KELUARGA
23 Juni 2020

Orgasme Tidak Terkontrol, Mengapa Bisa Terjadi?

Orgamse tidak terkontrol sebaiknya segera diperiksakan ke dokter
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Serenata Kedang
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms, pernah mendengar istilah orgasme tidak terkontrol? Dari istilahnya, mungkin terdengar menyenangkan, ya, apalagi yang namanya orgasme.

Namun, nyatanya orgasme tidak terkontrol ini adalah kondisi sangat membuat tidak nyaman, bahkan menganggu aktivitas sehari-hari.

Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan persistent genital arousal disorder atau PGAD (gangguan rangsangan genital persisten). Menurut International Society of Sexual Medicine (ISSM), PGAD adalah kondisi yang terjadi ketika seorang perempuan mengalami rangsangan genital tanpa stimulasi seksual apapun.

PGAD sama sekali tidak menyenangkan dan jauh berbeda dengan orgasme biasa. “Tidak hanya bisa menyakitkan, tetapi orgasme spontan ini bisa membuat perempuan merasa sedang orgasme hanya saja tidak ada perasaan lega,” kata dokter kandungan Jessica Shepherd, MD.

Gejala Orgasme Tidak Terkontrol

Sebab dan Akibat Orgasme Tak Terkontrol, Bagaimana Menghadapinya? 1.jpg

Gejala utama PGAD ialah serangkaian sensasi berkelanjutan dan tidak nyaman di dalam dan sekitar jaringan genital, termasuk klitoris, labia, vagina, perineum, dan anus. Sensasi yang dialami ini disebut sebagai disestesia. Gejala ini pun bisa mencakup:

  • Kebasahan
  • Gatal
  • Tekanan
  • Rasa terbakar
  • Jantung berdebar
  • Rasa seperti ditusuk jarum

Gejala-gejala ini terjadi tanpa adanya hasrat seksual.

Baca Juga: Apa itu Orgasme Kering?

Penyebab Orgasme Tidak Terkontrol

Sebab dan Akibat Orgasme Tak Terkontrol, Bagaimana Menghadapinya? 2.jpg

Ada beberapa hal yang memicu PGAD, seperti stimulasi seksual berlebihan, masturbasi berlebihan, kecemasan, dan stres. Beberapa ahli percaya bahwa kondisi PGAD bersifat psikologis.

Kondisi ini seringkali melibatkan gejala depresi dan kecemasan, yang bisa membuat seseorang lemah dan sensitif.

Namun, penderita PGAD biasanya tidak bisa mengidentifikasi apa pemicunya supaya bisa menghindarinya dan penyebabnya pun biasanya tidak diketahui. Namun, pada beberapa perempuan, stres dianggap faktor paling besar yang bertanggung jawab terhadap PGAD.

Setelah stres berkurang, biasanya kondisinya pun ikut cenderung tenang. Untuk itulah, beberapa ahli beranggapan kalau PGAD atau orgasme tidak terkontrol ini mungkin bersifat psikologis.

Tetapi, tidak semua PGAD juga disebabkan oleh stres. Penelitian yang diterbitkan The Institute for Sexual Medicine menyiratkan hubungan antara PGAD dan pembuluh darah, hormon, sistem saraf, dan keseimbangan kimia setelah menggunakan beberapa jenis obat.

Bahkan, jenis kista Tarlov pun bisa jadi pemicu PGAD. Dalam beberapa kasus, PGAD dianggap sebagai reaksi terhadap kista Tarlov yang ada di tubuh penderita.

Selain itu, para peneliti juga menunjukkan PGAD sebagai gejala sekunder dari:

  • Sindrom Tourette
  • Trauma pada sistem saraf pusat
  • Epilepsi
  • Efek intervensi pasca operasi untuk vena yang cacat atau di punggung bawah
  • Perubahan hormon atau obat

Baca Juga: Hal Seputar Orgasme saat Hamil yang Wajib Diketahui

Cara Menyembuhkan PGAD

2 Kurangi Stres.jpg

Sayangnya, sampai sekarang belum ada obat yang ditemukan untuk menyembuhkan PGAD. Namun, gejalanya bisa Moms kelola dengan berbagai cara. Misalnya, karena stres dianggap sebagai pemicu utama, terapi perilaku kognitif sangat membantu bagi sebagian besar perempuan.

Dalam sesi terapi, Moms bisa mengidentifikasi pemicu yang jadi penyebab PGAD, sehingga bisa belajar bagaimana mengatasi rasa malu dan kecemasan yang ditimbulkan oleh orgasme spontan tersebut.

Ada pula obat-obatan yang biasanya diresepkan untuk depresi dan kecemasan, yang bisa membantu meredakan stres psikologis seputar orgasme tidak terkontrol. Kemudian, Moms bisa juga mencoba latihan dasar panggul atau mengaplikasikan es pada alat kelamin.

Baca Juga: Tentang Orgasme Perineum dan 3 Cara untuk Mendapatkannya

Itulah sekilas mengenai PGAD atau orgasme tidak terkontrol, Moms. Apabila Moms atau kerabat dekat Moms mengalami hal serupa, jangan sungkan untuk segera berobat ke dokter, ya.

Artikel Terkait