NEWBORN
11 Desember 2017

Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Ruam pada Kulit Bayi

Ruam pada kulit bayi bisa membuat bayi rewel karena terasa gatal
Artikel ditulis oleh -
Disunting oleh -

Penyebab bayi rewel nyatanya terkadang juga disebabkan oleh penyakit sepele, seperti gangguan kesehatan kulit bayi. Salah satu jenis penyakit kulit yang cukup sering menyerang bayi adalah dermatitis kontak atau yang dikenal pula sebagai radang kulit.

Apa saja gejala yang ditimbulkan oleh radang kulit pada bayi? Bagaimana cara mengatasi radang kulit pada bayi?

Dermatitis Kontak atau Radang Kulit

Dermatitis kontak biasa dikenal sebagai alergi kulit pada bayi. Gangguan kulit yang satu ini memiliki gejala mencakup peradangan, rasa gatal yang hebat, ruam berukuran besar disertai rasa panas seperti terbakar. Hal ini biasanya disebabkan karena kulit bayi bersentuhan dengan bahan-bahan tertentu yang rentan menyebabkan iritasi, seperti deterjen atau parfum.

Dermatitis kontak sendiri terbagi menjadi dua jenis, yakni dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi.

Gejala Dermatitis Kontak Pada Bayi

Dermatitis kontak menyebabkan munculnya luka kecil seperti melepuh dan bersisik di area yang bersentuhan dengan pakaian atau perhiasan (seperti leher, pinggang, selangkangan atau pergelangan tangan). Gejala dermatitis kontak juga bisa ditemukan pada tangan atau wajah (dimana kulit wajah atau tangan tersebut bersentuhan langsung dengan pelembab, krim, tanaman, makanan atau bahan kimia).

Secara umum, dermatitis kontak muncul sebagai gejala ringan dan menghilang dengan cepat, atau menghasilkan luka melepuh lebih besar yang hilang dalam beberapa hari. Dalam kedua kasus tersebut, bisa jadi terasa sangat gatal tetapi tidak menular. Ruam popok, ruam air liur merupakan dua contoh umum dari dermatitis kontak.

Baca juga: Minyak Esensial, Aman untuk Kulit Bayi

Penyebab Dermatitis Kontak Pada Bayi

shutterstock 721685764

Hampir setiap anak bisa memiliki dermatitis kontak iritan (ICD) setelah terpapar zat yang menyebabkan iritasi secara alami dalam waktu yang cukup lama, seperti label pakaian, air liur atau popok basah.

Sedangkan untuk dermatitis kontak alergi (ACD) jarang ditemukan pada usia anak-anak dan cenderung muncul saat anak berusia 2 atau 3 tahun, setelah kulit bersentuhan dengan zat yang menyebabkan kekebalan tubuh bereaksi tidak normal.

ACD seringkali disebabkan oleh sabun atau lotion pewangi, antibiotik, tanaman (dalam kasus poison ivy), logam (seperti nikel dalam perhiasan, bingkai kacamata, kancing, dan gesper), atau lateks (dalam balon). ACD juga bisa terjadi bila kulit terpapar sinar matahari setelah zat tertentu dioleskan, seperti tabir surya dan antibiotik topikal.

Pengobatan Dermatitis Kontak

Pengobatan bisa membantu penderita dermatitis kontak untuk mengatasi dan meredakan gejala-gejalanya. Ada beberapa cara untuk menangani dermatitis kontak, yaitu:

  • Menghindari paparan zat penyebab alergi dan iritasi di kulit
  • Mengoleskan obat krim kortikosteroid
  • Mengonsumsi tablet kortikosteroid
  • Menggunakan pelembap kulit
  • Fototerapi
  • Terapi imunosupresan

Penggunaan obat jenis apapun untuk mengobati dermatitis kontak harus berdasarkan resep dokter dan dianjurkan membaca petunjuk pada kemasan mengenai dosis dan aturannya. Untuk menghindari gejala dermatitis kontak semakin parah, disarankan untuk menghindari menggaruk ruam atau inflamasi yang terjadi pada kulit.

Untuk mencegah radang kulit pada kulit bayi yang masih sangat sensitif, Moms bisa menggunakan Babymax Natural Detergent. Deterjen ini aman untuk bayi karena tidak mengandung bahan kimia yang bersifat toksik.

Formulanya ultralembut, bebas SLS, hipoalergenik, dan tidak mengandung pewarna. Namun, jangan ragukan kemampuannya dalam menghilangkan noda di pakaian bayi. Babymax Natural Detergent tersedia juga dalam travel size (100 ml) sehingga dapat dibawa saat berlibur.

(RGW)

Artikel Terkait