KEHAMILAN
24 Juli 2019

Penting Menjaga Emosi saat Hamil

Seberapa penting menjaga emosi saat hamil? Dan seberapa pengaruh kondisi ini terhadap kehamilan Moms? Ini ulasannya.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Carla Octama

Perjalanan kehamilan bukan proses yang mudah.

Selama kurang lebih 9 bulan, Moms harus beradaptasi dengan perubahan besar yang terjadi sebagai seorang wanita.

Belum lagi dengan segala tanggung jawab yang harus dilakukan setelah sang calon buah hati lahir ke dunia pastinya akan menjadi tantangan tersendiri bagi Moms dan pasangan.

Namun, pastinya setiap pasangan suami istri tentunya mensyukuri anugerah terindah anak di tengah-tengah keluarga mereka, bukan?

Hal yang harus dipahami Moms adalah perubahan demi perubahan yang terjadi saat hamil, baik dari segi fisik maupun psikis.

Semua perubahan tersebut dipengaruhi oleh hormon yang melonjak naik mulai dari Moms memasuki masa kehamilan.

Baca Juga : Emosi Negatif Hadir saat Hamil, Ini Cara Mengatasinya

Saat Moms mengetahui diri tengah mengandung, maka tubuh mulai bersiap menjaga dan mempertahankan janin dalam kandungan.

Nah, dalam proses inilah maka kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh akan mengalami peningkatan.

Kegunaan hormon-hormon ini tentunya agar menjaga kehamilan tetap sehat, namun tak dapat dipungkiri terdapat beberapa efek samping yang dapat menyertai.

Kondisi ini biasanya Moms mulai rasakan pada trimester pertama, untuk itu Moms mudah merasa mual, muntah, lemas, dan emosi yang tidak stabil. Kondisi ini bisa masuk dalam morning sickness.

Beberapa waktu berikutnya, ketika tubuh Moms sudah mulai beradaptasi, maka gejala-gejala tadi dapat berkurang hingga menghilang. Namun, menjaga kestabilan emosi tetap menjadi salah satu tugas utama Moms saat masa kehamilan.

Emosi Ibu Berpengaruh pada Janin

Pentingnya Menjaga Emosi saat Hamil-2.jpg

Foto: evoke

Ya, emosi ibu akan berpengaruh pada emosi sang janin dalam kandungan.

Jadi, ketika Moms mudah marah, kesal, dan stres, maka hal tersebut dapat berpengaruh pada kondisi bayi nanti ketika sudah lahir. Hal ini didukung oleh Astrid Hendrawati yang sudah berpengalaman lebih dari 3 tahun di bidang Awareness Meditation Facilitator Stress Release - Forgiveness Therapy.

“Perhatikan kestabilan Moms saat mengandung karena itu menentukan kondisi bayi baik secara fisik atau psikis. Kestabilan emosi ibu ternyata memengaruhi kondisi kestabilan emosi sang anak. Jangan sampai ada warisan hal negatif yang menurun pada anak,” ujar Astrid saat berbincang-bincang pada Kulwap Orami Community, Jumat (14/6) lalu.

Warisan negatif maksudnya adalah kepercayaan yang muncul bersamaan dengan emosi negatif yang Moms rasakan.

Banyak bentuknya, seperti kekhawatiran berlebihan terhadap kemampuan diri sebagai seorang ibu, kekecewaan dengan pasangan yang dianggap tidak memahami diri Moms selama hamil, atau masalah yang terjadi antara Moms dan orangtua.

Baca Juga : 4 Tips Meningkatkan Kecerdasan Emosional Anak

Pada dasarnya, setiap manusia tidak ada yang sempurna karena pasti ada saja kesalahan yang dapat dilakukan. Namun, kesalahan tersebut bisa menjadi pelajaran berharga di kemudian hari.

Jadi, daripada Moms menyimpan kekecewaan terhadap ekspektasi yang tak terwujud, lebih baik Moms melepaskan penat tersebut agar tidak menjadi emosi negatif yang sia-sia.

“Belajar untuk memaafkan diri sendiri dan berhenti menyalahkan diri terhadap apa yang sudah terjadi. Berhenti untuk merasa tidak cukup baik, tidak cukup cantik, dan lainnya. Setelah kita mampu menerima diri, maka lebih mudah memaafkan orang lain,” ungkap Astrid menjelaskan.

Belajar untuk memaafkan pasangan, orangtua, teman, atau siapa pun yang pernah menyakiti dan mengecewakan hati kita.

Kelola ekspektasi kita agar tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap apa yang belum terjadi. Belajar untuk mengontrol diri agar tidak terlalu stres saat menghadapi masalah.

Ingat, Moms, apa yang saat ini ada dalam pikiran Moms dapat memengaruhi Si Kecil yang berada dalam kandungan.

Jadi, lebih baik penuhi dengan pemikiran yang positif dan menyenangkan hingga kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya, ya!

(DG/CAR)

Artikel Terkait