NEWBORN
13 September 2020

Shaken Baby Syndrome, Sindrom Bayi Terguncang yang Berbahaya

Perlunya perhatian khusus saat menyentuh atau menggendong bayi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Pernahkah Moms mendengar tentang shaken baby syndrome? Shaken baby syndrome adalah cedera yang menyebabkan kerusakan otak serius akibat mengayun atau mengguncang bayi terlalu keras.

Shaken baby syndrome merupakan salah satu bentuk kekerasan pada anak. Guncangan dapat disengaja, misalnya karena orangtua atau pengasuh tidak sabar, marah, lelah, atau kecewa bila bayi atau anak rewel, sering menangis, atau tidak melakukan hal yang diharapkan.

Baca Juga: 15 Kelainan Jantung Bawaan Pada Bayi, Moms Sudah Tahu?

“Guncangan dapat juga dilakukan tidak sengaja, misalnya saat bermain bayi diayun terlalu kuat atau dilempar ke udara,” jelas dr. Rosary, Dokter Spesialis Anak RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Untuk mengenal tentang shaken baby syndrome lebih lanjut, simak penjelasan di bawah ini yuk, Moms.

Bahaya Shaken Baby Syndrome

shaken baby syndrome

Foto: healthline.com

Mengguncang bayi sangat berbahaya karena otot leher bayi belum kuat dan ukuran kepala bayi relatif lebih besar dibandingkan dengan tubuhnya, sehingga kepalanya bergerak atau berputar kuat.

Ketika diguncang, otak bayi bergerak ke depan dan belakang membentur tulang kepala. Hal ini menyebabkan robeknya pembuluh darah dan saraf otak, menyebabkan perdarahan otak dan kerusakan saraf.

Selain itu otak dapat menjadi lebam dan bengkak sehingga aliran oksigen dan nutrisi terganggu, dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Shaken baby syndrome dapat menyebabkan kerusakan otak ringan sampai berat, yang berlangsung sementara ataupun jangka panjang. Bila terjadi kerusakan otak berat, Si Kecil dapat mengalami kejang, penurunan kesadaran, sampai henti napas.

Jika hal ini terjadi, maka bayi memerlukan penanganan perawatan intensif dan bahkan tindakan pembedahan tergantung dari perdarahan atau kerusakan yang terjadi pada otak.

Baca Juga: 5 Ide Stimulasi Otak Bayi Agar Si Kecil Tumbuh Jadi Anak Pintar

“Kerusakan pada otak dapat bersifat permanen, misalnya kerusakan yang berdampak pada kebutaan parsial atau total, gangguan pendengaran, kejang berulang, keterlambatan perkembangan, gangguan bicara, gangguan belajar, gangguan memori dan fokus,” ujar dr. Rosary.

Apabila terdapat dampak tersebut, maka perlu diberikan penanganan multidisiplin jangka panjang, misalnya kontrol rutin ke dokter spesialis anak konsultan saraf anak, fisioterapi oleh fisioterapis/dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, dokter spesialis mata atau THT, sesuai kelainan yang terjadi.

Dampak dari Shaken Baby Syndrome

Shaken baby syndrome juga sering terjadi ketika orang tua merasa kesal dan marah pada buah hati. Perilaku ini juga bisa terjadi ketika Anda sedang merasa frustasi dan depresi sehingga anak-anaklah yang menjadi sasarannya.

Ketika kepala bayi diguncang ke depan dan belakang, otak mereka terguncang dan membentuk tulang tengkorak, pembusukan pada bagian otak terjadi sehingga muncul bengkak dan pendarahan disana.

Keadaan otak yang memburuk ini bisa terjadi pada kali pertama kepala anak diguncang dengan keras. Efek dari kerusakan otak tersebut adalah pendarahan pada retina dan menurunnya tingkat kesehatan mata sehingga sangat sensitif terhadap sinar.

Anak yang telah mengalami shaken baby syndrome tidak hanya mengalami gangguan kesehatan pada otak saja namun juga tulang leher sehingga mengalami pembengkokan. Buruk tidaknya pembengkokan tulang leher ini tergantung separah apa anak tersebut terguncang.

Tingkat guncangan yang cukup parah bisa menyebabkan menurunnya kesehatan anak dari segi fungsi pendengaran, berbicara, tidak mampu belajar dengan normal, masalah tingkah laku, kekurangan mental dan masih banyak lagi. Hal ini terjadi karena otak merupakan pusat dari semua organ tubuh agar berfungsi dengan baik.

Apakah guncangan seperti ketika sedang bermain akan merusakan kesehatan otak anak? Bisa jadi. Orang tua juga sering mengguncang tubuh bayi ketika bermain bersama untuk menggodanya.

Kemungkinan kerusakan otak saat bermain memang kecil. Namun ada baiknya ketika Anda sedang bermain dengan buah hati, kurangi aktivitas mengguncang, mengayunkan badan si kecil apalagi jika ia masih berusia kurang dari 5 tahun. Perhatikan cara Anda bercengkrama dengan putra tercinta karena kesehatan anak jauh lebih penting dari apapun, kan?

