BAYI
24 Agustus 2020

Ketahui Tentang Bronkopneumonia pada Anak yang Jarang Diketahui

Apa penyebabnya dan bagaimana mengenali gejalanya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Pneumonia bronkial atau bronkopneumonia adalah infeksi saluran bronkial paru-paru dan merupakan bentuk paling umum dari pneumonia pada anak.

Bronkopneumonia juga merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Pneumonia adalah salah satu kategori infeksi paru-paru. Ini terjadi ketika virus, bakteri, atau jamur menyebabkan peradangan dan infeksi pada alveoli (kantung udara kecil) di paru-paru.

Sementara, bronkopneumonia adalah jenis pneumonia yang menyebabkan peradangan pada alveoli. Seseorang dengan bronkopneumonia mungkin mengalami kesulitan bernapas karena saluran udara mereka menyempit.

Karena peradangan, paru-paru seseorang mungkin tidak mendapatkan cukup udara. Gejala bronkopneumonia pada anak bisa ringan atau berat.

Moms perlu mengetahui lebih lanjut tentang bronkopneumonia pada anak berikut ini.

Baca Juga: Pneumonia pada Bayi: Penyebab, Gejala, Penularan, Diagnosis, dan Pengobatannya

Penyebab Bronkopneumonia pada Anak

bronkopneumonia pada anak-penyebab

Foto: Orami Photo Stock

Bronkopneumonia adalah bentuk pneumonia yang paling umum pada populasi anak, dan penyebab utama kematian pada anak di bawah usia 5 tahun.

Secara global, pneumonia menyumbang 16% dari semua kematian anak di bawah usia 5 tahun. Bronkopneumonia lebih banyak menyerang bayi daripada orang dewasa, karena sistem kekebalan pernapasannya belum matang.

Dalam jurnal Medical Archives, penyebab bronkopneumonia pada anak adalah bakteri, virus, parasit dan jamur.

Penyebab tersering bronkopneumonia adalah infeksi bakteri paru-paru, seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenza tipe b (Hib). Infeksi paru-paru virus dan jamur juga dapat menyebabkan pneumonia.

Kuman berbahaya bisa masuk ke bronkus dan alveoli dan mulai berkembang biak. Sistem kekebalan tubuh menghasilkan sel darah putih yang menyerang kuman ini, yang menyebabkan peradangan. Gejala sering berkembang dari peradangan ini.

Virus seperti virus influenza atau adenovirus juga dapat menjadi penyebab lainnya. Terkadang, infeksi bahkan terjadi secara sekunder karena bayi mengalami pilek atau penyakit seperti campak.

Baca Juga: Flek Pada Paru-paru Anak karena Asap Rokok, Kenali Gejalanya

Gejala Bronkopneumonia pada Anak

bronkopneumonia pada anak-gejala

Foto: Orami Photo Stock

Dalam laman Healthline disebutkan bahwa anak-anak dan bayi dapat menunjukkan gejala bronkopneumonia yang berbeda-beda.

Sementara batuk adalah gejala paling umum pada bayi, mereka biasanya juga mengalami gejala lain seperti detak jantung sangat cepat, tingkat oksigen dalam darah sangat rendah, retraksi otot dada (kontraksi otot yang sebabkan tarikan pada dinding dada bagian bawah setiap kali bayi bernapas).

Selain itu, gejala bronkopneumonia pada anak juga termasuk mudah marah atau rewel, kehilangan selera makan, menyusu, atau minum, demam, sulit tidur, dan kongesti.

Banyak kasus bronkopneumonia pada anak disebabkan oleh bakteri. Di luar tubuh, bakterinya menular dan dapat menyebar di antara orang-orang yang berdekatan melalui bersin dan batuk. Seseorang bisa terinfeksi dengan menghirup bakteri ini.

Penyebab bakteri bronkopneumonia yang umum meliputi Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Spesies proteus.

Kondisi ini biasanya terjadi di rumah sakit. Orang yang datang ke rumah sakit untuk pengobatan penyakit lain seringkali memiliki sistem kekebalan yang lemah. Sakit memengaruhi cara tubuh melawan bakteri.

Dalam kondisi tersebut, tubuh akan kesulitan menangani infeksi baru. Selain itu, pneumonia yang terjadi di rumah sakit mungkin juga disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

Baca Juga: 6 Sayur dan Buah yang Bantu Menjaga Kesehatan Paru-paru

Risiko Bronkopneumonia pada Anak

bronkopneumonia pada anak-risiko

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sementara anak sehat dapat melawan infeksi dengan pertahanan alami mereka, anak-anak yang sistem kekebalannya lemah berisiko lebih tinggi terkena pneumonia.

