KESEHATAN
6 November 2019

Ginjal Bocor, Ketahui Penyebab dan Gejalanya!

Penyakit ginjal tidak hanya batu ginjal saja
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Dina Vionetta

Menjaga kesehatan tubuh penting agar terhindar dari penyakit yang berbahaya. Salah satunya adalah ginjal.

Biasanya, penyakit ginjal yang umum terjadi yaitu batu ginjal. Namun, ada penyakit ginjal lain yang perlu diwaspadai, yaitu ginjal bocor.

Ginjal bocor, atau dikenal dengan istilah medis nefrotik, merupakan gangguan ginjal yang menyebabkan tubuh mengeluarkan terlalu banyak protein dalam urin.

Mengutip Mayo Clinic, sindrom nefrotik biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah kecil di ginjal yang bertugas menyaring limbah dan kelebihan air dari darah.

Ketahui lebih lanjut tentang penyebab dan gejala ginjal bocor berikut ini.

Baca Juga: Pentingnya Minum Air untuk Menghindari Batu Ginjal

Gejala Ginjal Bocor

Fungsi ginjal Bermasalah.jpg

Ada beberapa gejala ginjal bocor menurut The National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Jika Moms mengalami kondisi berikut ini, sebaiknya mulai berkonsultasi ke dokter:

  • Pembengkakan parah (edema), terutama di sekitar mata dan di pergelangan kaki
  • Urin berbusa, bisa disebabkan kelebihan protein dalam urin
  • Berat badan bertambah karena retensi cairan berlebih
  • Kelelahan
  • Kehilangan selera makan

Baca Juga: 5 Tanda Penyakit Ginjal Yang Mungkin Ada di Diri Kita

Penyebab Ginjal Bocor

1 - tanda penyakit ginjal yang mungkin ada di diri kita.jpg

Sindrom nefrotik biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pembuluh darah kecil (glomeruli) ginjal.

Glomeruli bertugas menyaring darah saat melewati ginjal, untuk memisahkan hal-hal yang tidak dibutuhkan oleh tubuh agar dibuang.

Glomeruli yang sehat menjaga protein darah untuk mempertahankan jumlah cairan dalam tubuh, agar tidak meresap ke dalam urin.

Ketika glomeruli rusak, dampaknya akan banyak protein darah meninggalkan tubuh, yang mengarah ke sindrom nefrotik, atau ginjal bocor.

Banyak penyakit dan kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan glomeruli dan menyebabkan sindrom nefrotik, termasuk:

  • Penyakit ginjal diabetik. Diabetes dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang mempengaruhi glomeruli.
  • Penyakit perubahan minimal. Penyebab paling umum yang terjadi pada anak-anak. Penyakit ini membuat fungsi ginjal abnormal, tetapi ketika diperiksa di bawah mikroskop tampak normal atau hampir normal.
  • Glomerulosklerosis segmental fokus. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit lain atau cacat genetik, atau terjadi tanpa alasan yang diketahui.
  • Nefropati membran. Ini karena hasil dari penebalan selaput di dalam glomeruli. Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi kadang-kadang berkaitan dengan kondisi medis lainnya seperti hepatitis B, malaria, lupus dan kanker.
  • Lupus erythematosus sistemik. Penyakit radang kronis ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang serius.
  • Amiloidosis. Gangguan ini terjadi ketika zat yang disebut protein amiloid menumpuk di organ. Penumpukan ini memengaruhi ginjal, dan merusak sistem penyaringan.
  • Gumpalan darah di pembuluh darah ginjal. Trombosis vena ginjal, yang terjadi ketika gumpalan darah menghalangi vena yang terhubung ke ginjal, dapat menyebabkan sindrom nefrotik.

Baca Juga: Terapi Laser Holmium, Bisa Hilangkan Batu Ginjal Tanpa Operasi?

Pengobatan Ginjal Bocor

penyebab perut sebelah kanan sakit 2.jpg

Mengutip Kidney Fund, sampai saat ini tidak ada obat untuk mengatasi sindrom nefrotik, tetapi ada perawatan yang dapat mengelola gejala dan mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut.

Jika ginjal berhenti bekerja, seseorang akan membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.

Pihak layanan kesehatan dapat memberi tahu jenis obat-obatan tertentu yang dapat mengobati gejala sindrom nefrotik.

Mengubah pola makan juga dapat membantu dalam mengelola gejala sindrom nefrotik. Penting untuk menjaga kadar kolesterol tetap terkendali.

Misalnya, dengan membatasi konsumsi garam (natrium) untuk membantu mencegah pembengkakan dan menjaga tekanan darah pada tingkat yang sehat.

(AP/DIN)

Artikel Terkait