Gejala Shaken Baby Syndrome

mengatasi shaken baby syndrome

Foto: Orami Photo Stock

Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), spektrum gejala shaken baby syndrome sangat luas, dari gejala ringan sampai sangat berat. Gejala ringan yang tidak spesifik umumnya tidak disadari oleh dan membaik seiring waktu.

Sindrom yang sangat berat dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, sampai kematian. Sesaat setelah guncangan hebat, anak umumnya menjadi rewel atau cenderung banyak tidur, muntah-muntah, dan tidak mau makan. Gejala ini dapat menetap selama beberapa hari atau beberapa minggu.

Perdarahan otak dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, muntah, malas menyusui, dan kontak yang berkurang. Kerusakan otak berat dapat menyebabkan gangguan pernapasan sampai henti napas.

Gejala yang tidak spesifik dan kerusakan otak yang tidak terdeteksi dapat berlangsung lama tanpa diketahui namun menyebabkan gangguan belajar atau gangguan perilaku saat anak lebih besar.

Shaken baby syndrome sering disertai cedera mata dan cedera tulang. Cedera mata yang sering ditemui adalah perdarahan retina pada satu atau kedua mata. Perdarahan di dalam mata mungkin sulit terdeteksi karena keterbatasan bayi untuk mengeluhkan gangguan penglihatan.

Cedera tulang di tempat lain sering menyertai shaken baby syndrome akibat kekerasan yang disengaja, terutama patah tulang pada iga, lengan, dan tungkai. Adanya memar atau luka di bagian tubuh yang tidak biasa atau berulang mendukung adanya kekerasan.

Untuk mendiagnosis shaken baby syndrome, perlu wawancara mendalam dengan orang yang mengasuh anak sehari-harinya. Mungkin diperlukan pemeriksaan penunjang seperti CT scan atau MRI kepala untuk mendeteksi kerusakan otak dan perdarahan.

Foto Rontgen dapat membantu mengkonfirmasi patah tulang. Pemeriksaan mata juga diperlukan untuk mencari perdarahan retina.

Mengatasi Shaken Baby Syndrome

Beberapa bayi akan berhenti bernapas setelah diguncang. Jika ini terjadi, CPR dapat membuat bayi kembali tetap bernapas saat Moms menunggu tenaga medis datang.

American Red Cross merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk melakukan CPR:

  • Letakkan bayi telentang dengan hati-hati. Jika Moms mencurigai adanya cedera tulang belakang, sebaiknya dua orang menggerakkan bayi dengan lembut agar kepala dan lehernya tidak memelintir.
  • Atur posisi kita. Jika bayi di bawah usia 1 tahun, letakkan dua jari di tengah tulang dada. Jika anak berusia di atas 1 tahun, letakkan satu tangan di tengah tulang dada. Letakkan tangan yang lain di dahi bayi agar kepalanya tetap miring ke belakang. Bila Moms menduga terjadi cedera tulang belakang, tarik rahang ke depan daripada memiringkan kepala, dan jangan biarkan mulut menutup.
  • Lakukan kompresi dada. Tekan tulang dada dan dorong sekitar setengah jalan ke dada. Berikan 30 kompresi dada tanpa jeda sambil menghitung dengan suara keras. Kompresi harus kuat dan cepat.
  • Berikan napas buatan. Periksa pernapasan setelah kompresi. Jika tidak ada tanda-tanda pernapasan, tutupi mulut dan hidung bayi dengan mulut kita. Pastikan jalan napas terbuka dan berikan dua tarikan napas. Setiap napas harus berlangsung sekitar satu detik untuk membuat dada terangkat.
  • Lanjutkan CPR. Lanjutkan siklus 30 kompresi dan dua napas buatan sampai bantuan tiba. Pastikan untuk terus memeriksa pernapasan.
  • Dalam beberapa kasus, bayi bisa saja muntah setelah diguncang. Untuk mencegah tersedak, gulingkan bayi dengan lembut ke samping. Pastikan untuk menggulung seluruh tubuhnya pada saat bersamaan. Jika ada cedera tulang belakang, metode menggulung ini mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut pada tulang belakang. Penting bagi Moms untuk tidak menggendong bayi atau memberi bayi makanan atau air.

Baca Juga: 6 Manfaat Menggendong Bayi untuk Kesehatan, Luar Biasa!

Tidak ada obat untuk mengobati shaken baby syndrome. Dalam kasus yang parah, pembedahan mungkin diperlukan untuk mengobati pendarahan di otak. Ini mungkin melibatkan penempatan shunt, atau tabung tipis, untuk mengurangi tekanan atau untuk mengalirkan darah dan cairan berlebih.

Operasi mata juga mungkin diperlukan untuk mengeluarkan darah sebelum mempengaruhi penglihatan secara permanen.

Artikel Terkait