PARENTING
14 Juni 2019

Dengan Mantap! Saya Menyekolahkan Anak-Anak ke Sekolah Berbasis Agama

Masalah pemilihan sekolah anak adalah keputusan besar yang penuh pertimbangan
Artikel ditulis oleh Prita Apresianti
Disunting oleh Prita Apresianti

Oleh : Prita Apresianti, Head of Content Orami Parenting

Mama dari Resya Callaluna (12thn) dan Dyandra Danikanayla (7thn).

Tak ubahnya dengan orang tua lain yang punya beragam perhitungan saat memilih sekolah, saya dan suami pun mengalami hal yang sama, sampai akhirnya kami sepakat memilih sekolah berbasis agama Islam untuk kedua putri tercinta.

Apakah semua berjalan lancar sesuai rencana? Sudah pasti happy ending hanya terjadi di cerita fairy tale negeri dongeng, Moms.

Pertimbangan Awal

WhatsApp Image 2019-06-06 at 2.03.37 PM.jpeg

Saya adalah produk lulusan sekolah berbasis agama Katholik. Dan bukan sembarang sekolah Katholik. Sekolah saya mengambil nama Santa dan Santo. Bahkan saat SD dan SMP kepala sekolahnya adalah Suster atau Biarawati.

Ayah saya, yang juga lulusan sebuah sekolah Katholik ternama di Semarang memang hanya memperbolehkan anak-anaknya bersekolah di Sekolah Katholik. Masalah kedisiplinan jadi pertimbangan utama Beliau saat itu. Jadilah saya menjalani pendidikan selama 14 tahun di sekolah Katholik.

Apa rasanya? Sudah pasti penuh ketegangan. Yang saya ingat ketika SD, buku PR yang tertinggal bisa bikin lutut super lemas. Salah pakai seragam akan membuat saya panik dan takut luar biasa melangkah ke dalam sekolah. Dapat nilai ulangan jelek? Siap-siap dihukum, agenda ditulisi peringatan warna merah yang harus ditanda tangan orang tua, dan sudah pasti wajib ikut kelas tambahan. Tapi tak bisa dipungkiri dari sini nilai kedisiplinan tertanam dalam diri saya. Berangkat beraktivitas jangan sampai terlambat, dan tugas harus diselesaikan on time, daripada terbawa sampai ke mimpi! Ha..ha.

Saatnya menentukan pilihan

WhatsApp Image 2019-05-31 at 8.47.34 AM.jpeg

Lama mengecap pendidikan di sekolah Katholik dan berada di keluarga yang cenderung santai soal agama, bikin pengetahuan saya juga tidak terlalu mahir. Inilah yang lantas dilihat oleh suami saya. Ia menyarankan supaya anak pertama kami bersekolah di sekolah berbasis agama Islam. Apalagi kami berdua sama-sama bekerja. Bisa jadi kami punya keterbatasan dalam urusan memberi pendidikan agama. Padahal kami sepakat kalau di zaman yang sudah makin modern ini, pendidikan agama merupakan dasar terpenting untuk pendidikan anak.

Setelah diskusi panjang dan pilihan sudah dijatuhkan, bukan berarti gampang memilih sekolah yang tepat. Ada begitu banyak sekolah berbasis agama Islam di sekitar area tempat tinggal kami. Belum lagi tak jarang ada rumor soal sekolah berbasis agama Islam dengan “aliran” yang beda. Makin bikin galau.

Saya pun langsung cari info di internet, tanya ke beberapa kenalan, plus aktif bertanya saat Open House sekolah. Dan akhirnya kami memutuskan untuk memilih sebuah sekolah Islam yang namanya sudah terkenal puluhan tahun dan punya cabang di seluruh Indonesia. Pertimbangannya tentu karena nama besar yayasannya.

Tantangan mulai hadir

WhatsApp Image 2019-05-31 at 8.48.41 AM.jpeg

Lupa saya sebutkan kalau riwayat pekerjaan saya adalah di media lifestyle, sudah pasti gaya berpakaian saya jadi cenderung casual dan harus mengikuti trend.

