BALITA DAN ANAK
17 November 2019

Pendidikan Seks untuk Balita, Simak Batasannya

Jangan marahi anak saat memainkan kelaminnya
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Pendidikan seks ternyata bisa diajarkan sejak anak masih balita. Di usia ini, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan ingin mengeksplor tubuh.

Sewaktu-waktu Moms akan menemukan momen anak mengeksplorasi seksualitas dirinya maupun orang lain. Moms perlu tahu cara meresponsnya dengan tepat agar terjadi diskusi yang sehat dan terbuka seputar seks hingga anak dewasa.

Berikut batasan pendidikan seks untuk balita dan tanggapan yang disarankan:

Anak Memainkan Kelamin

Pendidikan Seks untuk Balita

Foto: familyeducation.com

Balita seringkali mengekspresikan keingintahuan seksualnya melalui rangsangan diri ketika sedang telanjang, misalnya saat mandi dan dipakaikan popok. Anak laki-laki menarik-narik penisnya, sedangkan anak perempuan menggosok-gosokkan kelaminnya.

Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), perilaku ini wajar dan tidak tergolong aktivitas seksual. Karena itu, anak tidak perlu dimarahi atau dihukum. Membuat anak merasa bersalah karena ingin tahu justru membuat anak semakin penasaran terhadap area pribadinya atau merasa malu.

Moms bisa mengabaikan perilaku tersebut dan mengalihkan perhatian anak ke hal lain. Atau, akui bahwa anak sedang mengeksplor tubuhnya, tapi katakan bahwa tidak baik melakukan hal tersebut di depan umum.

Terkadang, sering masturbasi mengindikasikan bahwa anak sedang menghadapi masalah. Misalnya, anak merasa cemas, tidak mendapat perhatian di rumah, atau bahkan tanda pelecehan seksual.

Baca Juga: Ketika Anak Bertanya Tentang Seks

Anak Main Dokter-dokteran

Pendidikan Seks untuk Balita

Foto: 66.media.tumblr.com

Anak berusia 3-6 tahun menyadari bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kelamin berbeda. Rasa ingin tahu mereka membuat mereka bermain dokter-dokteran dengan memeriksa organ seks anak lain.

Moms, kegiatan ini tidak seperti aktivitas dewasa seksual, kok. Tidak berbahaya jika dilakukan oleh balita. Namun, Moms bisa mengalihkan perhatian anak ke kegiatan lain, lalu ajak anak bicara saat suasana memungkinkan.

Jelaskan bahwa Moms mengerti bahwa anak penasaran dengan tubuh temannya. Tapi, tubuh itu harus ditutup di depan orang lain. Dengan demikian, Moms memberikan batasan dalam menjelaskan pendidikan seks untuk balita tanpa membuat anak merasa bersalah.

Baca Juga: Jangan Bingung, Begini Cara Memberi Pendidikan Seks pada Anak

Menanggapi Pertanyaan Balita tentang Seks

Pendidikan Seks untuk Balita

Foto: s-i.huffpost.com

Jika balita bertanya bayi berasal dari mana, Moms bisa menjawab bahwa bayi berasal dari sperma laki-laki yang bertemu dengan sel telur perempuan.

Kebanyakan anak berusia di bawah enam tahun akan menerima jawaban ini. Moms tidak perlu menjelaskan hubungan seks karena anak yang masih sangat kecil tidak akan memahami konsep tersebut.

Seiring kedewasaan anak, ia akan menanyakan pertanyaan yang lebih detail. Momspun perlu menjawab dengan lebih detail menggunakan terminologi yang tepat sesuai usianya.

Baca Juga: Kapan Umur yang Tepat Membicarakan Pendidikan Seks dengan Anak?

Beri Tahu Sentuhan yang Boleh dan Tidak Boleh

Pendidikan Seks untuk Balita

Foto: static.onecms.io

Balita sudah bisa diberi tahu bahwa area privat mereka tidak boleh disentuh, bahkan oleh teman atau saudara sekalipun. Kecuali, menurut AAP, jika orang tua berusaha mencari sumber rasa sakit atau tidak nyaman di area kelamin, atau ketika dokter atau suster melakukan pemeriksaan.

Katakan pada anak, jika seseorang menyentuh mereka dengan aneh atau terlihat jahat, anak harus berani mengatakan tidak dan melaporkannya ke Moms.

Pendidikan seks untuk balita tidak dapat dilakukan sekali saja. Sebaiknya, Moms memanfaatkan peluang sehari-hari untuk mendiskusikan soal seks. Misalnya saat anak mandi, saat ada yang hamil, dan sebagainya.

Artikel Terkait