth Lombardo, seorang psikolog klinis dan penulis ‘Better Than Perfect’.
  • Olahraga. Sebuah studi di jurnal di American Psychological Association menemukan bahwa olahraga dapat meningkatkan suasana hati, kemungkinan karena aliran endorfin yang didapatkan saat berkeringat. Berolahraga 30 menit hampir setiap hari adalah yang terbaik.
  • Coba Visualisasi. Bayangkan hanya hal-hal bagus saat santai atau meditasi. Ini akan menghapus sedikit demi sedikit kekhawatiran Moms. “Sebagian besar ketakutan berasal dari pengalaman yang pernah dialami atau yang didengar berulang kali, seperti betapa sulitnya persalinan ibu Anda,” kata Dr. Catherine Shainberg, psikolog dan penulis "Dream Birth".
  • Fokus pada Bayi. Hormon stres dapat berpindah ke bayi. Jadi semakin banyak emosi dan pikiran penuh kasih yang Moms miliki, akan semakin baik. “Ini akan mengubah biokimia tubuh Anda dan Anda ingin bayi Anda berada dalam lingkungan cinta,” kata Elizabeth.
  • Lepaskan ekspektasi. Jika Moms berharap melahirkan secara normal atau membuat makanan bayi buatan sendiri, itu hal yang bagus. Tapi jika keadaan tidak sesuai dengan yang diharapkan, jangan memaksakan diri. Bersikaplah fleksibel dan terima bahwa hasil yang berbeda juga akan baik-baik saja.
  • Berdamailah dengan Diri. Alih-alih terpaku pada penambahan berat badan, stretch mark dan varises, ketahuilah bahwa perubahan ini bersifat sementara. Yang penting adalah bagaimana Moms bereaksi saat ini. "Anda mungkin tidak memiliki kendali atasnya, tetapi Anda selalu memiliki kendali atas reaksi emosional Anda," kata Elizaveth.

Kehamilan adalah tentang apa yang memberi Moms kesenangan dan membuat bahagia. Jika merasa tontonan ibu hamil memberi dampak bagi janin, carilah aktivitas lain yang membuat Moms merasa lebih bahagia saat melakukannya.

Artikel Terkait