TRIMESTER 1
5 November 2019

6 Alarm Keguguran Palsu selama Kehamilan, Moms Wajib Tahu!

Ketahui perbedaannya, jangan sampai jadi penyebab stres
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dina Vionetta
Disunting oleh Dina Vionetta

Simak penjelasan tentang alarm keguguran palsu yang sering terjadi selama awal kehamilan. Tahap awal kehamilan sering kali menimbulkan cemas berlebihan. Terlebih bagi Moms yang memiliki riwayat keguguran.

Tetapi sering ada gejala atau situasi yang orang salah baca sebagai tanda keguguran.

Beberapa dari situasi ini memang membutuhkan pemantauan untuk memastikan kehamilan yang sehat.

Namun, tidak semua kekhawatiran yang umum dirasakan ibu hamil berujung pada keguguran.

Oleh karena itu, mengetahui perbedaannya dapat membantu meringankan stres dan kecemasan yang mungkin Moms rasakan karena alarm keguguran palsu ini, seperti yang sudah Orami rangkum penjelasan Krissi Danielsson, penulis buku After Miscarriage berikut ini.

1. Tes Darah hCG Rendah

Alarm Keguguran Palsu 01 - TES HCG RENDAH.jpg

Foto: babycentre.uk

Pada awal kehamilan, dokter akan menguji kadar hormon hCG (human chorionic gonadotropin) selama beberapa hari untuk menentukan apakah mereka meningkat sebagaimana mestinya.

Dalam artikel Reference ranges and determinants of total hCG levels during pregnancy: the Generation R Study yang diterbitkan oleh European Journal of Eidemiology, pada sebagian besar kehamilan normal, tingkat hCG naik berlipat ganda awal trimester pertama.

Sebaliknya, tes hCG tunggal jarang memberi tahu Moms apa pun. Jika Moms diberitahu bahwa level hCG rendah setelah tes pertama, jangan panik.

Itu mungkin berarti Moms berada di awal kehamilan. Pada akhirnya, bukan jumlah awal yang diamati dokter, tetapi bagaimana kadar tersebut naik selama kehamilan.

Namun, jika kadar hCG gagal naik atau turun, belum tentu itu bisa dibilang keguguran palsu. Waspadalah, itu bisa menjadi pertanda keguguran.

Baca Juga: Benarkah Berhubungan Seks dengan Suami saat Hamil Memicu Keguguran?

2. Bercak pada Kehamilan Dini

Alarm Keguguran Palsu 02 - Bercak Darah.jpg

Foto: babycentre.uk

Wajar untuk mengkhawatirkan bercak di awal kehamilan dan menghubungi dokter jika mengalami pendarahan apa pun.

Ada banyak penyebab bercak yang sangat normal. Sebab selama kehamilan, aliran darah ke serviks akan meningkat secara signifikan.

Bercak juga dapat terjadi ketika plasenta ditanamkan ke dalam rahim dan dianggap sebagai bagian normal dan sehat dari kehamilan.

Bahkan ketika diperiksa lebih dalam, tidak berarti bahwa ada masalah. Pemeriksaan mendalam hanya menunjukkan bahwa kondisi Moms dipantau secara ketat untuk berjaga-jaga.

“Banyak juga kok wanita yang mengalami bercak pada awal kehamilan melanjutkan untuk melahirkan bayi yang normal dan sehat,” kata Danielsson.

3. Kram

Alarm Keguguran Palsu 03 - Kram.jpg

Foto: familydoctor.org

Sama halnya dengan bercak, kram dapat terjadi pada kehamilan awal dan tidak selalu berarti ada masalah. Tentu saja, pada tahap awal kehamilan, kram dapat berkembang saat plasenta menanamkan rahim meskipun biasanya ringan dan berumur pendek.

Rasa sakit yang disertai pendarahan adalah masalah lain dan perlu segera diselidiki.

Meski begitu, jika kram yang Moms rasakan sangat parah, dengan atau tanpa perdarahan, sebaiknya segera periksa ke dokter secepat mungkin.

Terutama jika kram disertai dengan sakit perut atau punggung bagian bawah. Sebab, ini mungkin merupakan tanda kehamilan ektopik.

Baca Juga: Catatan untuk Para Suami yang Menemani Istri Setelah Keguguran

4. Gejala Kehamilan Tiba-tiba Hilang

Alarm Keguguran Palsu 04 - Gejala Kehamilan Hilang.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Cukup normal jika gejala kehamilan berfluktuasi dari hari ke hari selama awal kehamilan dan kadang-kadang hilang sama sekali. Ini bisa jadi hanya tanda keguguran palsu semata.

“Hilangnya gejala kehamilan seperti nyeri payudara, kembung, perubahan suasana hati, dan mengidam makanan tidak selalu merupakan tanda masalah, terutama jika Moms mendekati 12 minggu kehamilan,” kata Danielsson.

Namun, jika Moms tiba-tiba tidak memiliki gejala sama sekali, itu bisa menjadi pertanda keguguran. Segera temui dokter, ya!

5. Tidak Ada Mual

Alarm Keguguran Palsu 05 - Tidak Ada Mual.jpg

Foto: healthline.com

Morning sickness adalah tanda kehamilan yang wajar. Namun, tidak adanya gejala morning sickness bukan berarti kehamilan Moms akan berakhir.

Faktanya, sekitar sepertiga wanita tidak pernah mengalami gejala mual muntah sama sekali.

6. Hasil Ultrasound Tidak Konklusif

Alarm Keguguran Palsu 06 - Hasil USG Tidak Kondusif.jpg

Foto: verywellfamily.com

Bukan hal yang aneh jika USG awal menimbulkan kekhawatiran jika hasilnya gagal menunjukkan apa yang diharapkan.

Dalam beberapa kasus, mungkin tidak ada detak jantung janin atau kutub janin, atau pengukuran tidak sesuai dengan perkiraan tanggal jatuh tempo.

Dalam banyak kasus, perkiraan tanggal itu tidak benar, dan bayinya jauh dari perkiraan sejauh yang Moms duga.

Meskipun mungkin frustasi untuk disuruh kembali lagi nanti untuk memeriksanya lagi, Moms seharusnya tidak perlu khawatir. Pada akhirnya, semua yang diperlukan adalah perhitungan ulang tanggal jatuh tempo.

Nah, pada beberapa kasus, ada sebagian wanita yang memang terancam keguguran.

Yakni, wanita yang mengalami beberapa tingkat perdarahan, tetapi leher rahim tetap tertutup dan USG menunjukkan bahwa jantung bayi masih berdetak.

Dikutip dari artikel Common problems associated with early and advanced pregnancy karya Crafter H, Brewster, dalam buku Myles Textbook for Midwives, keguguran spontan terjadi ketika embrio tidak berkembang sebagaimana mestinya. Masalah kromosom dianggap sebagai penyebab paling umum dari kegagalan berkembangnya embrio.

Kadang penyebabnya juga tidak jelas dan bisa terjadi kembali di kehamilan berikutnya.

Tanda-tanda awal dan gejala keguguran yang paling umum adalah perdarahan vagina dan kram perut yang cukup kuat. Sisanya bisa benar menunjukkan bahwa itu adalah keguguran, namun bisa jadi hanya alarm keguguran palsu.

Perdarahan dapat bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat. Segera periksakan diri ke dokter jika Moms mengalaminya.

Baca Juga: Cara Mengatasi Trauma Pasca Keguguran

(CIL/DIN)

Artikel Terkait