NEWBORN
14 November 2017

Pneumonia Pada Bayi, Apa Penyebab dan Gejalanya?

Tahukah Moms bahwa virus atau bakteri dapat menyebabkan pneumonia?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh katri.dyah
Disunting oleh katri.dyah

Tahukah Moms bahwa virus atau bakteri dapat menyebabkan pneumonia? Gejala seperti demam tinggi, batuk, dan muntah termasuk tanda-tanda dari pneumonia. Penting untuk mengetahui dan mengenali tanda-tanda pneumonia pada anak dan bayi serta cara tepat dalam pengobatannya.

Apa Itu Pneumonia?

Pneumonia merupakan penyakit yang mengancam jiwa. Penyakit ini disebabkan oleh virus atau bakteri yang menimbulkan terjadinya infeksi paru-paru. Jika sudah terinfeksi maka kantung udara pada paru-paru akan berisi nanah dan cairan lainnya, yang menyebabkan penderitanya sulit bernapas. Baik pneumonia yang disebabkan oleh virus maupun bakteri, menyerang dengan cepat dan berbahaya jika tidak diobati. Dalam sebagian besar kasus, pneumonia dapat berupa flu atau batuk parah, tetapi infeksi bakteri juga dapat meluas tanpa adanya gejala pilek terlebih dahulu.

Gejala dan Tanda-Tanda Pneumonia

shutterstock 734893591

Jika si kecil menunjukkan beberapa tanda batuk pneumonia di bawah ini, maka ia harus segera mendapatkan penanganan medis, Moms.

1. Bibir atau wajah pucat menandakan bahwa si kecil tidak mendapatkan asupan oksigen yang mencukupi dan harus segera mendapatkan penanganan rawat inap.

2. Demam tinggi, khususnya lebih dari 39 derajat Celsius dan disertai dengan panas dingin dan nyeri otot.

3. Mudah mengantuk, lemas dan kekurangan energi.

4. Pola pernapasan cepat tapi dangkal, bukan dari dada melainkan dari perut, dan hidung berair atau mengi.

5. Batuk basah, lendir (berwarna hijau atau kekuningan) mungkin keluar dari paru-paru. Dalam beberapa kasus, lendir terkadang juga disertai dengan darah.

6. Kulit berwarna biru atau gelap (pada bayi, terutama terlihat di sekitar bibir dan wajah).

7. Sakit pada bagian dada atau abdominal, tergantung bagian paru-paru mana yang terinfeksi.

8. Masalah perut seperti mual, muntah hingga diare.

Cara Mencegah Pneumonia

Tidak ada jaminan cara untuk menghindari pneumonia, tetapi ada beberapa tindakan pencegahan yang dapat Moms terapkan untuk meminimalisasi resiko pneumonia pada si kecil. Setiap orangtua dan pengasuh bayi harus secara rutin mencuci tangan, botol, mainan dan dot bayi untuk membasmi bakteri dan virus yang kemungkinan melekat. Bayi dapat diberikan vaksin pneumococcal, yang saat ini sudah boleh diberikan pada bayi di bawah 2 tahun.

Pengobatan Pneumonia

shutterstock 700914112 (1)

Pneumonia tidak dapat Moms tangani sendiri di rumah, Moms harus segera membawa si kecil ke dokter. Sangat penting untuk mengikuti insting ibu dan segera mencari bantuan. Batuk basah sebenarnya berguna untuk proses penyembuhan, tetapi jangan gunakan obat batuk atau ekspektoran tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.

Untuk pneumonia yang disebabkan oleh bakteri, dokter mungkin menganjurkan pemberian antibiotik, biasanya kondisi si kecil akan lebih membaik setelah pemberian dosis kedua. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati pneumonia yang disebabkan oleh virus. Konsultasikan dengan dokter untuk memastikan panduan pengobatan tertentu yang direkomendasikan untuk pemulihan si kecil di rumah.

Baca juga: Anak Sesak, Bolehkah Menggunakan Nebulizer di Rumah?

Perawatan mandiri bisa dilaukan dengan mandi uap di rumah. Setelah selama 10 menit berada di dalam kamar mandi uap bersama si kecil, gosok lembut punggung dan dada si kecil menggunakan telapak tangan Moms selama beberapa menit. Penanganan ini dapat menyebabkan si kecil batuk, di mana ini adalah tanda bahwa perawatan yang Moms lakukan bereaksi. Dokter biasanya merekomendasikan perawatan mandiri ini baik untuk pneumonia yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Gunakan penghangat ruangan saat malam hari.

Moms bisa memberikan asetaminofen (Tilenol untuk anak-anak) atau ibuprofen untuk membantu menurunkan demam dan meringankan nyeri. Namun, ingat, selalu konsultasikan segala obat dan perawatan yang Moms lakukan di rumah ke dokter ahli.

RGW

Artikel Terkait