Sistem kekebalan anak mungkin lemah karena malnutrisi atau kekurangan gizi, terutama pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. Penyakit yang sudah ada sebelumnya, juga meningkatkan risiko anak tertular pneumonia.

Faktor lingkungan juga meningkatkan kerentanan anak terhadap pneumonia. Seperti polusi udara dalam ruangan yang disebabkan oleh memasak dan pemanasan dengan bahan bakar biomassa (seperti kayu atau kotoran), tinggal di rumah yang ramai, dan orang tua yang merokok.

Bronkopneumonia pada anak yang tidak diobati atau parah dapat menyebabkan komplikasi, terutama pada orang yang berisiko, seperti anak kecil, orang dewasa tua, dan orang dengan sistem kekebalan lemah.

Karena memengaruhi pernapasan seseorang, bronkopneumonia dapat menjadi sangat serius dan terkadang menyebabkan kematian. Komplikasi bronkopneumonia dapat meliputi:

1. Kegagalan Pernapasan

Ini terjadi ketika pertukaran esensial oksigen dan karbon dioksida di paru-paru mulai gagal. Orang dengan kegagalan pernasapan mungkin memerlukan ventilator atau mesin pernapasan untuk membantu pernapasan.

Baca Juga: Ketahui Penyebab, Penanganan, dan Dampak Sepsis pada Ibu Hamil dan Janin

2. Sindrom Gangguan Pernapasan Akut

Sindrom Gangguan Pernapasan Akut adalah bentuk kegagalan pernapasan yang lebih parah dan mengancam nyawa. Ini bisa menjadi risiko dari bronkopneumonia pada anak .

3. Sepsis

Risiko bronkopneumonia pada anak ini juga dikenal sebagai keracunan darah atau septikemia, yang terjadi ketika infeksi menyebabkan respons kekebalan berlebihan yang merusak organ dan jaringan tubuh.

Sepsis dapat menyebabkan kegagalan banyak organ dan mengancam nyawa.

4. Abses Paru-paru

Risiko bronkopneumonia pada anak ini merupakan kondisi di mana kantung berisi nanah yang bisa terbentuk di dalam paru-paru.

Baca Juga: Flek Pada Paru-paru Anak karena Asap Rokok, Kenali Gejalanya

Diagnosis Bronkopneumonia pada Anak

Untuk mendiagnosis bronkopneumonia pada anak, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melihat riwayat kesehatan seseorang.

Masalah pernapasan, seperti mengi, adalah indikasi khas bronkopneumonia. Tetapi bronkopneumonia dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan pilek atau flu, yang terkadang membuat diagnosis menjadi sulit.

Jika dokter mencurigai bronkopneumonia, ia mungkin akan melakukan satu atau lebih dari tes berikut untuk memastikan diagnosis atau menentukan jenis dan tingkat keparahan kondisi.

  • Rontgen dada atau CT scan. Tes skrining ini memungkinkan dokter untuk melihat ke dalam paru-paru dan memeriksa tanda-tanda infeksi.
  • Tes darah. Ini dapat membantu mendeteksi tanda-tanda infeksi, seperti jumlah sel darah putih yang tidak normal.
  • Bronkoskopi. Ini melibatkan memasukkan tabung tipis dengan cahaya dan kamera melalui mulut seseorang, ke tenggorokan, dan ke paru-paru. Prosedur ini memungkinkan dokter untuk melihat ke dalam paru-paru.
  • Sputum culture. Ini adalah tes laboratorium yang dapat mendeteksi infeksi dari lendir yang dikeluarkan seseorang.
  • Oksimetri denyut. Ini adalah tes yang digunakan untuk menghitung jumlah oksigen yang mengalir melalui aliran darah.
  • Gas darah arteri. Dokter menggunakan tes ini untuk menentukan kadar oksigen dalam darah seseorang.

Baca Juga: 6 Bahan Alami untuk Mengobati Batuk Kering pada Anak

Cara Mengatasi Bronkopneumonia pada Anak

cara mengatasi bronkopneumonia pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Hal pertama yang perlu diputuskan dalam mengobati bronkopneumonia pada anak adalah memutuskan apakah Si Kecil akan dirawat di rumah atau harus dibawa ke rumah sakit.

Tentunya dengan mempertimbangkan mengenai kondisi rumah dan kualitas bantuan keperawatan yang tersedia. Selain itu, usia bayi dan apakah ia disusui atau sudah disapih juga penting untuk dipertimbangkan.

Tingkat keparahan penyakit juga perlu diperhitungkan, karena oksigen memiliki andil terbesar dalam cara mengatasi bronkopneumonia pada anak yang cukup parah.

Jika tidak cukup oksigen yang dapat diberikan di rumah, maka Si Kecil direkomendasikan untuk dirawat intensif di rumah sakit.

