PASCA MELAHIRKAN
17 Februari 2020

Waspadai High-Functioned Depression pada Ibu, Sering Tidak Terlihat!

Wanita sebenarnya bisa menderita high functioned depression selama bertahun-tahun tanpa disadarinya.
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Gejala-gejala depresi seperti kelelahan, kecemasan, lekas marah, dan kesedihan yang intens adalah tanda-tanda jelas bahwa seseorang membutuhkan bantuan.

Banyak perempuan mengalami high-functioned depression dan tidak menyadarinya, bahkan ibu hamil dan ibu baru lebih rentan mengalaminya.

Hal itu disebabkan, wanita hamil dan ibu baru lebih mungkin menderita kesepian daripada kebanyakan orang.

"Seseorang yang memiliki high-functioned depression, biasanya sangat pandai menyembunyikan masalah mereka dan mungkin bahkan dalam penyangkalan," kata Channing Marinari, seorang penasihat kesehatan mental berlisensi di Behavioral Health of the Palm Beaches.

Mereka mungkin memiliki karier yang sukses, hubungan yang nampak bahagia, dan mengenakan topeng walau menderita di dalamnya.

Juga dikenal sebagai gangguan depresi persisten, gangguan depresi tingkat rendah ini lebih kronis tetapi tidak sejelas depresi biasa.

Dikutip dari Depression in Parents, Parenting, and Children: Opportunities to Improve Identification, Treatment, and Prevention, depresi ini biasanya baru dilakukan pada seseorang yang mengalami depresi ini setidaknya selama dua tahun.

Marinari mencatat bahwa wanita hamil dan ibu baru dapat rentan terhadap high-functioned depression karena sejumlah alasan, termasuk perubahan hormon dan tekanan terkait dengan pekerjaan, rumah, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

"Kami melihat lebih banyak ibu yang harus bekerja sepanjang kehamilan mereka dan kembali bekerja cepat setelah melahirkan. Saya percaya ini juga berkontribusi pada beberapa kasus high-functioned depression," kata Marinari.

Baca Juga: Ketahui Bahaya Depresi Berkepanjangan yang Tidak Ditangani, Bisa Fatal!

Tanda dan Gejala High-Functioned Depression

Waspadai High-Functioned Depression pada Ibu, Sering Tidak Terlihat! 02.jpg

Foto: pixabay.com

Jillian Kirby didiagnosis menderita dysthymia, nama lama untuk gangguan depresi persisten, ketika dia berusia 21 tahun.

Dia awalnya menolak diagnosis, tetapi setelah melahirkan, dia menyadari bahwa dia memang mengalami high-functioned depression, dan perlu bantuan mengelola gejalanya.

"Menjadi ibu bisa sangat mengisolasi, yang sangat memperbesar dampak sehari-hari dari high-functioned depression" kata Kirby.

"Ketika gejala parah, saya tidak ingin makan atau mandi atau berdandan, tetapi pada hari biasa, saya bekerja keras untuk menampilkan diri dengan baik, meskipun secara emosional belum tentu merasa lebih baik daripada ketika kambuh."

Pengalaman Kirby bukan hal yang langka, menurut Anna Kress, Psy.D., seorang psikolog klinis di Princeton, New Jersey.

"Tuntutan baru, stres, dan ekspektasi seorang ibu dapat memicu high-functioned depression pada beberapa wanita, terutama jika mereka sudah memiliki kecenderungan perfeksionis," katanya.

"Diperparah media sosial, menjadi ibu sekarang memiliki lebih banyak tekanan dari sebelumnya untuk tampil sukses dan bahagia," lanjut Kress.

"Dibandingkan dengan gambaran indah media sosial, menjadi ibu dalam dunia nyata adalah pekerjaan berat. Meskipun mengalami kesedihan dan kritik diri yang terus-menerus, banyak ibu baru akan mencoba mengesampingkan perasaan mereka untuk merawat bayi mereka dan terlihat baik-baik saja kepada orang lain,” ungkap Kress.

Baca Juga: Kenali Tanda dan Gejala Depresi pada Anak Berikut Ini

Pilihan Pengobatan High-Functioned Depression

Waspadai High-Functioned Depression pada Ibu, Sering Tidak Terlihat! 03.jpg

Foto: pixabay.com

Gangguan depresi persisten dapat berkembang menjadi depresi post-partum yang lebih serius, terutama jika wanita itu tidak mencari bantuan.

Apalagi karena banyak tanda-tanda peringatan tidak terdeteksi bahkan oleh teman dekat dan keluarga.

Tanda-tanda peringatan tersebut termasuk mengisolasi diri, menghindar dari kegiatan atau acara sosial tertentu, lekas marah, harga diri rendah, kesulitan membuat keputusan, masalah tidur, dan perubahan nafsu makan.

Perawatan umum biasanya terdiri dari kombinasi psikoterapi, obat antidepresan, dan perubahan gaya hidup.

Jika ibu hamil merasa menderita gangguan depresi persisten, hubungi psikolog segera.

"Yang paling penting adalah bagi para ibu untuk tidak merasa malu jika mereka merasakan depresi selama kehamilan mereka atau setelah mereka melahirkan bayi mereka sehingga mereka bisa mendapatkan bantuan, berbicara tentang perasaan mereka, dan mempertimbangkan perawatan jika perlu," tutup Marinari.

Baca Juga: Cegah Depresi, Ini Dia 5 Makanan untuk Meredakan Baby Blues

(TPW/DIN)

Artikel Terkait