BALITA DAN ANAK
8 Juni 2020

5 Gangguan Pencernaan Paling Umum Pada Balita

Tetap waspada ya Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ninta
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Moms, jangan pernah menutup sebelah mata akan gangguan pencernaan pada balita. Pasalnya, gangguan pencernaan pada balita sangat berpengaruh pada anak, terutama mereka yang masih melewati masa golden age.

Gangguan pencernaan biasanya mengacu pada perasaan tidak nyaman di perut yang kerap terjadi setelah makan. Selain itu, penting diingat bahwa gangguan pencernaan bukanlah sebuah penyakit, melainkan efek dari pola makan yang salah.

Gangguan Pencernaan Pada Balita

gangguan pencernaan pada balita

Foto: health.harvard.edu

Saat orang dewasa mengalami gangguan pencernaan, mulas menjadi keluhan umum yang mereka alami. Terutama setelah menikmati makanan pedas. Hal ini juga bisa dirasakan oleh anak-anak. Mereka bahkan juga bisa mengalami sensasi terbakar di dada.

Dikutip dari Web MD, sekitar 2% dari anak usia 3 hingga 9 tahun, dan 5% anak usia 10 hingga 17 tahun, mengalami heartburn atau sensasi panas di dada. Gejala-gejala ini bahkan dapat dimulai pada masa bayi. Lalu apa saja gangguan pencernaan pada balita yang biasa terjadi?

Baca Juga: 7 Camilan yang Mengandung Probiotik, Baik untuk Pencernaan Anak

1. GERD

gangguan pencernaan pada balita

Foto: health.clevelandclinic.org

“Gastroesophageal reflux adalah ketika isi lambung naik ke kerongkongan. Itu bisa sangat normal bahkan hingga 73 kali sehari, tetapi beberapa pasien memiliki lebih banyak episode dan itu menyebabkan iritasi pada kerongkongan mereka. Ketika itu terjadi, itu dianggap penyakit refluks gastroesophageal, atau GERD. Ini adalah saat pasien mulai menunjukkan gejala yang lebih jelas," ujar dokter Kristen Cares, M.D., ahli gastroenterologi pediatrik di Children's Hospital of Michigan.

Jika Si Kecil mengalaminya, pastikan agar anak tidak terburu-buru saat makan. Sediakan pula makanan ringan dalam jumlah sedikit tapi sering. Pastikan Si Kecil tidak makan sebelum tidur dan tetap tegak selama setengah jam atau lebih setelah makan.

Saat ia akan tidur, tambahkan bantal untuk mengangkat kepala anak agar ia dapat tidur dengan lebih nyaman.

2. Celiac

gangguan pencernaan pada balita

Foto: foodbusinessnews.net

Celiac merupakan kondisi intoleransi usus terhadap gluten, protein yang ditemukan dalam gandum. Ketika anak dengan penyakit celiac makan makanan yang mengandung gluten, sistem kekebalan tubuh mereka akan menyerang dan merusak lapisan usus kecil. Bahkan, ini dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi dalam makanannya.

Dikutip dari Healthgrades, kira-kira 1 dari 133 anak di Amerika menderita penyakit seliaka. Anak-anak yang orang tuanya, saudara kandung, bibi atau pamannya memiliki penyakit yang sama kemungkinan besar akan mengalami kondisi tersebut.

Baca Juga: 3 Cara Menjaga Kesehatan Pencernaan Balita yang Senang Jajan

3. Radang Usus

gangguan pencernaan pada balita

Foto: hennepinhealthcare.org

Inflammatory Bowel Disease atau radang usus adalah peradangan yang terjadi pada saluran pencernaan. Penyakit ini terdiri dari dua jenis yaitu Ulcerative Colitis atau Kolitis Ulserativa dan Crohn’s Disease. Kolitis ulserativa menyebabkan pembengkakan di usus besar, sedangkan penyakit Crohn dapat memengaruhi bagian mana pun dari saluran pencernaan.

Tanda yang biasa terjadi adalah feses berdarah atau berair dan sakit perut. IBD juga dapat memperlambat pertumbuhan anak atau menunda pubertas. Selain itu, kedua jenis radang usus ini bisa menyebabkan nyeri sendi, mata iritasi, batu ginjal, penyakit hati, dan tulang lemah atau rapuh.

4. Short Bowel Syndrome

gangguan pencernaan pada balita

Foto: raisingchildren.net.au

Short Bowel Syndrome atau sindrom usus pendek membuat anak tidak memiliki cukup usus untuk menyerap nutrisi dan cairan dengan baik. Beberapa anak mengalami hal ini karena menjalani operasi untuk mengangkat bagian usus. Penyebab lain sindrom usus pendek adalah penyakit Crohn, intususepsi, pembuluh darah yang tersumbat yang dapat memperlambat aliran darah ke usus, cedera pada usus, atau kanker.

Tanda umum yang bisa dilihat adalah anak mengalami diare. Sindrom usus pendek dapat menyebabkan masalah seperti kekurangan gizi, dehidrasi, batu ginjal, dan ruam popok yang parah. Perubahan pola makan dan menyusui dengan infus atau tabung dapat membantu.

Baca Juga: Penuhi 3 Unsur Ini untuk Menjaga Kesehatan Pencernaan Anak

Walau terkesan menyeramkan, beragam gangguan pencernaan pada balita di atas masih dapat diatasi. Yuk, mulai terapkan pola hidup sehat pada Si Kecil.

Artikel Terkait