PROGRAM HAMIL
15 Juni 2019

Mengalami Masalah Kesuburan? Coba Teknologi Reproduksi Berbantu untuk Bisa Hamil

Teknologi reproduksi berbantu? Apa itu?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Pasangan yang memiliki kendala untuk hamil melalui cara-cara alami dapat mencoba memiliki keturunan melalui prosedur teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology).

Pada prinsipnya, kehamilan dengan teknologi reproduksi berbantu dilakukan dengan menyatukan sel telur dan sperma di laboratorium. Setelah pembuahan terjadi, sel telur dimasukkan ke dalam rahim agar dapat berkembang hingga sembilan bulan ke depan.

Kehamilan dengan teknologi reproduksi berbantu ini merupakan pilihan bagi pasangan yang memiliki masalah infertilitas. Banyak figur publik yang memilih cara ini untuk memiliki keturunan, di antaranya Chrissy Teigen, Michelle Obama, Celine Dion, dan masih banyak lagi.

Baca Juga: Fitrop Hamil setelah Lakukan Terapi PCOS, Ini Tahapan Terapi yang Harus Dijalani oleh Penderita PCOS yang Berencana Hamil

Ada beberapa jenis teknologi reproduksi berbantu, di antaranya induksi ovulasi, inseminasi buatan, in vitro fertilization/IVF, gamete intrafallopian transfer/GIFT (transfer gamet ke dalam tuba fallopi), dan

intra cystoplasmic sperm injection/ICSI (menyuntikkan satu sperma ke dalam satu sel telur). Prosedur yang paling banyak dilakukan adalah IVF.

Dikutip dari Forbes, kehamilan dengan teknologi reproduksi berbantu pertama kali dilakukan pada 1977 di Inggris melalui IVF. Hingga saat ini, tercatat lebih dari 8 juta bayi dilahirkan melalui IVF.

Data tersebut disampaikan oleh Dr. David Adamson, perwakilan dari International Committee for Monitoring ART (ICMART), dalam kongres European Society of Human Reproduction and Embryology pada 2018.

Tingkat keberhasilan tiap jenis teknologi reproduksi berbantu berbeda-beda. Namun, secara umum, para ahli menyebutkan sejumlah faktor keberhasilan teknologi reproduksi berbantu:

Baca Juga: Deteksi Awal Masalah Infertilitas, Jangan Takut Datang ke Klinik IVF

1. Usia Moms

Teknologi Reproduksi Berbantu

Dalam artikelnya di New England Journal of Medicine, Dr. Linda J. Heffner, M.D. dari Boston University School of Medicine menyebutkan usia 25 hingga 35 tahun merupakan masa paling ideal untuk merencanakan kehamilan.

Hal itu berlaku bagi kehamilan secara alami maupun menggunakan teknologi reproduksi berbantu.

Sementara, berbagai studi memperlihatkan kehamilan dengan teknologi reproduksi berbantu menunjukkan hasil yang lebih baik pada Moms berusia di bawah 30 tahun karena kemampuan reproduksinya masih baik.

2. Jenis Masalah Infertilitas

teknologi reproduksi berbantu

Pasangan yang memiliki masalah infertilitas seperti endometriosis, penyumbatan pada tuba fallopi, masalah pada ovulasi, jumlah sperma atau pergerakan sperma rendah dapat mencoba teknologi reproduksi berbantu untuk mewujudkan kehamilan.

Namun, teknologi tersebut tidak dapat membantu pasangan yang memiliki masalah infertilitas lain, seperti bentuk rahim abnormal, fibroid rahim, atau disfungsi ovarium. Tingkat keberhasilan IVF pada pasangan yang memiliki salah satu dari masalah infertilitas tersebut sangat rendah.

Baca Juga: Waspada Masalah Infertilitas Jika Belum Hamil Setelah Satu Tahun Menikah

3. Sudah Pernah Hamil dan Melahirkan

teknologi reproduksi berbantu

Kehamilan sebelumnya merupakan salah satu faktor keberhasilan teknologi reproduksi berbantu.

Moms yang sudah pernah hamil dan melahirkan, baik secara alamiah ataupun melalui IVF, mempunyai peluang hamil lebih besar melalui IVF dibandingkan Moms yang belum pernah melahirkan.

Dikutip dari Southern California Reproductive Center, keguguran berulang dapat menjadi indikator sulitnya keberhasilan IVF.

Jadi, apakah Moms ingin mencoba teknologi reproduksi berbantu untuk membantu mendapatkan keturunan?

(AN)

Artikel Terkait