BALITA DAN ANAK
26 Mei 2020

Gejala dan Penyebab Ensefalopati Hepatik pada Anak

Segera tangani meski gejalanya masih ringan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fitria Rahmadianti
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Ensefalopati hepatik adalah komplikasi (bukan penyakit) yang terjadi akibat gagal hati akut atau penyakit hati kronis. Ensefalopati hepatik pada anak bisa terjadi, namun gejalanya berbeda dengan pada orang dewasa.

Ensefalopati hepatik (disebut juga HE atau ensepalofati portal-sistemik) adalah gangguan otak yang berkembang pada penderita penyakit hati. Kondisi metabolik ini umum terjadi pada anak-anak.

Penyebab ensefalopati hepatik pada anak bervariasi, mulai dari hepatitis akibat virus sampai kesalahan metabolisme bawaan. Pada orang dewasa, penyebab utamanya adalah penyakit hati alkoholik.

Baca Juga: Apa itu Fatty Liver? Kenali Gejalanya dan Hindari Penyebabnya

Menurut situs web National Organization for Rare Disorders, ensefalopati hepatik dibagi menjadi tiga subtipe, yakni:

  • Tipe A yang berkaitan dengan gagal hati akut
  • Tipe B yang berasosiasi dengan pintasan (shunt) portosistemik tanpa adanya penyakit hati. Pada kondisi ini, terjadi ketidaknormalan jalur darah dari saluran gastrointestinal yang harusnya masuk ke hati malah melewatkannya.
  • Tipe C yang berhubungan dengan luka parut dan buruknya fungsi hati (sirosis) yang sering terjadi pada penyakit hati kronis

Gejala pada subtipe-subtipe di atas mirip, tapi penderita gagal hati akut ­cenderung mengalami pembengkakan (edema) di otak dan peningkatan tekanan di dalam tengkorak (hipertensi intrakranial). Hal ini berpotensi menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa.

Gejala dan Tingkat Keparahan Ensefalopati Hepatik

Gejala dan Tingkat Keparahan Ensefalopati Hepatik pada anak.jpg

Foto: Mylene2401 from Pixabay

Ini merupakan gejala ensefalopati hepatik yang terjadi secara umum, tapi tidak semua penderita mengalami semua gejala berikut:

1. Ensefalopati hepatik minimal (MHE)

Gejalanya tidak tampak jelas, hanya ada sedikit perubahan pada fungsi memori, konsentrasi, dan intelektual. Beberapa orang mengalami gangguan koordinasi tubuh, keterlambatan reaksi, serta asterixis (tangan naik-turun saat direntangkan ke depan).

Meski gejalanya ringan, MHE tetap berpengaruh signifikan terhadap kehidupan sehari-hari. Karena itu, MHE perlu dideteksi sejak dini agar penanganan bisa segera dimulai.

2. Ensefalopati hepatik nyata (overt)

Ketika penderita ensefalopati hepatik menunjukkan gejala yang jelas, kondisi tersebut dinamakan overt hepatic encephalopathy.

Gejalanya di antaranya berkurangnya kesadaran, rentang perhatian lebih pendek, pola tidur terganggu, kebingungan ringan, melambatnya kemampuan melakukan tugas mental, serta perubahan suasana hati atau kepribadian. Perubahan fungsi memori, konsentrasi, atau intelektual juga lebih jelas terlihat.

Baca Juga: Ketahui Bahaya Fatty Liver Disease Yang Mengintai Anak Obesitas

3. Ensefalopati hepatik parah

Gejala yang paling parah di antaranya kebingungan atau disorientasi yang kentara, amnesia, gangguan kognitif, hilangnya kemampuan motorik halus, kejang, serta kesadaran yang jauh berkurang atau bahkan koma.

Ensefalopati hepatik bisa berkembang perlahan seiring waktu pada penderita penyakit hati kronis. Bisa juga terjadi secara episodik, yakni memburuk, membaik, lalu kambuh lagi. Episode tersebut bisa berkembang dengan cepat dan tanpa peringatan sehingga membutuhkan rawat inap.

Gejala-gejala tersebut bisa diatasi dengan penanganan yang tepat. Namun, gejala bisa muncul lagi jika dipicu oleh kondisi seperti infeksi, perdarahan gastrointestinal, kurangnya kadar oksigen dalam tubuh, dehidrasi, konstipasi, obat-obatan tertentu, ketidaknormalan ginjal, operasi, atau terlalu banyak meminum alkohol.

Penyebab Ensefalopati Hepatik pada Anak

Penyebab Ensefalopati Hepatik pada Anak.jpg

Foto: Stux from Pixabay

Ensefalopati hepatik terjadi pada penderita penyakit hati ketika toksin yang biasanya disaring di hati terakumulasi di darah, lalu berjalan menuju otak dan merusak otak. Peneliti percaya bahwa tekanan darah tinggi di vena utama hati (hipertensi portal) menyebabkan darah tidak masuk ke hati, melainkan hanya dilewati.

Mekanisme yang mendasari bagaimana penderita penyakit hati bisa mengalami ensefalopati hepatik belum diketahui pasti. Namun, tingginya kadar zat yang dihasilkan oleh proses pencernaan protein, seperti amonia, diyakini berperan besar.

Kadar amonia tinggi pada penderita penyakit hati akut dan kronis. Kondisi ini diketahui memengaruhi otak pada kasus gangguan lain seperti Reye’s syndrome serta gangguan metabolik tertentu.

Baca Juga: Manfaat Cod Liver Oil di Musim Pancaroba bagi Si Kecil

Faktor lainnya yang berpotensi berperan dalam pengembangan ensefalopati hepatik di antaranya:

  • Toksisitas mangan dan terganggunya fungsi beberapa sel sistem saraf pusat (astrosit) yang berperan mengatur sawar darah otak (blood-brain barrier, batas yang memisahkan sirkulasi darah dari otak dengan cairan ekstraselular) serta membantu detoksifikasi zat tertentu termasuk amonia
  • Disfungsi sawar darah otak yang mencegah senyawa berbahaya sampai ke otak
  • Ketidakseimbangan asam amino
  • Asam lemak rantai pendek
  • Infeksi
  • Peradangan
  • Peningkatan aktivitas GABA, neurotransmiter inhibitor di sistem saraf pusat

Menurut Postgraduate Medical Journal Januari 2010, komponen paling penting dalam menangani ensefalopati hepatik pada anak adalah perawatan intensif dasar dengan pengaturan status cairan, glukosa, dan homeostasis elektrolit.

Penanganan spesifik ensefalopati hepatik pada anak di antaranya langkah mengurangi konsentrasi serum amonia, serta pencegahan dan penanganan komplikasi yang cepat dan tepat.

Artikel Terkait