PARENTING
24 Juli 2019

Anak Terlambat Bicara VS Anak Banyak Bicara: Saya Merasakan Keduanya

Percaya, deh, keduanya sama-sama menguras energi. Tapi saya bangga karena bisa sukses menangani keduanya. Hore!
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Sharing dari: Gladys Siregar, Mom dari Rudolf Arlo Palar (5 tahun) dan Jeane Alula Palar (3 tahun).

Masih teringat di benak saya, saat Arlo berusia dua tahun, Dokter Anak menemukan ia mengalami keterlambatan bicara. Hanya tiga kata yang baru bisa Arlo ucapkan dengan jelas saat itu, yaitu: Mama, Papa, dan Thomas. Ya, saya akui, kami banyak memberinya nonton film anak dengan tema kereta api bernama Thomas & Friends sejak usianya satu tahun. Saat itu, suami saya yang juga kolektor mainan kereta mungkin terlalu bersemangat menemukan anak lelakinya memiliki ketertarikan yang sama dengan hobinya. Sehingga melihatnya sangat antusias menonton Thomas, kami pun jadi sering membiarkan Arlo menonton. Tak pernah kami kira ini jadi memicu Arlo jadi terlambat bicara.

Kebiasaan Menonton Yang Sulit Lepas

1 Kebiasaan Menonton Yang Sulit Lepas.jpeg

Pengalaman pertama memiliki anak, membuat kami tidak terlalu peka dengan himbauan untuk tidak memberikan anak tontonan sejak usia dini. Saat itu, di pikiran saya pribadi adalah Arlo menonton tidak seharian terus menerus. Ia masih bermain dan jalan sore, sehingga saya merasa stimulasinya cukup. Namun, ternyata tidak dan Arlo yang terlambat bicara pun dirujuk untuk menjalani terapi di klinik tumbuh kembang oleh Dokter anak kami. Setelah berkonsultasi untuk pertama kali dengan Dokter di klinik tumbuh kembang, hal yang menjadi tugas utama kami adalah Arlo harus berhenti menonton, untuk mengatasi masalah terlambat bicara. Wow, cukup luar biasa tantangannya!

Hari pertama mencoba melepaskan Arlo dari kebiasaannya menonton adalah ujian terberat untuk saya, mengalahkan ujian akhir tahun semasa sekolah dulu! Haha. Hari itu berisi tangisan, teriakan, rengekan, dan kekesalan tiada henti yang baru mulai terasa hening saat Arlo tidur karenan kelelahan. Tapi jangan senang dulu, drama babak kedua pun akan berlanjut sesaat ia bangun dan kembali ingat. Bahkan Arlo sampai menolak makan sama sekali di pagi dan siang hari, karena tidak boleh menonton. Tapi memang ia masih minum beberapa botol susu saat tidur siang. Di malam harinya, saya pun tak kuasa memberinya nonton kembali hanya untuk membuatnya makan. Cara ini pun akhirnya kami terapkan pada Arlo, bahwa ia hanya boleh nonton saat makan dan dengan durasi tidak lebih dari satu jam.

Sekolah Dini Sebagai Stimulasi

2 Sekolah Dini Sebagai Stimulasi.jpeg

Sembari menjalani terapi wicara di klinik tumbuh kembang, kami juga memilih untuk mulai menyekolahkan Arlo di usia dua tahun. Alasannya, supaya Arlo diberi stimulasi dan bisa mulai bersosialisasi. Awalnya kami menyekolahkan Arlo di sebuah preschool dengan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Namun atas rekomendasi Dokter di klinik tumbuh kembang, akhirnya kami beralih ke sekolah berbahasa Indonesia (bahasa sehari-hari yang digunakan Arlo). Kami memilih untuk memindahkan Arlo ke sekolah swasta berbasis agama Katolik dengan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Saya sempat khawatir menyekolahkan Arlo di sini, karena saat itu ia belum bisa bicara. Namun rupanya Arlo sangat menikmati waktunya di sekolah. Tidak pernah ada drama menolak berangkat sekolah, takut atau malu di hari pertama sekolah dan hari-hari selanjutnya. Perlahan saya mulai melihat perkembangan Arlo setelah masuk sekolah (dan tentu dengan bantuan terapi). Suku kata-nya semakin bertambah dan mulai dapat berkomunikasi dua arah dengan lebih baik. Bahkan dalam beberapa kesempatan, saya sering menangkap dengar Arlo menyanyi (meski kata-kata yang diucapkan ada yang belum jelas). Namun sudah ada nada disertai gerak yang mungkin ia pelajari di sekolah. Senangnya saya dan suami melihat kemajuan Arlo!

Adik Sebagai Teman Bicara

3 Adik Sebagai Teman Bicara.jpeg

Selain mengikuti terapi dan sekolah, stimulasi yang mungkin juga cukup membantu Arlo lebih lancar bicara adalah sang adik, Alula. Kami sering memanggilnya si bawel atau ceriwis. Ibarat saya sering kewalahan untuk membuat Arlo bicara, di lain sisi saya sering kewalahan menanggapi Alula dengan 1001 pertanyaan yang dia lontarkan setiap hari. Buah kesabaran saya pun mulai terlihat dengan perkembangan Arlo yang dulunya terlambat bicara jadi semakin lancar bicara, bahkan jadi sangat banyak bercerita menyaingi adiknya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana saat dua anak ini mengajak saya bicara secara bersamaan dengan topik yang berbeda dan mereka berharap mendapatkan respon pertama dari saya (dengan sedikit memaksa). Saya rasa Moms yang memiliki anak dua atau lebih pasti pernah mengalami fenomena ini.

Namun saya selalu ingat pesan Mama saya: ‘jangan mengeluh, harus selalu bersyukur’ dan nasihat ini selalu saya jadikan pedoman dalam menghadapi keunikan dua anak kami.

Artikel Terkait