PARENTING
21 Oktober 2019

Sempat Ragu Sirkumsisi Anak saat Bayi, Kami Pun Melakukannya karena Tak Mau Ia Alami ISK Berulang

Suami sempat tidak setuju dilakukannya sirkumsisi saat Bima masih bayi
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Kartika Anindita, ibu dari Ayunda Cayla Nareswari (7) dan Bimasena Aryasatya (2)

Banyaknya artikel dan literatur mengenai sirkumsisi (sunat) pada bayi, membuat saya ikut berpikir jika sebaiknya anak laki-laki saya, Bima, yang saat itu baru lahir disirkumsisi saja saat usianya di bawah satu tahun.

Pertimbangan tersebut diperkuat dengan salah satu kerabat yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah. Ia menyarankan sebaiknya anak laki-laki sudah disirkumsisi saat bayi.

Selain proses penyembuhannya yang lebih cepat, juga bisa menghindari penyakit, misalnya seperti infeksi saluran kencing (ISK).

Saat menyampaikan usulan ke suami mengenai sirkumsisi Bima, suami tidak menyambut dengan baik niatan tersebut.

Ada berbagai alasan seperti apa tujuannya, pertimbangannya, juga merasa enggak tega karena Bima masih bayi, sampai perbedaan sirkumsisi saat usia bayi atau usia sekolah dasar (SD) yang dilontarkan olehnya.

Pada akhirnya, saat itu sepertinya niat saya untuk sirkumsisi Bima saat bayi harus ditunda dan menunggu sampai ia memasuki usia sekolah dasar.

Baca Juga: Kisahku Mengajak Si Kecil Lakukan Khitan Dini di Usia 20 Hari

Bima Mengalami Demam Tinggi, Namun Bukan DBD

Bima demam hampir seminggu.jpg

Foto: Orami/Kartika Anindita

Hingga suatu saat, Bima mengalami demam tinggi selama beberapa hari. Kala itu suhu tertingginya mencapai 39,9 derajat Celsius.

Saat dilakukan tes apakah ia mengalami DBD, ternyata hasil labnya menunjukkan angka-angka yang bisa dikatakan normal.

Tetapi karena demamnya tak kunjung turun, dokter spesialis anak menyarankan kami untuk cek urin di lab.

Saat memeriksa bagian ujung penis Bima, ternyata agak bengkak yang mengindikasikan Bima mengalami fimosis.

Fimosis merupakan kelainan pada penis yang belum disirkumsisi, di mana kulup penis melekat pada kepala penis sehingga tidak dapat ditarik ke belakang melewati kepala penis.

Saat hasil lab urin keluar, terlihat bahwa urin Bima mengandung banyak bakteri. Selain fimosis, dia ternyata juga mengalami ISK.

Dokter spesialis anak yang saat itu menangani Bima menyarankan untuk menjalankan sirkumsisi.

Sebenarnya, bila kami tak mau menjalankan sirkumsisi pada Bima pun sebenarnya tidak masalah. Hanya saja, kemungkinan untuk terjadi ISK berulang tetap ada.

Pengalaman salah satu rekan kerja saya, anaknya sempat terkena ISK sampai demam hingga 41 derajat Celcius tapi dia memutuskan untuk tidak melakukan sirkumsisi anaknya saat itu.

Saya yang memang sebelumnya punya niat dari dulu agar Bima disirkumsisi saat bayi, langsung menyetujui saran dokter.

Alasannya dan pertimbangannya tentu saja untuk kesehatan dan mencegah infeksi berulang.

Baca Juga: Proses Tumbuh Kembang yang "Beda" dari Anak Kebanyakan, Ini Kisah Saya Menerima Keadaan Ezio

Melakukan Sirkumsisi dengan Dokter Spesialis Bedah

Bima final check up sebelum operasi.jpg

Foto: Orami/Kartika Anindita

Karena usia Bima saat itu masih di bawah satu tahun, saya dan suami memutuskan untuk menjalankan tindakan sirkumsisi oleh dokter spesialis bedah, bukan di rumah sunat.

