KESEHATAN
29 Mei 2020

Apa yang Terjadi Pada Tubuh Sebelum, Saat, dan Sesudah Elektrokardiogram?

Elektrokardiogram adalah tes medis untuk mendeteksi masalah jantung hingga menentukan perawatan yang tepat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Dina Vionetta

Elektrokardiogram adalah tes sederhana yang mengukur aktivitas listrik jantung. Tes medis ini juga dikenal sebagai EKG yang telah menjadi perlengkapan standar di ruang operasi dan ambulan.

Umumnya dilansir dari Better Health Australia, tes elektrokardiogram digunakan utnuk mendeteksi masalah jantung dan memantau status jantung dalam banyak situasi.

Biasanya dokter akan merekomendasikan tes elektrokardiogram jika pasien menunjukkan gejala masalah jantung, seperti sakit dada, kesulitan bernapas, merasa lemah, jantung berdebar dan deteksi suara tidak biasa.

EKG ini bisa membantu dokter menentukan penyebab gejala dan jenis perawatan yang sangat diperlukan. Jika pasien berusia 50 tahun ke atas dan memiliki riwayat jantung dalam keluarga, dokter akan melakukan tes EKG.

Baca Juga: Tak Selalu Serangan Jantung, Ini 4 Penyakit Lain yang Diawali dengan Nyeri Dada

Cara Kerja Elektrokardiogram

cara kerja elektrokardiogram (Pixabay).jpg

Foto: pixabay.com

Setiap detak jantung yang dipicu oleh impuls listrik biasanya dihasilkan dari sel-sel khusus di ruang kanan atas jantung, Elektrokardiogram sendiri mencatat waktu dan kekuatan sinyal ini ketika bergerak melalui hati.

Tes elektrokardiogram akan mengumpulkan informasi dari 12 area jantung yang berbeda. Tes ini dilakukan dengan menempatkan 10 elektroda di dada atau anggota tubuh pasien.

Lalu aktivitas listrik akan tercatat dalam bentuk grafik dengan pola yang berbeda setiap fase detak jantungnya. Tes sederhana ini bisa merekam irama jantung yang abnormal jika terjadi selama elektrokardiogram.

Tahapan Sebelum Elektrokardiogram

Sebelum EKG (Pixabay).jpg

Foto: pixabay.com

Sebelum pasien melakukan tes elektrokardiogram dilansir dari Hopkin's Medicine, pastinya dokter akan menjelaskan tahapan-tahapannya. Biasanya dokter akan meminta pasien puasa atau tidak makan sebelum tes elektrokardiogram.

Pasien juga perlu memberi tahu mengenai semua obat yang dikonsumsinya, baik obat resep atau yang beli secara bebas, seperti vitamin, herbal dan suplemen.

Selain itu, pasien juga perlu memberi tahu dokter jika pernah menggunakan alat pacu jantung. Karena dokter akan meminta persiapan khusus lainnya berdasarkan kondisi medis pasien.

Baca Juga: Ini 5 Cara Mengolah Makanan yang Tepat untuk Penderita Penyakit Jantung

Apa yang Terjadi Selama Elektrokardiogram?

Selama EKG (Pixabay).jpg

Foto: pixabay.com

Elektrokardiogram atau EKG adalah tindakan medis yang cepat, tidak menyakitkan dan tidak berbahaya. Tes medis ini berlangsung dengan cara seorang tim medis menempelkan 12 hingga 15 elektroda lunak menggunakan gel di dada, lengan dan kaki.

Terkadang tim medis perlu mencukur rambut di area tertentu untuk memastikan elektroda menempel dengan benar pada kulit. Elektroda ini melekat pada kabel listrik, yang kemudian dipasang pada mesin EKG.

Selama tes EKG berlangsung, pasien harus berbaring diam di meja. Sementara mesin EKG akan merekam aktivitas listrik jantung dan menginformasikannya dalam bentuk grafik.

Pastikan pasien berbaring setenang mungkin dan bernapas dengan normal. Bahkan pasien dilarang berbicara selama melakukan tes EKG. Setelah tes EKG selesai, elektroda akan dilepas dan dibuang. Seluruh prosedur EKG ini biasanya memakan waktu sekitar 10 menit.

Bagaimana Kondisi Tubuh Setelah Elektrokardiogram?

Setelah EKG (Pixabay).jpg

Foto: pixabay.com

Setelah melakukan tes EKG, pasien bisa kembali melakukan aktivitas normal dan menjalani pola dietnya, kecuali jika dokter menyarankan sesuatu yang lain seperti istirahat.

Secara umum, tidak ada perawatan khusus setelah elektrokardiogram (EKG). Tapi, pasien perlu memberi tahu dokter jika mengalami gejala seperti misalnya, nyeri dada, sesak napas, pusing atau pingsan.

Biasanya dokter mungkin memberi instruksi khusus pada pasien setelah EKG. Tapi, hal ini tergantung kondisi tubuh diri sendiri.

Baca Juga: Alasan Mengapa Orangtua Harus Mengeluarkan Barang-Barang Elektronik dari Kamar Anak

Artikel Terkait