Disebutkan pula bahwa menjaga kebersihan adalah hal yang tidak kalah penting untuk diterapkan dalam perawatan bayi dengan bronkopneumonia. Di mana dua bagian penting yang perlu ekstra diperhatikan kebersihannya adalah mulut bayi dan saluran pencernaan (mulut dan perut).

Keputusan pengobatan didasarkan pada penyebab infeksi, usia dan status klinis pasien. Berikut ini beberapa caranya mengutip Council for Medical Schemes.

1. Pemberian Obat

Penggunaan antibiotik biasanya digunakan untuk mengobati pneumonia bakterial. Penting untuk menyelesaikan antibiotik dengan dosis yang tepat untuk membersihkan infeksi sepenuhnya dan mencegahnya kembali.

Selain itu, obat batuk bisa digunakan untuk mengurangi batuk. Sementara, obat untuk menurunkan demam dan nyeri mungkin diresepkan untuk menurunkan demam dan meredakan ketidaknyamanan dan nyeri.

Antibiotik tidak efektif untuk infeksi virus. Untuk bronkopneumonia virus, dokter mungkin meresepkan obat antivirus. Terapi dapat diarahkan untuk mengobati gejala. Bronkopneumonia pada anak karena virus biasanya hilang dalam 1 hingga 3 minggu.

Sementara, pada anak penderita bronkopneumonia jamur, dokter mungkin meresepkan obat antijamur untuk mengatasinya.

Baca Juga: 7 Makanan Terbaik untuk Balita Penderita Pneumonia, Catat!

2. Istirahat yang Cukup

Bentuk bronkopneumonia ringan dapat diobati di rumah dengan menggunakan kombinasi istirahat dan pengobatan. Namun, kasus bronkopneumonia yang lebih parah memerlukan perawatan di rumah sakit.

Di masa pemulihan dari bronkopneumonia, penting bagi pasien untuk beristirahat yang banyak.

3. Asupan Cairan dan Jaga Pola Makan

Selain itu, cara mengatasi bronkopneumonia pada anak yang lain adalah minum banyak cairan. Hal ini untuk membantu mengencerkan lendir di dada dan mengurangi ketidaknyamanan saat batuk, serta mencegah dehidrasi pada anak.

Penting untuk mengikuti rekomendasi diet, dengan makan makanan yang bergizi dan diperkaya dengan vitamin. Bayi di bawah 6 bulan harus diberi ASI atau susu formula.

4. Batasi Kontak Sosial

Cara mengatasi bronkopneumonia pada anak selanjutnya adalah dengan membatasi kontak sosial dengan orang lain seperti di sekolah. Kurangi interaksi dan buat Si Kecil istirahat yang cukup.

Jika diperlukan perawatan di rumah sakit, hal ini mungkin termasuk antibiotik dan cairan intravena (IV). Jika kadar oksigen darahnya rendah, pasien mungkin menerima terapi oksigen untuk membantu mereka kembali normal.

Baca Juga: Ini Bedanya Pilek, Flu, dan Pneumonia, Jangan sampai Tertukar ya!

Pencegahan Bronkopneumonia pada Anak

pencegahan bronkopneumonia pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Vaksinasi dapat mencegah beberapa bentuk bronkopneumonia pada anak.

American Lung Association (ALA) merekomendasikan bahwa anak-anak yang berusia di bawah lima tahun dan orang dewasa yang berusia di atas 65 tahun harus memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan vaksinasi terhadap pneumonia pneumokokus, yang disebabkan oleh bakteri.

ALA juga merekomendasikan untuk melakukan vaksinasi terhadap penyakit lain yang dapat menyebabkan pneumonia, seperti flu, campak, cacar air, Hib, atau pertusis.

Berbicara dengan dokter tentang cara mencegah pneumonia dan infeksi lain bila orang mengidap kanker atau HIV, serta memahami dan mengenali gejala pneumonia.

Pola hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan secara teratur untuk menghindari kuman, serta tidak merokok tembakau juga penting dilakukan agar tidak merusak kapasitas paru-paru untuk melawan infeksi.

Jika seseorang di rumah mengalami infeksi saluran pernapasan atau infeksi tenggorokan, pisahkan gelas minum dan peralatan makan dari anggota keluarga lainnya, dan sering-seringlah mencuci tangan, terutama jika memegang tisu bekas atau sapu tangan kotor.

Itulah penjelasan mengenai bronkopneumonia pada anak, mulai dari gejala hingga pencegahannya. Segera bawa Si Kecil ke dokter jika Moms menemukan gejala mencurigakan yang mengarah pada bronkopneumonia.

Artikel Terkait