Setelah melakukan survei dokter spesialis bedah yang bagus, kami memutuskan untuk memilih salah satu dokter spesialis bedah umum yang berpraktek di Jakarta Selatan.

Sebagai info, dokter spesialis bedah umum ini dulu juga pernah melakukan tindakan sirkumsisi pada bayi salah seorang artis Indonesia yang ramai dibicarakan, karena bayinya yang baru beberapa hari lahir langsung disirkumsisi.

Ditambah, beberapa kolega yang saya tanyakan tentang dokter spesialis bedah umum ini memang bagus.

Tanpa menunggu lama, kami meminta dokter spesialis anak untuk membuatkan surat pengantar ke dokter spesialis bedah yang dimaksud.

Baca Juga: Gempa Palu Membuat Saya Tersadar untuk Punya Lebih Banyak Waktu dengan Si Kecil

Memulai Prosedur Sirkumsisi

Bima sebelum masuk ruang operasi.jpg

Foto: Orami/Kartika Anindita

Lalu, apa saja prosedur yang harus dilakukan sebelum sirkumsisi pada bayi?

Pertama tentu saja setelah berkonsultasi ke dokter spesialis anak, kita juga harus konsultasi ke dokter spesialis bedah.

Dokter spesialis bedah akan membuatkan surat pengantar untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti pemeriksaan darah, radiologi untuk rontgen paru-paru dan sebagainya.

Kemudian, konsultasi ke dokter spesialis anak di rumah sakit setempat untuk konsultasi lanjutan.

Terakhir, ke dokter spesialis anestesi untuk menjelaskan anestesi yang akan dipakai, juga memeriksa hasil lab yang sudah dilakukan.

Anestesi yang disarankan adalah bius total (bius umum), yang salah satu alasan pemakaiannya adalah untuk meminimalisir trauma pada anak.

Sebelum tindakan, Bima diharuskan untuk puasa makan dan minum selama 6 jam.

Baca Juga: Kunci Keberhasilan Toilet Training: Sabar, Konsisten, dan Kerja Sama

Proses Operasi Sirkumsisi Berjalan Lancar

Bima di ruang recovery.jpg

Foto: Orami/Kartika Anindita

Proses tindakan bedahnya tidak memakan waktu lama. Saya menemani Bima di ruang operasi hingga ia tertidur karena pengaruh anestesi.

Saat Bima sudah tertidur, baru saya diminta untuk keluar oleh perawat yang bertugas.

Tak lama menunggu di ruang tunggu operasi, sekitar 30 menit kemudian, saya dipanggil ke recovery room setelah operasi, dan kondisi Bima sudah sadar.

Sekitar dua jam di recovery room, tidak ditemukan kendala pada Bima setelah operasi. Baru kami diperbolehkan untuk pulang.

Sebelum pulang, dokter spesialis bedah memberikan kami tabung kecil berisikan kulit kulup penis Bima untuk dibawa (yang akhirnya kami tanam di rumah).

Obat-obatan yang dibawa juga hanya berupa salep antibiotik untuk dioleskan ke luka bekas sirkumsisi dan paracetamol.

Dokter hanya berpesan agar Bima dimandikan seperti biasa dan untuk sementara jangan dipakaikan popok sekali pakai terlebih dahulu.

Benar saja, proses penyembuhan luka sirkumsisi pada bayi lebih cepat lho, Moms! Dalam waktu kurang dari seminggu, terlihat bahwa luka bekas operasinya sudah kering dan sudah bisa dipakaikan popok sekali pakai kembali.

Alhamdulillah, sejak proses sirkumsisi sampai saat ini, Bima selalu sehat dan jarang sakit. Apa yang terpenting bagi kami adalah bisa mengurangi risiko terjadinya ISK berulang.

Jadi apakah sirkumsisi pada bayi itu harus dilakukan?

Jawabannya tentu ada pada diri masing-masing ibu, karena yang mengetahui keadaan dan kondisi anak adalah ibunya sendiri.

Tentu saja, keputusan apapun yang dilakukan oleh ibu terhadap anaknya adalah demi kebaikan anaknya sendiri, dan pastinya orang tua selalu memberikan keputusan yang terbaik.

Artikel Terkait