PARENTING
25 Juni 2019

Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia

Tak pernah saya bayangkan akan menjalani proses jadi ibu jauh dari keluarga. Kabar gembiranya, paling tidak saya menjalankan di negara nomor dua terbahagia setelah Finlandia versi The World Happiness Record 2019. Cihuy!
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Cerita dari : Galuh Wulandari, WNI yang berdomisili di Aarhus Denmark, bekerja sebagai Communications Consultant.

Ibu dari Kirana Eilachakra Baskoro, 3 bulan

Saya ingat, hari itu sekitar bulan Juli 2018, 4 tahun setelah saya berdomisili di Aarhus, Denmark dan bekerja selama setahun sebagai Communication Consultant di Grundfos.

Tepat setelah tes kehamilan saya menunjukkan dua buah garis, perjalanan saya sebagai calon ibu di negara Viking ini pun dimulai.

Emosi saat itu? Jangan ditanya, rasanya campur aduk tak karuan! Betul, dan suami yang sudah delapan tahun menikah merasa bahagia luar biasa, namun kami sadar betul kalau pengetahuan soal hamil dan bersalin nol besar! Apalagi kami sedang merantau di negri orang.

Saya coba sharing dengan Moms semua, pengalaman paling tak terlupakan seumur hidup!

Konsultasinya ke Dokter Umum dan Bidan, bukan Dokter Kandungan

IMG_8177.jpeg

Jika di Indonesia Moms bisa bebas memilih dokter kandungan dan rumah sakit yang diinginkan, maka pemeriksaan kehamilan rutin di Denmark dilakukan oleh Dokter Umum, tempat saya terdaftar (biasanya dekat dengan area tempat tinggal) serta Bidan Rumah Sakit Umum. Karena ini kehamilan pertama, saya mendapatkan setidaknya tujuh kali konsultasi dengan dokter dan bidan serta dua kali pemeriksaan USG. Termasuk di dalamnya tes darah untuk deteksi hepatitis, HIV, hingga kemungkinan adanya kelainan kromosom pada si bayi.

Denmark merupakan negara yang ’pro’ lahiran normal dan menganggap kehamilan serta melahirkan adalah suatu hal yang alami. Jika bukan karena situasi darurat, Moms harus punya alasan kuat bila ingin operasi caesar. Menurut saya ini menarik dan saya pun dibuat nyaman dengan pendekatan ini. Ada pilihan untuk melahirkan di rumah atau di rumah sakit, termasuk melahirkan di air.

Kira-kira di bulan ke-5 kehamilan, saya juga diajak tur ruang bangsal bersalin dan dijelaskan alat-alat yang dapat bantu memperlancar proses melahirkan. Diinformasikan pula tindakan untuk meredakan rasa sakit saat kontraksi, cara menyusui, hingga tawaran untuk gabung di kelas-kelas kehamilan.

Karena kehamilan adalah hal yang alami, Bidan menyarankan agar saya tetap menjalani rutinitas seperti biasa. Pertanyaan lengkap buat saya : Apakah masih olahraga? Oh, naik sepeda. Ada tanjakannya? Seberapa banyak? Pastikan tetap aktif! Hanya ada beberapa saran dari si bidan untuk saya. Alhasil, hingga bulan ke delapan pun, saya masih rutin bersepeda, meski dengan kecepatan layaknya kura-kura. Hahaha.

Saya juga salut dengan kegesitan mereka memastikan si bayi dalam kondisi baik-baik saja. Di bulan ke-5, tiba-tiba tes urin menunjukkan kalau kadar gula saya tinggi. Tiga kali saya harus menjalani tes toleransi glukosa oral. Hasilnya memang terus di atas normal, hingga di minggu ke-30, saya positif terkena diabetes gestasional. Saat itu juga, saya langsung dibuatkan janji untuk konsultasi dengan ahli gizi dan diberikan alat pengukur kadar gula di rumah dan laporkan hasilnya via aplikasi online, agar mereka bisa terus memantau hasilnya.

