KESEHATAN
13 Februari 2020

Peneliti Kembangkan Vaksin Virus Corona Novel, Rencananya Tersedia 18 Bulan Lagi

Peneliti berusaha menciptakan vaksin yang bisa digunakan sesegera mungkin
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Dina Vionetta

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah resmi mengganti nama dari virus Corona novel yang awalnya 2019-nCoV, menjadi COVID-19.

Hal ini seperti ditulis melalui akun Twitter resmi WHO.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa nama COVID-19 adalah singkatan dari "Corona Virus Disease 2019", dalam briefing media pada Selasa (11/2).

Selain itu, nampaknya mulai ada secercah harapan terhadap usaha untuk mengatasi COVID-19 yang sudah tersebar di berbagai belahan dunia.

Diketahui, vaksin virus Corona novel bisa tersedia dalam 18 bulan ke depan.

Baca Juga: 3 Artis yang Berdonasi untuk Virus Corona, Berhati Mulia!

Vaksin Virus Corona Novel Bisa Tersedia dalam 18 Bulan

vaksin virus Corona novel-1

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip The Guardian, Dr. Tedros menyebutkan bahwa vaksin virus Corona novel yang pertama bisa tersedia dalam waktu 18 bulan ke depan.

"(Dalam menghadapi COVID-19) Hari ini kita harus melakukan semuanya menggunakan sumber yang tersedia", jelas Dr. Tedros di Jenewa.

Selain itu, Thomas Breuer, sebagai kepala petugas medis unit vaksin GlaxoSmithKline, mengatakan, "(Vaksin) ini akan memakan waktu setidaknya 12 hingga 18 bulan. Dalam situasi separah sekarang, setidaknya di China, sebenarnya tidak akan memberikan keuntungan."

Baca Juga: Ini Deretan Vaksin yang Wajib Diberikan untuk Si Kecil!

Kerja Sama Perusahaan untuk Menciptakan Vaksin Virus Corona Novel

vaksin virus Corona novel-2

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip situs Health & Human Services (HHS), disebutkan bahwa untuk mempercepat pengembangan vaksin virus Corona novel, pihak HHS divisi Asisten Sekretaris untuk Kesiapsiagaan dan Respons (ASPR) akan memperluas kerja sama dengan Janssen Research & Development yang merupakan bagian dari Johnson & Johnson's.

Kerja sama ini berkaitan dengan berbaginya biaya penelitian dan pengembangan, serta keahlian untuk membantu mempercepat produksi vaksin virus Corona novel sehingga bisa menuju ke tahap evaluasi klinis.

"Ketika berbicara penyakit menular, vaksin adalah tulang punggung dari respon kesehatan masyarakat," kata Rick A. Bright, Ph.D., Direktur Biomedical Advanced Research and Development Authority (BARDA) pada Selasa (11/2).

Melansir NPR, pihak perusahaan medis dan kesehatan lainnya juga mengusahakan agar dapat menciptakan vaksin virus Corona novel yang siap digunakan manusia sesegera mungkin, sebagai langkah untuk mengatasi wabah ini.

Baca Juga: 6 Cara Menjaga Kesehatan di Tengah Wabah Virus Corona

Uji Coba Vaksin Telah Dilakukan pada Tikus

vaksin virus Corona novel-3.jpg

Foto: thehill.com

Per hari Rabu (12/2), para peneliti di Imperial College London telah menguji coba vaksin virus Corona novel dengan menyuntikannya pada tikus. Mereka mengatakan keinginan mereka untuk menghentikan penyebaran virus Corona novel pada akhir tahun.

"Saat ini kami baru saja memasukkan vaksin yang kami hasilkan dari bakteri ke tikus," kata peneliti Imperial College London Paul McKay pada Senin (11/2).

Lebih lanjut, mereka menambahkan, "Kami berharap bahwa selama beberapa minggu ke depan kita akan dapat melihat respons pada tikus-tikus tersebut, apa yang terjadi dalam darah mereka, dan respons antibodinya terhadap virus Corona novel."

Informasi terkini per tanggal 12 Februari 2020 pada situs Organisasi Kesehatan Dunia, menyebutkan bahwa 45.171 jiwa terinfeksi COVID-19 di seluruh dunia. Sebanyak 1114 jiwa meninggal di China, dan 1 jiwa meninggal di luar China.

Artikel Terkait