RUPA-RUPA
16 September 2019

Masih Diselimuti Asap Tebal, Ketahui 5 Fakta Kabut Asap di Riau

Sekolah dan kampus diliburkan karena tidak kondusif melakukan aktivitas belajar

Sumber: Antara Foto/Rony Muharrman

Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Akhir-akhir ini, Provinsi Riau menjadi sorotan karena kabut asap yang menyelimuti selama beberapa hari terakhir.

Mengutip Detik.com, ini disebabkan oleh tebalnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Sumatera, dan juga beberapa titik di Kalimantan.

Data dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera mencatat penghitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) rata-rata menunjukkan angka di atas 300. Ini menandakan kualitas udara sudah masuk kategori "berbahaya".

Ketahui fakta tentang kabut asap di Provinsi Riau yang terjadi karena kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga: Viral Jakarta Punya Polusi Udara Buruk, Cegah Dampak Polusi Pada Tubuh dengan 5 Cara Ini

1. Indeks Kualitas Udara Tidak Sehat

mengenal emfisema penyakit karena polusi udara - penyebab emfisema.jpg

Kondisi kabut asap di Riau mengakibatkan indeks kualitas udara menjadi buruk, dan berada pada level yang berbahaya di beberapa pemukiman.

Mengutip Tribun News Wiki, data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, pada Kamis (12/9/2019) lalu mengumumkan Indeks Standard Pencemar Udara (ISPU) di level "berbahaya" di delapan wilayah:

  • Kecamatan Rumbai, Pekanbaru, dengan angka di atas 500,
  • Kecamatan Minas, Kabupaten Siak, dengan angka 473,
  • Duri Field, Kabupaten Bengkalis, dengan angka 481,
  • Duri Camap, Bengkalis dengan angka di atas 500,
  • Kota Dumai dengan angka 404,
  • Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir dengan angka di atas 500,
  • Kecamatan Libo, Rokan Hilir, di atas 500,
  • Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, dengan angka 345.

2. Warga Banyak yang Mengalami ISPA

ispa-1.jpg

Kabut asap yang tebal berdampak pada kondisi kesehatan masyarakat, dan ribuan rakyat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Banyak warga yang mengalami batuk, sesak nafas, pusing, demam, hingga muntah-muntah, akibat terkena paparan kabut asap.

"Saya sesak napas dan batuk. Dua anak saya juga sudah tiga hari demam, batuk dan muntah-muntah," kata seorang warga Pekanbaru, Ayi Nuandra (36) pada Sabtu (14/9/2019), mengutip Kompas.com.

Baca Juga: Akibat Asap Penduduk Palangka Raya Terserang ISPA, Yuk Kenali Penyebab ISPA!

3. Jarak Pandang yang Semakin Pendek

asap riau.jpg

Dampak dari kabut asap akibat karhutla di Riau membuat jarak pandang hanya tembus beberapa ratus meter saja.

Mengutip Detik.com, per Jumat (13/9/2019), jarak pandang di Provinsi Riau tembus 300 meter saja.

Data dari BMKG Pekanbaru saat ini, jarak pandang secara global paling parah di Kabupaten Pelalawan. Berdasarkan pantauan satelit, jarak pandang hanya tembus 200 meter saja.

Di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), jarak pandang 300 meter. Sementara di Kota Dumai, jarak pandang 400 meter.

4. Sekolah dan Kampus Diliburkan

asap riau-2.jpg

Kabut asap di Riau tentu mengganggu berjalannya aktivitas warga, termasuk bagi para pelajar. Karenanya, sekolah dan universitas di Riau diliburkan.

Rektor UMRI (Universitas Muhammadiyah Riau), Dr. Mubarak membenarkan bahwa kampusnya diliburkan karena kabut asap yang pekat.

"Benar. Jumat sampai Sabtu (14/9/2019) aktivitas di kampus kita liburkan," terang Mubarak mengutip Kompas.com.

Baca Juga: Tak Hanya Rokok, Ternyata Asap Dapur Juga Bisa Menyebabkan Kanker Paru-Paru!

5. Kabut Asap Tidak Begitu Mengganggu Penerbangan

kabut asap riau.jpg

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengklaim kabut asap kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan tidak mengganggu penerbangan.

"Sejauh ini belum ada dampak yang serius ya, tapi ke depan kalau tidak ada upaya-upaya (untuk) menyelesaikan, ini akan serius,” ujar Budi pada Jumat (13/9/2019), mengutip Kompas.com.

Budi juga mengatakan telah meminta Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan.

Artikel Terkait