KEHAMILAN
20 Juli 2020

Apakah Level AMH Pengaruhi Peluang Hamil?

Terlalu tinggi berkaitan dengan PCOS
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Reksita
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Istilah Anti-Mullerian hormone (AMH) mungkin masih asing bagi Moms. Namun, sebenarnya istilah yang satu ini penting untuk diketahui oleh wanita, terutama yang selama ini sulit hamil.

Pasalnya, banyak penelitian yang menemukan bahwa level AMH pengaruhi peluang kehamilan.

Apa Itu Anti-Mullerian Hormon (AMH)?

Apakah Level AMH Pengaruhi Peluang Hamil? 1

Foto: novaivffertility

Dalam laman Reproductive Medicine Association (RMA) Connecticut dijelaskan bahwa AMH adalah hormon yang dikelurkan oleh folikel kecil di ovarium wanita.

Saat ini telah banyak dokter yang menggunakan hormon ini untuk mememeriksa jumlah dan kualitas telur yang tersedia di ovarium, melalui tes hormon AMH.

Baca Juga: Hal-hal Yang Harus Diperhatikan saat Program Hamil

Berapa Level AMH Yang Dianggap Normal?

Apakah Level AMH Pengaruhi Peluang Hamil? 2

Foto: endocrinologyadvisor.com

Flo Health menyebutkan bahwa pada wanita sehat, kadar hormon AMH awalnya terus mengalami peningkatan hingga mencapai usia dewasa awal.

Akan tetapi, kadar tersebut perlahan-lahan menurun seiring dengan bertambahnya usia hingga sama sekali tidak terdeteksi, yang terjadi sekitar 5 tahun sebelum menopause.

Adapun kisaran level AMH pada wanita lebih lanjut dapat Moms simak di bawah ini:

  • Di atas 3,0 ng/ml : Terlalu tinggi dan dikaitkan dengan PCOS
  • Di atas 1,0 ng/ml : Normal
  • 0,7 - 0,9 ng/ml : Di bawah rata-rata
  • 0,3 - 0,6 ng/ml : Rendah
  • Kurang dari 0,3 ng/ml : Sangat rendah

Moms dapat melakukan tes hormon AMH untuk mengetahui level AMH dalam tubuh Moms.

Baca Juga: Apakah Kesibukan Pekerjaan Dapat Memengaruhi Program Hamil?

Benarkah Level AMH Pengaruhi Peluang Kehamilan?

Apakah Level AMH Pengaruhi Peluang Hamil? 3

Foto: pixabay.com

Menurut Yale Medicine, level AMH dalam darah wanita dapat membantu dokter memperkirakan jumlah folikel di dalam ovarium. Semakin banyak folikel yang dimiliki, semakin banyak pula sel telur yang bisa dilepaskan dan semakin baik peluang kehamilan seorang wanita.

“Ada rentang normal, lalu ada yang dianggap terlalu tinggi. Itu (tinggi) sering menunjukkan sesuatu seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS),” kata B. Seifer, MD, seorang spesialis REI yang menemukan AMH dalam cairan folikel wanita pada tahun 1993, seperti dikutip dari Yale Medicine. “Sedangkan terlalu rendah bisa berarti seorang wanita sedang mengalami proses penuan dini atau menopause prematur.”

Baca Juga: 4 Jenis Makanan yang Harus Dikonsumsi Saat Menjalani Program Hamil

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Endocrynology, Diabetes and Obesity juga menemukan kaitan antara level AMH dengan peluang kehamilan. Di mana studi yang dilakukan pada 98 wanita tersebut menunjukkan bahwa level AMH yang kurang dari 0,7 ng/ml berkaitan dengan peluang keberhasilan pembuahan yang lebih rendah.

Sementara penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Reproductive Biomedicine Online menemukan bahwa tingkat kehamilan klinis pada wanita di bawah 34 tahun yang melakukan IVF tidak terpengaruh oleh level AMH. Pada saat yang sama, wanita yang berusia 42 tahun atau lebih memiliki prognosis buruk, terlepas dari level AMH masing-masing pasien.

Hal tersebut membuat peneliti beranggapan bahwa level AMH hanya mempengaruhi peluang kehamilan pada wanita yang berusia antara 34 hingga 41 tahun.

Baca Juga: 3 Hal yang Perlu Dibicarakan dengan Pasangan Sebelum Memulai Program Hamil

Nah Moms, ternyata sedikit banyak memang benar bahwa level AMH pengaruhi peluang kehamilan. Namun, jangan langsung memutuskan penyebab yang membuat Moms belum juga diberi momongan tanpa memeriksakan diri ke dokter, ya.

Temui dokter dan lakukan konsultasi serta pemeriksaan untuk mengetahui penyebab hingga penanganan yang tepat.

Artikel Terkait