Apakah ini jadi masalah? Betul sekali, ini adalah problem pertama. Seolah-olah gaya sayanpun sering “saltum” saat ke sekolah. Apalagi di sekolah ada area Zona Baju Muslim. Lalu harus gimana? Meski awalnya berat, tapi saya harus kembali ke komitmen awal. Menyekolahkan anak di sekolah Islam sudah pasti harus siap dan menerima semua konsekuensinya.

Saya pun mulai mengoleksi (lebih tepatnya mengumpulkan baju Lebaran yang potongannya panjang) baju Muslim untuk dipakai saat ada undangan ke sekolah. Di mobil tak pernah ketinggalan ada kerudung dan cardigan, jaga-jaga kalau tiba-tiba harus mampir ke sekolah. Aman! Saat suatu hari anak pertama saya akan khatam Al Q'uran pun saya dibantu seorang teman kantor, browsing dan mencari outfit sesuai dress code di undangan. Ha..ha..ha. Seru!

Masalah kedua sudah pasti soal pengajaran agama. Demi amannya nilai di sekolah, saya pun mencari guru mengaji buat mendampingi anak-anak. Bagaimana saat anak-anak akan ulangan? Sudah pasti laptop standby di samping saya untuk cari tahu segala informasi yang belum saya kuasai. Hmm, sesekali bakat akting perlu dikembangkan, walau kurang paham tapi wajah harus dikontrol dan penuh percaya diri seolah paham saat anak mengaji. Setuju, kan?

Merasakan perbedaan besar

Meski sesekali merasa kurang klop dengan lingkungan sekolah, tapi karena saya dan suami memegang komitmen untuk menjadikan sekolah sebagai partner dalam mendidik anak, maka saya selalu berusaha lapang dada menjalankan apapun kebijakan yang ditentukan sekolah. Termasuk ketika di sekolah diumumkan kalau Idul Adha sudah jatuh satu hari sebelum keputusan pemerintah. Saya pun mencari mesjid yang sudah menggelar Sholat Ied dan mengajak anak-anak Sholat Ied di sana. Totalitas! Again, walaupun saya biasanya hanya mengikuti jadwal Lebaran yang ditetapkan pemerintah.

Tak bisa dipungkiri soal disiplin memang sekolah berbasis agama Katholik lebih unggul. Di sekolah anak-anak saya sekarang, para pengajarnya lebih lembut dan lebih sabar. Tapi di sisi lain, karena pengajarannya tidak “sekeras” di sekolah Katholik, anak-anak jadi dekat dengan gurunya. Ini juga yang bikin sekolah tak melulu memikirkan nilai akademis dan bisa mengembangkan potensi lain, selain akademis. Tentu ini jadi kabar gembira untuk anak yang prestasi di luar akademisnya menonjol.

Persiapan rencana selanjutnya

WhatsApp Image 2019-05-31 at 1.59.00 PM.jpeg

Di luar beragam kekurangan dan kelebihannya, saya cukup puas menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama Islam. Lagipula saya tahu tak akan ada sekolah yang sempurna sesuai angan-angan semua orang tua di muka bumi ini. Syukurkah, soal pengetahuan, kemampuan mengaji, dan hafalan surat sudah pasti dikuasai oleh anak-anak.

Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya? Kami sepakat kalau yang terpenting adalah 11 tahun pertama untuk pembentukan ahlak dan karakter. Kami percaya kalau setelahnya anak-anak akan tumbuh jadi pribadi yang baik hati dan taat pada agama. Untuk jenjang SMA nanti kami sepertinya mulai berpikir untuk memilih jenis sekolah yang fokus pada kemampuan anak. Kebetulan anak pertama saya punya bakat dan interest yang luar biasa pada seni rupa. Dan kabar gembiranya, sekarang sudah banyak sekolah menengah yang menjurus pada seni.

Semoga sharing saya ini bisa memberi insight baru buar para Moms yang sedang mempertimbangkan mencari sekolah atau malah memilih sekolah yang berbeda dengan yang dijalaninya dulu. It’s cool and fine to be different, right?

Saya yakin Moms yang lain punya pertimbangan lain, bahkan punya pilihan sekolah yang berbeda jauh dari pilihan saya. Tapi, hey saya percaya setiap ibu pasti punya pilihan terbaik buat anak. Tak perlu mencela, jangan menghakimi, karena menyandang predikat ibu saja sudah tak mudah.

Artikel Terkait