KESEHATAN
11 Agustus 2019

Ups! 5 Mitos Makanan Ini Ternyata Salah

Apakah Moms juga sempat percaya dengan mitos-mitos makanan ini?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Intan Aprilia

Selalu ada mitos dan kekeliruan tentang makanan. Seperti larangan memakan banyak garam, gula, atau telur.

Memang pantangan-pantangan tersebut awalnya agar kita tidak berlebihan memakan sesuatu. Namun nyatanya, mitos tersebut malah terlalu melekat, sehingga menutupi informasi sebenarnya.

Jika Moms bertanya-tanya tentang mitos makanan, mereka sebagian besar hanya informasi yang salah tentang makanan atau kebiasaan makanan yang mungkin telah dimulai sebagai klaim tidak berdasar yang telah menyebar melalui mulut ke mulut atau media.

Mitos seringkali dipicu oleh rasa takut dan diterima tanpa berpikir kritis. Berikut adalah fakta-fakta tentang beberapa mitos makanan yang paling umum.

Baca Juga: 7 Makanan yang Baik untuk Kesehatan Hati

Mitos Makanan 1: Telur

mitos makanan

Moms mungkin pernah mendengar mitos bahwa telur buruk bagi jantung karena kuning telur mengandung kolesterol. Tapi sebenarnya tidak seperti itu.

Walaupun makan lebih dari beberapa telur setiap hari dapat mempengaruhi jumlah kolesterol, penelitian menunjukkan bahwa makan satu atau dua telur sehari tidak akan membahayakan.

Telur memang mengandung kolesterol, tetapi sejauh ini belum ada hubungan antara telur dengan kolesterol darah tinggi atau penyakit kardiovaskular pada orang sehat.

Ini karena hanya 25 persen kolesterol yang berasal langsung dari makanan; sisanya disintesis oleh hati ketika Moms makan sumber lemak jenuh seperti donat, burger, dan makanan cepat saji lainnya.

Telur memiliki banyak nutrisi lain yang bahkan mengimbangi efek negatif kolesterol. Karena itu, bila membuat telur dadar sesekali, Moms tidak perlu membuang kuning telurnya.

Mitos Makanan 2: Gula

mitos makanan

Moms mungkin merasa kecanduan gula, tetapi ternyata tidak. Anggapan yang membandingkan kecanduan gula sama dengan kecanduan narkoba sepertinya terlalu berlebihan.

"Otak kita terhubung dengan sistem penghargaan yang merupakan bagian integral dari kelangsungan hidup kita," kata Beth Rosen, ahli nutrisi dari Goodness Gracious Living Nutrition.

Otak akan melepaskan dopamine yakni sebuah zat kimia yang membuat kita merasa bahagia ketika kita makan. Ini membantu kita merasa termotivasi untuk makan.

“Semakin lapar kita, semakin dopamin dipicu ketika makan untuk memotivasi kita untuk makan lebih banyak," jelas Beth.

Ada anggapan bahwa gula alami lebih sehat, sementara yang lain tidak. "Gula dipecah menjadi glukosa untuk digunakan tubuh sebagai bahan bakar," jelas Kimmie Singh, MS, RD, seorang ahli nutrisi.

"Tubuhmu tidak membeda-bedakan berdasarkan dari makanan apa glukosa berasal, apakah itu dari brownies atau semangkuk nasi merah. Perbedaan antara stroberi dan kue adalah karena apa yang ada dalam makanan itu. Stroberi memiliki nutrisi seperti serat, kalium, dan vitamin C. Sementara itu, kue memiliki nutrisi seperti lemak jenuh, natrium, dan karbohidrat,” tambah Kimmie.

Baca Juga: Ternyata Segini Takaran Gula yang Bisa Dikonsumsi per Hari

Mitos Makanan 3: Air

mitos makanan

Hidrasi jelas penting, tapi 8 gelas bukanlah sebuah patokan. Sebenarnya kebutuhan minum air putih ini tergantung berdasarkan faktor lingkungan, usia, berat badan, dan tingkat aktivitas kita.

Mitos Makanan 4: Masak dengan Microwave

mitos makanan

Pasti Moms pernah dengar bahwa memasak dengan microwave akan mengurangi kadar gizinya. Mitos ini sebagian besar ada karena ada banyak kesalahpahaman mengenai cara kerja microwave.

Faktanya, gelombang mikro menembus makanan dan memanaskannya lebih efisien dan cepat dibandingkan dengan metode memasak lainnya.

Oleh karena itu, tidak ada lapisan kerak atau terlalu panas; nutrisi juga memiliki waktu lebih sedikit untuk memecah atau menjadi tidak berguna.

Baca Juga: Jangan Keliru, Ini 5 Makanan yang Tidak Boleh Dipanaskan dalam Microwave

Mitos Makanan 5: Buah dan Sayur Kaleng

mitos makanan

Jika kebanyakan orang berpikir bahwa makanan kaleng tidak mengandung nutrisi, yang ada adalah kebalikannya. Apa yang disebut buah-buahan atau sayuran 'segar' telah menempuh perjalanan panjang dari ladang ke supermarket.

Dalam perjalanan yang dapat berlangsung dari hari ke minggu, enzim yang dilepaskan di dalamnya membuat mereka kehilangan beberapa nutrisi.

Namun, pengalengan atau pembekuan buah-buahan dan sayuran, memproses produk dengan cara membekukan juga akan membuat nutrisi mereka terkunci.

Yang mengejutkan, ditemukan bahwa beberapa makanan kaleng atau makanan beku sebenarnya memiliki lebih banyak nutrisi daripada makanan segar.

Mitos makanan seringkali tidak berdasar namun malah menyebar dengan cepat. Sebenarnya, yang diperlukan hanyalah sedikit riset untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak. Jangan malas untuk mencari tahu, Moms!

(FAR)

Artikel Terkait