KESEHATAN
20 November 2019

8 Gejala Keracunan Makanan yang Harus Diwaspadai

Jangan sampai telat penanganan, kenali gejala keracunan makanan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Keracunan makanan sangat umum terjadi di masyarakat. Namun terkadang, karena gejalanya cepat hilang dan tidak terlalu berat, banyak orang yang tidak menyadarinya jika ia habis keracunan makanan.

Padahal beberapa kondisi, keracunan makanan mungkin membutuhkan penanganan medis supaya tidak memicu kondisi lain yang lebih parah.

Pakar keracunan makanan, Bill Marler, telah menghindari makanan tertentu. Menurutnya, ada beberapa jenis makanan tertentu yang perlu dihindari dan perlu diwaspadai.

“Hindarilah jenis makanan tertentu karena jika kita masih mengonsumsinya, hal itu tidak sepadan dengan risikonya,” ungkapnya seperti dikutip dari Business Insider.

Dilansir dari Food Safety, ada beberapa kategori orang yang lebih gampang terkena keracunan makanan:

  • Wanita hamil
  • Anak di bawah 5 tahun
  • Orang dewasa di atas 65 tahun
  • Orang dengan sistem imun lemah akibat penyakit atau pengobatan

Gejala Keracunan Makanan

Apa saja gejala keracunan makanan yang harus Moms waspadai? Mari simak ulasannya!

1. Mual dan Muntah

Listicle 1.jpg

Gejala keracunan makanan yang paling mendasar adalah mual. Mual yang dirasakan bisa dari mual ringan hingga muntah dan kram perut parah.

Jika seseorang keracunan makanan dan mengalami gejala hingga muntah-muntah, hal tersebut sebenarnya baik.

Karena ketika tubuh kita menolak sesuatu, respon yang otomatis dilakukan tubuh adalah mengeluarkannya.

Muntah adalah salah satu tanda keracunan makanan yang disebabkan oleh bakteri berikut:

  • Salmonella
  • Shigella
  • Listeria
  • Campylobacter jejuni
  • E. Coli

Baca Juga: Cara Mengolah Makanan yang Benar Agar Tidak Keracunan Makanan

2. Diare

Listicle 2.jpg

Selain mual dan muntah, gejala keracunan makanan lain yang paling umum terjadi adalah diare.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention, diare biasanya terjadi setelah 6-24 jam pengonsumsian makanan. Bersama diare, umumnya juga terjadi kram perut dan demam.

Saat tubuh menolak hal buruk yang masuk di dalamnya, tubuh juga akan mengeluarkan racun atau bakteri tersebut lewat urine dan feses.

Jadi tentu, orang yang keracunan makanan akan mengalami hal ini. Bakteri yang menyebabkan diare biasanya:

  • Salmonella
  • Shigella (diare bisa bercampur darah)
  • Listeria
  • Staphylococcus aureus
  • Clostridium perfringens
  • Campylobacter jejuni (diare bisa berupa air atau bercampur dengan darah)
  • E. coli (diare berupa air dan bercampur dengan darah)

3. Dehidrasi

Listicle 3.jpg

Nah yang Moms perlu perhatikan, jika mengalami tanda muntah dan diare karena keracunan makanan, Moms harus jaga asupan cairan supaya tidak mengalami dehidrasi.

Kebanyakan orang yang mengalami muntah-muntah dan diare akan rentan terkena dehidrasi.

Jika dehidrasi tidak ditangani serius, akan mengakibatkan gejala lain yang lebih buruk.

Baca Juga: Keracunan Makanan? Redakan dengan 5 Bahan Alami Berikut Ini

4. Demam

Listicle 4.jpg

Karena bakteri yang menularkan penyakit umumnya (meski tidak selalu) menyebabkan infeksi, salah satu gejala keracunan makanan yang dapat terjadi adalah demam.

Demam yang dirasakan dapat berupa demam ringan sampai demam tinggi. Namun biasanya demam hanya bertahan 1-2 hari saja.

Dalam kasus ini, orang yang keracunan makanan hingga demam biasanya disebabkan oleh bakteri:

  • Salmonella
  • Shigella
  • Listeria (biasanya orang yang terkena bakteri ini mengalami demam yang cukup lama)
  • Campylobacter jejuni
  • E.coli (biasanya hanya terkena demam ringan saja atau rasa meriang)

5. Sakit Kepala

Listicle 5.jpg

Tanda lain keracunan adalah sakit kepala. Ya meski hal ini berhubungan dengan perut, tapi biasanya Moms juga akan mengalami sakit kepala yang cukup mengganggu.

Sakit kepala yang dirasakan juga biasanya terjadi karena dampak yang dirasakan dari muntah, dehidrasi, atau demam tinggi.

6. Sakit Perut Hebat

Listicle 6.jpg

Sakit perut juga merupakan salah satu gejala keracunan makanan. Meski sulit membedakan sakit perut karena keracunan makanan dengan masalah pencernaan lainnya, maka dari itu untuk memastikannya Moms perlu melihat gejala keracunan lain yang mendukung.

Nyeri perut akibat keracunan makanan umumnya dirasakan pada bagian perut di bawah tulang rusuk dan di atas panggul.

Kondisi ini dipicu oleh keberadaan patogen yang menghasilkan racun yang mengiritasi lapisan lambung dan usus sehingga muncul rasa nyeri pada perut.

Baca Juga: Pertolongan Pertama Jika Balita Alami Keracunan Makanan

7. Nyeri Otot

Listicle 7.jpg

Keracunan makanan juga dapat menyebabkan nyeri otot. Nyeri otot dipicu oleh sistem kekebalan tubuh yang menurun hingga menyebabkan peradangan.

Kondisi ini menyebabkan beberapa bagian tubuh lebih sensitif atau bahkan terasa nyeri.

8. Botulism

Listicle 8.jpg

Botulism adalah salah satu bentuk keracunan makanan yang paling mematikan, dan itu disebabkan oleh bakteri yang hidup di lingkungan yang bebas oksigen. Ini membuatnya berbeda dari patogen bawaan makanan lainnya.

Botulisme memiliki serangkaian gejala uniknya sendiri. Gejalanya sangat berbeda dari gejala yang sudah dijelaskan di atas.

Gejala botulisme meliputi:

  • Kelelahan
  • Pusing
  • Penglihatan ganda atau penglihatan kabur
  • Mulut kering
  • Kesulitan menelan atau berbicara
  • Kelumpuhan (dalam kasus yang sangat lanjut)

Baca Juga: Ketahui 3 Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan Pada Balita

Nah, setelah mengetahui gejala-gejala di atas, Moms harus lebih waspada. Meski terkadang setelah muntah dan diare tubuh akan merasa lebih baik, tapi ada beberapa kondisi yang perlu penangan lebih serius.

American Academy of Family Physiciansmengingatkan untuk skegera pergi ke dokter bila timbul gejala keracunan yang lebih serius, yakni:

  • Diare parah yang berlangsung lebih dari 3 hari
  • Sering muntah lebih dari 2 hari
  • BAB berdarah
  • Demam lebih dari 38°C

Selain itu, Moms juga perlu menjaga kebersihan lingkungan dan asupan makanan supaya keracunan makanan tidak terjadi.

(DH)

Artikel Terkait