KESEHATAN
1 Januari 2020

Anemia Aplastik: Ini Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Hanya terjadi 2 kasus per satu juta populasi per tahunnya
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Dina Vionetta

Moms mungkin sudah familiar dengan anemia, yang menurut World Health Organization (WHO) merupakan salah satu kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kapasitas membawa oksigen tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis.

Tetapi, ada juga bentuk kondisi lain yaitu anemia aplastik, yang memiliki definisi berbeda dari anemia pada umumnya. Ketahui penyebab, gejala, dan penanganan dari anemia aplastik.

Penyebab Anemia Aplastik

anemia aplastik-1.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Anemia aplastik adalah kegagalan sumsum tulang (yang berfungsi sebagai pabrik darah) dalam membuat darah, sehingga kadar sel-sel darah menjadi turun. Baik itu sel darah merah, sel darah putih, atau sel darah trombosit. 

"Gangguan ini bisa memengaruhi dua jenis sel darah (bisitopenia) atau mengenai semua jenis sel darah (pansitopenia)," jelas dr. Toman Tua Julian Lumban Toruan, Sp. PD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik di RS Pondok Indah - Pondok Indah dan Bintaro Jaya.

Ada beberapa penyebab terjadinya anemia aplastik pada seseorang. Penyebabnya termasuk:

  • Faktor genetik
  • Pemakaian obat dalam jangka panjang untuk mengobati kondisi medis tertentu
  • Paparan terhadap zat kimia, seperti pestisida dan senyawa aromatik seperti benzena
  • Infeksi virus seperti parvovirus, Epstein Barr virus, HIV, CMV (citomegalovirus), flavivirus
  • Adanya paparan terhadap zat radioaktif
  • Penyakit autoimun
  • Adanya kanker lain

Baca Juga: Sebelum Terjadi, Ini 7 Cara Mencegah Anemia

Gejala Anemia Aplastik

anemia aplastik-4.jpg

Foto: verywellmind.com

Mengutip National Heart, Lung, and Blood Institute dijelaskan beberapa gejala anemia aplastik termasuk kelelahan, infeksi yang berlangsung lama, dan mudah memar atau berdarah.

Kadar sel darah yang rendah juga meningkatkan risiko komplikasi seperti perdarahan, leukemia, atau gangguan darah serius lainnya.

Lebih lanjut, dr. Toman menjelaskan bahwa gejala anemia aplastik yang muncul itu tergantung dari jenis sel darah yang terganggu.

"Jika gangguan mengenai sel darah merah maka gejalanya kelelahan berlebih, sesak, dan pucat. Pada gangguan sel darah putih, gejalanya infeksi berat, sariawan berulang, infeksi paru berulang. Jika gangguan mengenai sel darah trombosit, gejalanya terjadi perdarahan spontan, baik di kulit maupun di organ-organ tubuh lainnya," jelas dr. Toman.

Gejala-gejala di atas umumnya terjadi bersamaan dengan derajat yang berbeda-beda. Tanpa pengobatan, anemia aplastik dapat menyebabkan kondisi medis yang serius seperti aritmia dan gagal jantung.

Baca Juga: Anemia pada Ibu Hamil: Gejala, Penyebab, Pengobatan, dan Cara Mencegah

Perbedaan Anemia Aplastik dengan Anemia Biasa

anemia aplastik-2.jpg

Foto: health.clevelandclinic.org

Meskipun memiliki kata "anemia", tetapi ada perbedaan antara anemia aplastik dan anemia biasa. Dokter Toman menjelaskan, terjadinya anemia biasa yaitu karena kekurangan zat besi.

"Anemia biasa umumnya disebabkan kekurangan zat besi, tanpa adanya gangguan sumsum tulang. Anemia bisa juga membaik setelah pasien mengonsumsi tablet zat besi," terang dr. Toman.

Sementara, pada kondisi anemia aplastik, disebabkan oleh gangguan sumsum tulang, sehingga perlu pengobatan yang diarahkan untuk memperbaiki sumsum tulang sebagai pabrik darahnya.

Faktanya, kasus anemia aplastik ini termasuk dalam penyakit yang cukup langka. Melansir North American Journal of Medical Sciences, kasus anemia aplastik tahunan terjadi sekitar 2 kasus per satu juta populasi.

Selain itu, anemia aplastik 2-3 kali lebih umum terjadi di Asia daripada di Barat. Kelompok yang mengalami anemia aplastik paling sering pada usia 15 dan 25 tahun.

Baca Juga: Anemia Aplastik Pada Bayi, Bagaimana Gejala dan Pengobatannya?

Penanganan Anemia Aplastik

anemia aplastik-3.jpg

Foto: healthline.com

Dalam jurnal Haematologica, perawatan suportif terhadap anemia aplastik tidak hanya terbatas pada transfusi sel darah merah, tetapi juga perlu kontrol perdarahan dan manajemen infeksi.

Jika diperlukan, pengobatan anemia aplastik juga termasuk penekanan kekebalan, atau transplantasi sumsum tulang yang menantang.

"Anemia aplastik diobati dengan transplantasi sumsum tulang allogenik (memakai donor sumsum tulang dari orang lain yang cocok). Jika pasien tidak dapat menjalaninya, maka pengobatannya dengan tranfusi darah berulang serta obat-obat imunosupresan," jelas dr. Toman.

Itu dia Moms, penjelasan tentang penyebab, gejala, dan penanganan penyakit anemia aplastik secara detail.

Artikel Terkait