BAYI
6 Agustus 2020

Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasi Bayi Kembung dan Mencret

Yuk cari tahu di sini, Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Kembung rupanya bukan hanya untuk orang dewasa. Kembung juga bisa dialami bayi dan tentu saja akan membuat sangat tidak nyaman. Kembung biasanya hanyalah udara atau gas di perut atau usus, tetapi bagi sebagian bayi rasanya sangat menyakitkan.

Ketika seorang bayi mengalami kembung, gelembung-gelembung kecil berkembang di perut atau usus mereka dan kadang-kadang menyebabkan tekanan dan sakit perut. Banyak bayi yang tidak merasa terganggu dengan perut kembung mereka.

Akan tetapi jika bayi kembung dan disertai mencret, maka ini akan membuat mereka gelisah, tidak bisa tidur dan bahkan menangis. Sejumlah perawatan rumah sederhana biasanya dapat menenangkan dan mengurangi gejala bayi kembung dan mencret tersebut.

Namun, mendiskusikan dengan dokter anak dapat menawarkan jaminan dan membantu orang tua atau pengasuh untuk menentukan mengapa bayi mengalami kembung dan mencret.

Berikut ini adalah hal-hal yang harus Moms ketahui terkait gejala, penyebab dan cara mengatasi bayi yang kembung dan mencret.

Gejala Bayi Kembung dan Mencret

6 Makna di Balik Rewel Bayi, Sudah Tahu?

Ketika bayi menangis, mungkin Moms hanya mengira bahwa dia sedang lapar. Padahal ketika dia menangis dan terlihat mencret, bisa jadi ada penyebab lain seperti kembung yang dirasakan oleh perutnya.

Dikutip dari Parents.com, Tamara Duker Freuman, RD, Seorang Ahli Kesehatan Pencernaan menjelaskan bahwa anak-anak tidak memiliki bahasa untuk menggambarkan rasa sakitnya sebagai kembung atau kondisi perut yang kurang baik.

Berikut ini adalah beberapa tanda bayi mengalami kembung dan mencret, yang bisa Moms pahami:

1. Bersendawa

Bersendawa adalah proses mengeluarkan udara dari perut atau mengeluarkan udara yang telah tertelan karena gas jarang diproduksi di perut bayi.

Bersendawa dalam jumlah besar disebabkan ketika bayi terlalu banyak menelan udara saat dia minum susu, menangis, menelan air liur dan mengisap dot.

Baca Juga: Jika Bayi Tidak Bersendawa, Lakukan 6 Hal Ini

2. Mengeluarkan Gas / Buang Angin

Gas yang keluar ketika bayi buang angin adalah hasil dari udara dan gas yang tertelan dan lalu diproduksi di usus. Pada sebagian besar bayi, di mana orang tua mengeluhkan buang angin yang berlebihan, sebenarnya tidak ada gangguan tertentu pada saluran usus.

Rowena Bennett, Child Health Nurse and Mental Health Nurse asal Australia, mengatakan seringkali apa yang tampak seperti sejumlah besar gas, sebenarnya merupakan sesuatu yang sangat normal.

"Kebanyakan orang tua tidak menyadari bahwa bayi dapat mengeluarkan gas hingga 20 kali sehari dan tanpa gejala lambung lainnya, ini dianggap normal," kata wanita yang juga merupakan konsultan laktasi tersebut.

3. Nyeri Perut atau Kram

Nyeri perut dapat berkisar dari ringan hingga berat dan dapat berlangsung dari beberapa menit hingga beberapa hari, tergantung pada penyebabnya. Kram bisa terus menerus atau bisa hilang muncul.

Tidak mudah untuk mengetahui kapan bayi merasakan sakit. Orang tua sering menjadi khawatir ketika mereka mengamati perilaku bayi yang tidak normal. Sebagai contoh, bayi yang usianya masih dini, akan secara teratur menunjukan dia rewel, mendengus, mengerang, menarik wajah, dan tegang saat mereka mengeluarkan gas atau buang air besar. Ini disebabkan refleks gastro-kolik dan belum tentu pertanda bayi mengalami nyeri.

Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa ketika bayi menarik kakinya sambil menangis, maka itu adalah tanda sakit perut, tetapi hal ini tidak selalu terjadi.

Baca Juga: 4 Fakta Tentang Kolik pada Bayi, Sudah Tahu?

4. Muntah

Muntah pada bayi bukanlah hal yang sama dengan gumoh. Gumoh berhubungan dengan gastro-esophageal reflux, terjadi secara spontan dan tidak seperti muntah karena mudah dikeluarkan.

Sementara muntah biasa dikaitkan dengan infeksi gastro-intestinal, alergi makanan atau susu atau intoleransi, atau bisa juga efek samping dari pengobatan. Diare juga sering dikaitkan dengan kondisi yang menyebabkan muntah.

5. Feses yang Lembek dengan Intensitas Buang Air Besar yang Sering

Bayi kembung dan diare biasanya dikarenakan salah makan dan berbagai kemungkinan lain. Pada beberapa kasus, bayi kembung dan diare bisa diikuti dengan mengi, ruam, hidung tersumbat, eksim, muntah, tinja berdarah, dan gagal tumbuh.

Namun, perlu Moms ketahui bahwa sering buang air besar berair, merupakan normal untuk bayi yang ASI dan belum tentu sedang mengalami mencret. Namun, bayi ASI juga bisa mengalami mencret.

Baca Juga: Ini Cara Mengatasi Diare Pada Bayi

6. Menangis dan Sulit Tidur

Bayi yang kembung dan mencret, tentu akan merasa tidak nyaman. Mereka akan lebih sering menangis dan akhirnya susah tidur karena pola tidurnya terganggu akibat kurang nyaman dengan kondisi perutnya.

Penyebab Bayi Kembung dan Mencret

bayi1.jpg

Berikut ini adalah penyebab bayi kembung dan mencret, yang harus Moms ketahui ketika Si Kecil telah menunjukan gejala-gejalanya:

1. Sistem Pencernaan yang Belum Matang

Rowena mengatakan sebagian kecil bayi mungkin menderita kembung dan mencret karena ketidakmampuan untuk mencerna satu atau lebih protein, karbohidrat (gula dan pati) secara memadai atau lemak yang ditemukan dalam susu (termasuk susu formula), jus, dan beberapa makanan.

"Hal ini disebabkan oleh kurangnya produksi enzim pencernaan yang diperlukan dan diyakini terkait dengan ketidakdewasaan saluran pencernaan bayi," ujarnya.

2. Gangguan Saluran Pencernaan

Bayi yang diberi ASI dan susu formula dapat terus menunjukkan gejala lambung atau gangguan saluran pencernaan seperti kembung dan mencret yang berlebihan karena intoleransi laktosa sekunder.

Pada bayi yang mengkonsumsi susu formula, misalnya bayi kembung dan mencret karena alergi protein susu. Meskipun jarang, gejala yang sama juga dapat terjadi pada bayi yang ASI, sebagai akibat dari alergi atau intoleransi terhadap protein, dari susu sapi atau makanan lain, yang ditransfer melalui ASI dari makanan ibu.

Baca Juga: 4 Masalah Pencernaan yang Paling Sering Diderita Bayi

3. Intolerensi Laktosa

Laktosa adalah gula dalam susu. Dikutip dari Seattle Childrens, banyak bayi tidak dapat menyerap laktosa dan bakteri usus mengubah laktosa menjadi gas. Gejala utamanya adalah banyak gas, buang air besar dan perut kembung.

