PROGRAM HAMIL
12 Mei 2020

Gagal Bayi Tabung Meningkatkan Risiko Sakit Jantung, Benarkah?

Waspadai penyakit jantung saat terapi kesuburan yang dijalani mengalami jalan buntu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Telah banyak kisah sukses perempuan yang berhasil hamil dengan bantuan terapi kesuburan, seperti bayi tabung atau IVF.

Namun tidak ada jaminan semua perempuan akan sukses, karena dalam beberapa kasus gagal bayi tabung.

Hubungan Gagal Bayi Tabung dengan Risiko Penyakit Jantung

Tidak sampai di situ, sebuah studi juga menemukan korelasi antara gagal bayi tabung dengan penyakit jantung di kemudian hari.

Sebelum Moms berubah pikiran untuk tidak melanjutkan rencana IVF atau IUI, ketahui dahulu ulasannya berikut ini.

Baca Juga: 7 Penyebab Program Bayi Tabung Gagal

1. Bukti Penelitian

kegagalan terapi kesuburan

Foto: ingenes.com

Adanya kaitan antara gagal bayi tabung dengan penyakit jantung dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Institute for Clinical Evaluative Sciences (ICES) terhadap 28,400 perempuan di bawah usia 50 tahun yang menjalani terapi kesuburan di Ontario, dari April 1993 hingga Maret 2011.

Semuanya diteliti hingga Maret 2015 untuk mengetahui seberapa banyak yang berhasil memiliki anak dan berapa perempuan yang mengalami gagal bayi tabung, sambil melihat sejarah kesehatan kedua grup peserta penelitian.

Hasilnya, sepertiga dari perempuan peserta penelitian ini melahirkan setelah satu tahun menjalani terapi kesuburan. Sedangkan dua pertiga sisanya memiliki peningkatan risiko penyakit jantung sebesar 19 persen.

“Kami melihat adanya serangan jantung, menderita gagal jantung kongestif, stroke, pembekuan darah di vena atau paru, hingga mengancam nyawa. Sekitar dua pertiga perempuan yang tidak berhasil hamil dan khususnya memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah jantung jangka panjang,” ungkap kardiolog di Peter Munk Cardiac Centre, Toronto General Hospital dan Women’s College Hospital sekaligus ketua dari penelitian ini, Dr. Jacob Udell, seperti dikutip dari globalnews.ca.

2. Keseluruhan Risiko Rendah

kegagalan terapi kesuburan

Foto: self.com

Meski hubungan antara gagal bayi tabung dengan penyakit jantung terdengar mengkhawatirkan, namun sebenarnya keseluruhan risiko untuk mengembangkan penyakit jantung (baik pada perempuan yang akhirnya hamil atau tidak) termasuk rendah.

Untuk setiap 1,000 perempuan yang tidak berhasil hamil, hanya ada 10 insiden yang berhubungan dengan penyakit jantung. Sebagai perbandingan, perempuan yang berhasil hamil mengalami enam insiden penyakit jantung terhadap 1,000 kelahiran.

Secara garis besar, penelitian ini hanya menunjukkan korelasi, bukan sebab-akibat dari suatu hal, yang berarti bahwa kegagalan terapi kesuburan belum tentu menjadi alasan utama penyebab peningkatan risiko penyakit jantung.

Baca Juga: Gagal Lakukan Program Bayi Tabung yang Kedua Kali, Tya Ariestya Tunda Kehamilan Hingga Lebaran Usai

3. Penyebab Lain

kegagalan terapi kesuburan

Foto: deseret.com

Salah satu penyebab yang mungkin terjadi atas peningkatan penyakit jantung pada saat gagal bayi tabung adalah faktor usia.

“Perempuan yang membutuhkan dan gagal hamil dengan terapi kesuburan cenderung berusia lebih tua dan karena itu, juga lebih mungkin memiliki diagnosis masalah kesehatan lain yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung,” ungkap endokrinologi reproduksi di Colorado Center for Reproductive Medicine, New York, Janet Choi, M. D., seperti dikutip dari self.com.

Para ahli juga menghubungkannya dengan gaya hidup yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, seperti merokok, minuman beralkohol, sejarah kanker, hingga kadar kolesterol tinggi.

Untuk itu, penelitian ini dipublikasikan bukan untuk mendorong perempuan agar tidak menjalani terapi kesuburan, tetapi lebih mengingatkan perempuan untuk menjaga kesehatannya, terutama saat sedang menjalani terapi kesuburan.

Baca Juga: 5 Cara Memaksimalkan Program Bayi Tabung

“Ini bukan suatu tanda bahaya. Ini adalah kesempatan untuk berdiskusi dengan dokter kesuburan atau ahli kesehatan tentang faktor risiko penyakit jantung yang mungkin dimiliki dan mempertimbangkan pengobatan untuk faktor risiko tersebut. Ini bukanlah alasan untuk tidak menjalani (terapi kesuburan),” ungkap Dr. Jacob Udell.

(GS)

Artikel Terkait