NEWBORN
13 Juni 2020

Pertolongan Pertama pada Bayi yang Sesak Nafas

Terdapat alasan bayi prematur rentan risiko kesulitan bernapas
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Begita
Disunting oleh Dina Vionetta

Tidak seperti anak atau orang dewasa, bayi tidak bisa mengungkapkan perasaan mereka terhadap sakit yang diderita.

Sebagian sakit dapat dikomunikasikan dengan menangis, sebagiannya tidak.

Moms mesti jeli ketika si kecil kesulitan bernapas, apakah bayi sedang sesak napas atau mengalami hidung tersumbat.

Sehingga orang dewasa dapat langsung memberikan pertolongan pertama bayi sesak napas yang sesuai prosedur, sebelum akhirnya ditangani secara klinis.

Baca Juga: 6 Cara Mengatasi Sesak Napas pada Trimester Ketiga, Efektif!

Tanda Bayi Sesak Napas

Pertolongan Pertama pada Bayi Sesak Nafas

Foto: Orami Photo Stock

Jika Moms mendengar napas bayi disertai suara melengking, jangan buru-buru panik.

Suara bernada tinggi ini dianggap tidak berbahaya dan disebabkan oleh jaringan berlebih di sekitar laring bayi. Anda tidak perlu khawatir karena akan berlalu dalam satu tahun atau lebih.

Begitu pula dengan suara siulan, karena hidung yang kecil sedang tersumbat lendir atau susu yang mengering.

Moms hanya perlu membantu mengeluarkan upil dengan cotton bud yang sudah dicelup ke air panas, atau secara hati-hati, dengan ujung kuku Moms.

Bayi dengan asma, bronkitis, pneumonia, atau radang paru, umumnya dapat ditangani dengan obat-obatan atau bantuan oksigen.

Namun terdapat situasi darurat dalam sesak napas apabila bayi tidak bernapas normal, kehilangan kesadaran, dan sebagian wajahnya membiru.

Dilansir Healthline, para ahli menyatakan normalnya, bayi baru lahir bernapas 30-60 tarikan per menit.

Sementara saat tidur menjadi 20 kali tarikan per menit.

Di atas 6 bulan, bayi bernapas 25-60 tarikan per menit. Jika Moms menghitung napasnya lebih cepat dari itu, segeralah memberikan pertolongan pertama bayi sesak napas.

Selain itu, bayi dengan sesak napas parah akan mengalami perubahan warna kulit atau kulit berwarna biru di sekitar hidung dan mulutnya.

Itu menandakan bahwa ia mungkin tidak menerima cukup oksigen.

Lubang hidung pada bayi yang kesulitan napas akan berkembang lebih lebar ketika menarik udara.

Baca Juga: Mengenal 4 Masalah Gangguan Pernapasan Pada Bayi Baru Lahir

Bayi Prematur Rentan Sesak Napas

Pertolongan Pertama pada Bayi Sesak Nafas

Foto: Orami Photo Stock

Umumnya masalah pernapasan pada bayi terlihat ketika ia baru saja lahir, dan tidak langsung menangis.

Dokter atau bidan akan segera menambahkan cairan khusus, menepuk dada dan punggungnya, sebagai pertolongan pertama bayi sesak napas.

Namun dalam perkembangannya, penyakit pernafasan pun akan terdeteksi di bulan-bulan pertama kehidupan.

Dalam salah satu studi yang diterbitkan Pediatrics in Review, disebutkan bahwa penyebab gangguan pernapasan pada bayi baru lahir beragam dan multisistemik.

Penyebab sesak napas mungkin terkait dengan perubahan selama perkembangan paru-paru normal atau transisi ke kehidupan ekstrauterin.

Itulah kenapa bayi prematur yang rentan risiko kesulitan bernapas, penyakit paru-paru kronis, atau infeksi pada organ pernapasan.

“Displasia bronkopulmonalis (BPD), misalnya, adalah penyakit paru-paru yang signifikan yang mempersulit prematur karena terhentinya alveolarisasi dalam mengembangkan paru-paru yang terpapar dengan ventilasi mekanik, oksigen, dan mediator inflamasi lainnya sebelum perkembangan normal selesai,” demikian kutipan dari hasil studi Suzanne Reuter, dari University of South Dakota, Sanford Children’s Specialty Clinic.

Penyebab sesak napas lainnya pada bayi yakni asma, asfiksia atau tubuh kekurangan oksigen, pneumonia, dan infeksi paru bawaan.

Pertolongan Pertama Bayi Sesak Napas

Pertolongan Pertama pada Bayi Sesak Nafas

Foto: Orami Photo Stock

Setelah Moms yakin bayi dalam situasi darurat sesak napas, segera bersiap berangkat ke fasilitas kesehatan atau hubungi dokter anak untuk datang.

Selama menunggu ambulans, perjalanan, atau antrean, Moms dapat lakukan tindakan-tindakan ini.

Gendong bayi pada posisi miring, dengan posisi kepala sedikit lebih rendah dari punggung dan pantatnya.

Posisi ini menjaga jalan napas tetap terbuka. Ini juga memastikan cairan apapun mengalir keluar mulut.

Terus beri stimulasi agar ia merespons. Misalnya dengan mengajak bicara atau bercanda.

Konsultasi langsung dengan dokter adalah suatu keharusan. Tes dan gejala lebih lanjut akan membantu dokter untuk memberikan saran obat atau antibiotik.

Kadang-kadang, bahkan x-ray direkomendasikan untuk mengkonfirmasi kecurigaan penyakit paru-paru yang serius.

Baca Juga: Mengenal 4 Masalah Gangguan Pernapasan Pada Bayi Baru Lahir

Artikel Terkait