Seimbangnya Porsi untuk Pekerjaan dan Keluarga

b086c42f-e3d8-47b0-971a-6c81d476d085.jpeg

Di Denmark, hirarki antara atasan dan bawahan nyaris tidak ada; kami panggil atasan dengan nama depan dan semua bebas ungkapkan pendapat. Rasa percaya alias trust di atas segalanya. Rata-rata jam kerja adalah 37 jam seminggu dan nyaris tidak ada lembur. Alhasil, keseimbangan antara bekerja dan keluarga begitu terasa. Karena pekerjaan saya fleksibel, jadi diberikan kebebasan untuk bekerja dari rumah. Ini sangat membantu. Ketimbang harus menghadapi kejamnya cuaca musim dingin, saya bisa menghabiskan waktu yang biasanya untuk pulang-pergi kantor dengan beristirahat. Belum lagi ketika saya ada janji konsultasi dengan Dokter atau Bidan, karena semua saat jam kerja. Lalu bagaimana mereka tahu kalau saya benar-benar bekerja ketika saya bilang kerja dari rumah? Ya, lewat rasa percaya yang saya sebutkan tadi.

Datanglah Momen Mendebarkan : Saatnya Melahirkan

IMG_8216.jpeg

Selama menjalani masa kehamilan, saya hanya fokus, cari tahu soal diabetes gestasional. Namun ternyata saya mengalami kolestasis obsteri atau gangguan fungsi hati. Jadilah saya harus menjalani induksi dua minggu lebih cepat dari prediksi tanggal kelahiran.

Tepat memasuki minggu ke-38, saya diberikan tablet induksi. Hari pertama, tidak terasa apa-apa. Keesokan paginya, saya mulai merasakan kontraksi ringan. Saya dan suami ke rumah sakit dan bidan yang sedang tugas bilang kalau saya masih bukaan dua. “Silakan pulang dan hubungi kami lagi jika kontraksi mulai intens,” ujarnya sambil tersenyum. Ingat pendekatan yang bilang kehamilan adalah hal yang alami? Nah, jika masih belum masuk masa aktif persalinan, Moms bakal diminta untuk tetap di rumah. Itu juga yang saya lakukan.

Selang dua jam, kontraksi saya pun mulai datang bertubi-tubi hingga saya putuskan untuk telepon kembali Si Bidan. Betul, saya tidak bisa langsung datang ke rumah sakit; semua harus via telepon dulu. Sekitar pukul 12 siang, saya kembali ke rumah sakit dan sudah masuk bukaan empat. Keinginan melahirkan di dalam air sirna karena selama lebih dari dua jam di dalam bak air, saya masih juga belum bisa head crowning. Saya lemas tak bertenaga, terus bertumpu (sekaligus meremas keras) tangan suami tiap kontraksi datang. Selama durasi ini, tak sekalipun Si Bidan pergi dari sisi saya. Dia begitu sabar, atentif, profesional dan terus mengakomodir keinginan saya dengan kata-kata yang menyejukkan dan menguatkan. Tak henti mengingatkan saya untuk tetap mengatur napas dan mengatakan semua bakal baik-baik saja.

Tak ada kemajuan, saya pun dianjurkan untuk pindah ke tempat tidur. Rasa lapar, lelah, dan intensitas kontraksi bikin saya nyaris putus asa. Lagi-lagi saya takjub dengan perhatian dan rasa sabar si bidan. Rasa-rasanya ingin namakan putri saya seperti namanya! Hahaha.

Setelah melakukan berbagai macam posisi sambil terus dipandu untuk bernapas dan mengejan, saya ingat dia berkata dengan lembut, “Ayo, buka kedua tangan kamu,” dan tanpa saya sadari putri saya, Kirana, lahir pukul 17.40 waktu setempat. Detik itu juga, dia langsung bawa Kirana ke dalam dekapan, dilanjuti dengan suami memotong tali pusat bayi beberapa menit kemudian. Menyadari betapa pentingnya kontak awal kulit-dan-kulit antara orang tua dan bayi, kami dianjurkan untuk bergantian memeluk Kirana dan itulah yang kami lakukan selama tiga jam berikutnya, sebelum kami pindah ke kamar menginap. Karena ini anak pertama, kami dapat menginap di rumah sakit selama dua malam. Tapi untuk anak kedua dan seterusnya, sang ibu dan bayi bakal dipersilakan pulang sekitar 4 sampai 6 jam setelah melahirkan.

