KESEHATAN
19 Juni 2020

Battered Woman Syndrome, Kondisi yang Dialami Wanita Korban KDRT

Perhatikan gejala-gejalanya!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Intan Aprilia

Selama 30 tahun, bidang kesehatan mental telah mengidentifikasi bahwa wanita sering menjadi korban kekerasan pasangan.

Artinya, bisa dipahami kalau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah bagian dari kekerasan gender.

Sebab, banyak perempuan daripada laki-laki yang menjadi korban kekerasan fisik, seksual, dan psikologis.

Bahkan ketika perempuan menyerang balik atau terlibat dalam kekerasan timbal balik, biasanya perempuan yang lebih mungkin terluk, baik secara fisik maupun emosional.

Perempuan yang melakukan penyerangan balik untuk membela diri juga sering dituduh sebagai penganiaya.

Pada beberapa pria dilansir dari Psychiatric Times, kondisi ini justru dimanfaatkan untuk menyalahgunakan kekuasaan dan mengendalikan wanita.

Pada akhirnya, gejala psikologis yang disebut battered woman syndrome (BWS), berkembang pada beberapa wanita dan menyulitkan mereka untuk mendapatkan kembali kontrol.

Apa Itu Battered Woman Syndrome (BWS)?

Battered Woman Syndrome - apa itu Battered Woman Syndrome.jpg

Foto: shutterstock.com

Battered woman syndrome atau sindrom wanita babak belur adalah kondisi psikologis yang dapat berkembang ketika seseorang mengalami pelecehan, biasanya terjadi di tangan pasangan.

Orang-orang yang berada dalam situasi KDRT seringkali tidak merasa aman atau bahagia.

Namun, mereka mungkin merasa tidak bisa pergi karena berbagai alasan.

Beberapa alasannya mungkin termasuk ketakutan dan keyakinan bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.

Sementara itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebut pelecehan ini bisa memengaruhi semua orang dari segala jenis kelamin, usia, kelas sosial atau pendidikan.

Baca Juga: 8 Alasan Kenapa Korban KDRT Sulit Meninggalkan Rumah

Psikoterapis Lenore Walker mengembangkan konsep sindrom wanita babak belur pada akhir 1970-an.

Walker ingin menggambarkan pola unik perilaku dan emosi yang berkembang ketika seseorang mengalami pelecehan dan ketika mereka mencoba bertahan hidup dari situasi tersebut.

Walker mencatat bahwa pola perilaku dari pelecehan sering menyerupai orang-orang dari gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Dia menggambarkan sindrom wanita babak belur sebagai subtipe PTSD.

Gejala Battered Woman Syndrome

Battered Woman Syndrome - gejala Battered Woman Syndrome.jpg

Foto: shutterstock.com

Menurut Koalisi Nasional Anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (NCADV), seseorang yang mengalami pelecehan dapat:

  1. Merasa terisolasi, cemas, tertekan, atau tidak berdaya.
  2. Malu atau takut terhadap penilaian dari orang lain.
  3. Mencintai orang yang melecehkan mereka dan percaya bahwa orang itu akan berubah.
  4. Menyangkal bahwa ada yang salah atau memaafkan pelaku.
  5. Memiliki alasan moral atau agama untuk tetap bertahan dalam hubungan.
  6. Percaya bahwa pelaku itu kuat atau tahu segalanya.
  7. Percaya bahwa mereka pantas mendapatkan pelecehan.

Sedangkan, dampak dari KDRT berlanjut lama setelah meninggalkannya.

Dalam beberapa waktu, orang tersebut bisa mengalami masalah tidur (termasuk mimpi buruk), tiba-tiba merasa terganggu ketika ingat tentang pelecehan yang mereka terima, menghindari situasi yang mengingatkan mereka akan kekerasan, memiliki perasaan takut yang intens, serta memiliki serangan kepanikan.

Baca Juga: Tanda Kekerasan dalam Rumah Tangga yang Wajib Moms Ketahui

Kekerasan fisik juga dapat menyebabkan cedera seperti kerusakan organ, patah tulang, dan kehilangan gigi. Terkadang, cedera ini bisa berlangsung lama dan mungkin mengancam jiwa.

Dampak pelecehan terhadap kehidupan seseorang bisa sangat parah. Karena itu, penting untuk memahami bahwa ada bantuan yang tersedia.

Cara Penanganan

Battered Woman Syndrome - cara penanganan.jpg

Foto: shutterstock.com

Kebanyakan wanita tidak bisa meninggalkan KDRT karena beberapa alasan. Tapi, ada beberapa langkah yang bisa membantunya keluar dari hubungan tidak sehat.

1. Bicaralah dengan Dokter

Konsultasilah mengenai gejala sindrom wanita babak belur dengan dokter.

Karena dokter atau perawat bisa memberi jalan keluar atau bantuan yang terbaik.

2. Cari Tempat Berlindung

Sadarilah bahwa Moms tidak sendirian dan ada orang yang bisa membantu.

Dalam kondisi ini, Moms bisa menghubungi lembaga bantuan hukum (LBH) yang fokus dalam membantu wanita.

Baca Juga: Dampak Kekerasan Rumah Tangga Bagi Kesehatan Fisik dan Mental

3. Buat Rencana Keselamatan

Kebanyakan wanita merasakan bahaya ketika pasangan mereka cenderung menyakiti mereka.

The National Domestic Violence Hotline mengatakan bahwa ketika orang dalam situasi KDRT berencana meninggalkan rumah, mereka harus menyusun rencana terlebih dahulu.

Kalau tidak bisa keluar dari rumah, cobalah hindari kekerasan dengan cara meringkuk seperti bola untuk melindungi wajah dengan lengan.

Bila Moms mengalami KDRT, Moms bisa menghubungi Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) di (021) 87797289.

Artikel Terkait