TREN
10 Agustus 2018

Unik, Tampilan Kulkas Retro MODENA di Tangan Tiga Seniman Indonesia

Dengan tiga konsep berbeda, kulkas ini jadi begitu menawan dilihat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh ade.ryani
Disunting oleh ade.ryani

Kulkas adalah salah satu barang elektronik yang tentu dimiliki setiap rumah tangga. Lantaran fungsinya untuk penyimpanan makanan, kulkas menjadi barang yang penting dan dibutuhkan banyak orang.

Desain, ukuran, dan harga kulkas pun bervariasi menyesuaikan kebutuhan konsumennya. Tapi, apa jadinya jika di luar fungsi utamanya, kulkas hadir sebagai karya seni eksentrik dengan filosofi yang unik?

Hal inilah yang ditemukan dalam acara pembukaan MODENA Experience Center (MEC) Suryo pada 7 Agustus 2018 lalu.

Pada kesempatan tersebut, publik diperkenalkan dengan MODENA Masterpiece Retrofridge, kulkas berukuran besar dengan desain retro yang dilukis tiga seniman berbakat Indonesia yaitu Darbotz, Indra Dodi, dan Naufal Abshar.

Baca Juga : Seru! Mengintip Peralatan Rumah Tangga Modern di One Stop Shopping : MODENA Experience Center Suryo

whatsapp image 2018 08 31 at 20.52.55

Ini adalah tahun kedua MODENA menggandeng para seniman untuk menjadikan bagian luar lemari pendingin sebagai medium ekspresi seni penuh arti.  

Ketiga pelukis menggoreskan passion, imajinasi, dan pengalamannya ke tingkatan dimana proses kreativitas menyatu dalam kanvas yang sama dengan kekuatan desain.

“MODENA menghadirkan kembali Masterpiece Retrofridge dengan pesan bahwa karya seni tidak hanya bisa dinikmati terbatas pada kolektor, kurator, atau seniman, namun juga dapat dinikmati secara inklusif oleh masyarakat luas”, papar Robert Widjaja, Direktur MODENA Indonesia.

Yang unik, kulkas bergaya retro ini dirancang dengan permukaan melengkung sehingga punya tingkat kesulitan tersendiri untuk dilukis.

Menariknya, ketiga seniman menghasilkan mahakarya dengan proses kreatif yang berbeda. Penasaran?

Kulkas dengan dominasi warna hitam adalah karya milik Darbotz, seniman mural Indonesia yang sudah dikenal di mancanegara.

Bertajuk ‘Subconscious’ ia terilhami dari bagian dari pikiran yang tidak sepenuhnya sadar, namun mempengaruhi tindakan dan perasaan seseorang.

Ketika Darbotz pergi keluar melukis, tanpa sadar ia memilih tempat, menentukan warna, dan melakukan apapun yang ia inginkan.

“Perumpamaan sederhana yang sama ketika kita lapar di malam hari dan membuka kulkas, makan apapun yang tersisa di dalamnya,” jelasnya.

Diberi kebebasan untuk melukis di medium yang berbeda, “Siapa yang enggak mau ngelukis di situ (kulkas). Modelnya retro dan keren.”

whatsapp image 2018 08 31 at 21.00.00

Kedua, ada makna mendalam dari sosok ‘The Big Man Story’ dalam karya Indra Dodi. Berlatar merah, Indra merefleksikan pengalaman hidupnya melalui figure superhero yang memiliki pengaruh besar kepada orang lain.

Ada banyak wajah dalam lukisan tersebut yang menceritakan kisahnya sendiri, termasuk karakter dan perilaku.

“Manusia boleh tinggi atau pendek, gemuk atau kurus. Yang membuat perbedaan adalah ekspresi.”

Sosok pria dalam lukisan tersebut adalah pria besar yang juga berjiwa besar. “Siapapun yang nanti berhasil membeli dan memiliki kulkas ini, jangan lupa bahagia,” katanya.  

whatsapp image 2018 08 31 at 20.59.59

Nostalgia masa kecil selalu tersimpan rapi dalam diri setiap orang. Begitu pula kenangan Naufal Abshar tentang robot yang diilustrasikan dalam “Timeless Robot” dengan dominasi warna biru pada permukaan kulkas retro ini.

Naufal menggambarkan pergeseran waktu bagaimana kemanusiaan berkembang. Kotak mainan adalah saksi kemajuan teknologi. Bukan hanya sebatas mainan, ia mewakili imajinasi, ekspresi, dan identitas.

“Kami menyebutnya mainan retro berupa robot untuk mengadaptasi bentuk kulkasnya,” ujar Naufal yang merasa tertantang melukis di permukaan kulkas.

Seluruh pengerjaan tersebut memakan waktu 7 hingga 10 hari. Dan tentu saja di tangan tiga seniman tadi, kulkas tak hanya berfungsi sebagai lemari pendingin elektronik yang melengkapi isi rumah. Namun, memiliki nilai estetika sebuah karya seni.

Ketiga kulkas itu pun tak hanya dilukis dan dipamerkan saja pada publik, namun juga dilelang hingga menghasilkan 177 juta rupiah untuk didonasikan pada Yayasan Doctor Share untuk operasional Rumah Sakit Apung pertama di dunia yang ada di timur Indonesia.

“Konsep yang unik dan sangat pas, mengenai bagaimana kita bisa giving back to society. Modena menggunakan seni dan gaya hidup untuk bisa membantu orang lain untuk hidup sehat,” ujar Julia Windasari Tan mewakili Doctor Share.

(ARH)

Artikel Terkait