Selama menginap, beberapa perawat datang untuk memeriksa kondisi bayi, termasuk yang khusus membahas soal laktasi. Di Denmark, sekitar 97% ibu yang baru melahirkan menyusui anaknya. Dan setelah 30 jam berada di rumah sakit, saya pulang. Selama itu juga, tidak sedetikpun Kirana lepas dari sisi saya.

Beberapa hari kemudian, ada pemeriksaan lanjutan seperti penyakit kuning, tes pendengaran serta cek kondisi saya setelah melahirkan. Selain itu, ada juga perawat yang rutin datang ke rumah untuk mengecek perkembangan si bayi hingga usia dua tahun. Saya ingat saat si perawat datang pertama kali, Kirana baru berusia empat hari. Dia cek berat badan, kembali ajari saya cara menyusui yang baik dan menjawab semua pertanyaan yang saya miliki. Saat cek tiga bulan, saya diajari berbagai macam cara untuk melatih motorik Kirana dan bekali saya informasi untuk bulan-bulan nanti saat Kirana mulai cicipi makanan solid.

Dukungan Luar Biasa dari Pemerintah Denmark

5d54db3c-afc0-4ae9-9b40-189ea3227613.jpeg

Tak sepeser pun saya mengeluarkan uang untuk semua fasilitas dan pelayanan kesehatan yang saya dapatkan sepanjang kehamilan dan bersalin. Semua yang saya jabarkan tadi sudah termasuk ke dalam pelayanan kesehatan yang didapati oleh setiap calon ibu di sini. Memang luar biasa, tapi ini merupakan ’timbal-balik’ yang sepadan didapat untuk warga, atas tingginya jumlah pajak yang wajib dibayarkan. Sekadar info, dibandingkan dengan negara di Eropa lainnya, pajak pendapatan di Denmark tertinggi kedua setelah Swedia. Hingga kini saya masih mengelus dada tiap kali lihat potongan pajak yang tertera pada slip gaji. Namun, berkat minimnya angka korupsi di sini, uang pajak yang saya keluarkan benar-benar terasa penggunaannya.

Mari sekilas bicarakan mengenai cuti yang didapatkan oleh orang tua. Totalnya: 52 minggu! Ini terbagi menjadi: empat minggu cuti hamil dan 14 minggu cuti melahirkan untuk Sang Ibu, dua minggu cuti untuk Ayah, dan 32 minggu yang bisa dibagi antara Ibu dan Ayah. Jangan salah, banyak teman kantor pria yang ambil cuti sekitar tiga bulan penuh sementara sang istri kembali bekerja. Saya pun bisa ’menabung’ jatah cuti ini dan dapat digunakan hingga anak berusia 9 tahun. Tanpa berpikir panjang, saya putuskan untuk simpan delapan minggu yang suatu saat nanti, ingin saya gunakan untuk pulang ke Indonesia!

Selama masa cuti, mayoritas perusahaan memberikan gaji penuh setidaknya setengah dari durasi di atas. Sisanya saya bakal mendapat tunjangan dari pemerintah. Anak pun mendapat tunjangan hingga dia berusia 18 tahun. Tak henti saya bersyukur dengan semua yang saya lalui. Meskipun jauh dari keluarga, saya dan suami merasa aman dan nyaman.

Namun ada satu hal yang bikin saya gemas pada pemerintah Denmark. Hingga tulisan ini diturunkan alias tiga bulan setelah saya melahirkan, akte lahir putri saya masih tertahan karena nama ‘Kirana’ tidak ada di dalam daftar nama-nama yang telah disetujui plus permasalahan nama belakang. Jangan kaget, Denmark termasuk negara yang memberlakukan Undang-undang Nama yang cukup ketat. Buktinya, saya masih menunggu persetujuan itu hingga sekarang! Doakan putri kecil saya bisa tetap menyandang nama pilihan saya dan suami, ya Moms.

Artikel Terkait