Gangguan saluran pencernaan juga dapat terjadi ketika anak mulai mengonsumsi makanan atau jus padat. Gejala dapat terjadi karena malabsorpsi karbohidrat, di mana karbohidrat tidak sepenuhnya dicerna (dipecah). Makanan ini termasuk seperti kacang, laktosa dalam susu dan produk olahan susu.

4. Infeksi Saluran Pencernaan

Bayi kembung dan mencret dapat disebabkan oleh infeksi gastro-intestinal yang juga dikenal sebagai gastroenteritis, bug perut, infeksi usus, flu perut atau diare menular dan sering terjadi pada bayi. Infeksi saluran cerna dapat disebabkan oleh virus, bakteri, ragi / jamur atau parasit seperti protozoa, cacing gelang atau cacing pita.

Pada kasus ini, Moms harus menemui dokter jika mulai mencurigai Si Kecil menderita infeksi saluran cerna. Jangan memberikan obat apa pun, termasuk obat cacing usus (anthelmintik) kepada bayi atau anak-anak kecuali disarankan secara khusus untuk melakukannya oleh dokter anak.

Baca Juga: 7 Camilan yang Mengandung Probiotik, Baik untuk Pencernaan Anak

5. Obat-obatan

Banyak obat yang diberikan kepada bayi untuk mengatasi kolik, sembelit, demam, dan infeksi. Sayangnya obat-obatan tersebut memiliki efek samping yang dapat termasuk mengganggu pencernaan, kram perut, gas yang berlebihan, diare atau sebaliknya menjadi sembelit.

Jika Si Kecil sedang dalam masa pengobatan atau penggunaan obat, diskusikan kemungkinan efek samping bayi kembung dan mencret pada dokter atau apoteker.

Cara Mengatasi Bayi Kembung dan Mencret

Kolik pada Bayi, Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya.jpg

Sebelum menemui dokter, Moms bisa mencoba beberapa cara seperti dikutip dari Medical News Today yang mungkin bisa membantu pemulihan Si Kecil yang sedang kembung dan mencret.

1. Pijat Kaki

Baringkan Si Kecil dengan posisi telentang dan angkat kaki dengan lutut ditekuk. Gerakkan kaki secara perlahan seperti gerakan bersepeda untuk membantu bayi meringankan gas yang terperangkap di perutnya.

Baca Juga: 4 Masalah Pencernaan yang Paling Sering Diderita Bayi

2. Memeluk dengan Posisi Telungkup

Gendong Si Kecil dengan posisi telungkup dan jangan menghadap ke atas. Bantu sanggah kepala Si Kecil, angkat sedikit, dan pastikan tidak ada yang menutupi wajah atau hidungnya.

3. Memijat Perut

Gosok perut Si Kecil dengan lembut. Coba tekan dan dorong dengan gerakan searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam.

4. Membantu Bersendawa

Bersendawa bagi Si Kecil bisa membantu mengeluarkan gas yang terperangkap di perut mereka. Moms bisa menggosok atau menepuk punggung mereka dengan lembut, dengan posisi kepala yang lebih tinggi atau saat didudukkan.

Baca Juga: Anak Susah Minum Air Putih, Ini 4 Cara Memenuhi Kebutuhan Cairannya

5. Penuhi Kebutuhan Cairan

Saat Si Kecil kembung dan mencret, maka penting sekali menjaga asupan cairan agar dia tidak dehidrasi. Jika Si Kecil berusia dibawah 6 bulan, maka Moms harus terus menyusuinya atau memberikan susu formula.

Namun bila Si Kecil sudah dapat makan dan minum, berikan cairan seperti air putih atau cairan elektrolit sesering mungkin dan pastinya secara perlahan atau sedikit demi sedikit. Selain itu, tukar menu makannya menjadi makanan yang halus atau cair dan hindari makanan padat terlebih dahulu sampai benar-benar pulih.

Jika dehindrasi tidak teratasi dan mulai menunjukan gejala kekurangan cairan, segera temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.

Artikel Terkait