PARENTING
19 September 2019

Ajak Anakku BLW di Masa MPASI, Begini Kunci Makan dengan Bahagia

Saya dan suami mengubah pola pikir hingga berani melakukan BLW pada Si Kecil
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Keywidya (Ummu Faqih) (29 th), Ibu dari Faqih Salim Ibrahim (22 bln), Member WAG Toddler (4).

Saya tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya memiliki anak yang doyan makan. Faqih Salim Ibrahim, biasa dipanggil Faqih, adalah anak laki-laki yang punya semangat anti lelah, anti baper, tetapi tukang lapar.

Sejak mulai memasuki masa MPASI, aku mengenalkan Faqih dengan 2 versi pola makan:

  • Menu campur, yang biasanya memakai resep hasil browsing atau sistem ATM (Amati Tiru Modifikasi) dari resep di Instagram.
  • BLW (Baby Lead Weaning), yang menunya saya pilih sendiri berdasarkan insting.

Baca Juga: Minat Beli Rumah Subsidi? Pelajari Kelebihan dan Kekurangannya!

Tidak Ada Keraguan Melakukan BLW

IMG_20190122_113018_HHT_2.jpg

Foto: Orami/Keywidya

Beberapa teman mungkin menanyakan, apakah tidak takut tersedak ketika melakukan BLW untuk anak.

Pada dasarnya, aku dan suami memang tidak membesarkan rasa takut untuk mencoba sesuatu yang kami anggap baik, kami mulai dengan mengubah pola pikir "takut" dengan "baik-baik saja".

Artinya, supaya "baik-baik saja", kami mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Seperti menu makanannya, tempat, waktu, dan selalu menemani Si Kecil saat makan.

Alasan lain mencoba BLW, karena kami melihat Faqih sudah mampu untuk melakukannya.

  • Ia sudah bisa duduk tegap
  • Leher dan kepala sudah mengangkat tegak
  • Kemampuan mengunyah Faqih sudah mantap

Baca Juga: Tips Pintar jadi Orang Tua Baru Zaman Now

Menu BLW di Bulan Pertama

IMG-20190313-WA0006.jpg

Foto: Orami/Keywidya

Penting memilih makanan yang memiliki warna menarik, bayi biasanya suka dengan warna-warna cerah. Selain itu, aku memilih buah-buahan yang memiliki tekstur lembut untuk meminimalisasi bayi tersedak.

Misalnya, seperti buah naga, avokad, pisang, pepaya, melon, dan semangka.

Sementara untuk sayuran dikukus atau direbus. Beberapanya seperti labu, wortel, buncis, kacang panjang, dan kentang.

Di bulan pertama, sangat penting memerhatikan tekstur, agar hasilnya tidak hancur saat dipegang tapi tidak terlalu keras ketika dikunyah. Lambat laun, mulai keraskan teksturnya.

Hal ini akan membantu meningkatkan kemampuan mengunyah anak. Faqih yang belum tumbuh gigi saat itu bisa lihai makan dengan lidah dan gusinya. Percayalah, anak itu merupakan pembelajar yang baik.

Bulan-bulan selanjutnya, menu BLW-nya mulai ditambah telur puyuh, apel potong, pir potong, juga mentimun.

Baca Juga: OMG! Ternyata Saya Mengalami Blighted Ovum alias Kehamilan Kosong

Good Food Good Mood

IMG_20190126_152849-2.jpg

Foto: Orami/Keywidya

"Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat."

Kata-kata di atas aku jadikan pendorong semangat untuk mengatur pola hidup sehat, iman yang kuat, finansial yang mantap, semuanya dimulai dari rumah.

"Strong from home," kalau kata salah satu motivator di Bandung.

Berikut tips supaya menjaga mood tetap good.

1. Pilih Good Food

Ini penting. Memilih makanan yang baik sudah pasti punya dampak yang baik untuk tubuh. Kalau makanan yang masuk tidak sehat, akan memengaruhi suasana hati yang juga bisa asal-asalan.

Minimal kurangi fast food, stop menggunakan MSG. Moms bisa membuat kaldu alami dari ayam atau jamur.

2. Konsumsi Buah Setiap hari

Sudah tidak ada alasan untuk susah makan buah ya, Moms. Sekarang sudah banyak minimarket yang menjual buah potong, banyak tukang rujak, dan itu masih murah dengan kisaran harga Rp3.000 sampai Rp8.000.

Bahkan, sekarang ada yang menjual jus buah segar tanpa pengawet atau pemanis.

3. Bawa Tumbler dan Tempat Makan Sendiri

Bumi butuh kita, kita butuh bumi. Bumi aja disayangi, apa lagi suami.

4. Bawa Bekal dari Rumah

Kalau kami biasanya keluar rumah lebih dari 3 jam, kami usahakan untuk membawa bekal.

Selain hemat, rasanya jelas lebih terjaga, apalagi kalau kita memasak, menyiapkan bahkan, sampai memasukkan bekal yang dibuat dengan doa dan cinta yang tiada terkira ke dalam tas.

Anak dan suami mana yang tidak semakin menempel. Ya, enggak sih, Moms?

Kalau tidak sempat membawa makanan berat, minimal bawakan camilan buah.

Apa yang paling penting dari semuanya adalah, Moms harus bahagia.

Kenapa? Karena ibu yang bahagia bisa menyebarkan kebahagiaannya kepada suami dan anaknya.

Nah, itulah pengalaman sekaligus tips dari saya agar MPASI Si Kecil lancar. Semoga bermanfaat ya Moms!

Artikel Terkait