PARENTING
11 September 2019

Mengidap PCOS, Begini Perjalanan Kehamilanku hingga Menjadi Stay-at-Home Mom

Aku bahkan menonton konser di usia kehamilanku yang ke 9 bulan!
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Ayu Flo (30 th), Ibu dari Arsenia (8 bln), Member WAG Orami Newborn (4)

Dua tahun menikah, aku baru sadar terlalu asyik menikmati "pacaran halal", padahal sebelum menikah pun aku dan pasangan sudah 5 tahun pacaran.

Melakukan perjalanan berdua sepuasnya, serasa dunia cuma milik kita bedua. Aku dan suami juga menginginkan kehadiran manusia kecil darah daging kami. Dipikir-pikir, kok belum hamil juga.

Akhirnya, kami memutuskan untuk ikut program hamil/promil. Di tahun pertama promil, kami mencoba segala bentuk usaha, dari rumah sakit, sampai pengobatan alternatif.

Mencoba Ragam Program Hamil

Promil,hamil,stay at home mom 1.jpg

Foto: Orami/Ayu Flo

Pada akhirnya, promil pun berujung di salah satu rumah sakit daerah Jakarta Barat, dengan dokter senior dengan pola pikir yang lama, dan tak jarang bikin mengerutkan dahi.

But I believe, old is gold. Dokter senior memberikan segala obat dan vitamin yang harus diminum setiap hari.

Dokter pun mengatakan bahwa aku mengalami PCOS. PCOS adalah penyakit hormon tidak seimbang yang mengganggu kesuburan, sehingga menjadi sulit hamil.

Dokter mengatakan bahwa PCOS bisa dijinakkan. Sesuai info dari teman, dokter ini tidak money-oriented. Sehingga beliau tidak mengharuskan pasiennya untuk bolak-balik kontrol.

Selama 4 bulan ini, aku ditargetkan melakukan pengobatan PCOS agar bisa hamil. Tetapi, empat bulan berlalu, dokter pun merasa seperti menyerah dan bilang aku harus melakukan bayi tabung.

Ya Tuhan, bukan karena soal harga yang lumayan mahal, tapi persentase keberhasilan bayi tabung tidak lebih dari 50 persen. Aku dan suami sangat ragu saat itu. Di saat aku yakin melakukan bayi tabung, tapi suami tidak.

Hal ini terjadi sebaliknya. Sehingga, keyakinan kami soal bayi tabung tidak pernah sejalan.

Aku merasa stres, sedih, perasaan campur aduk, setelah mendengar kalimat dari dokter yang membuat hati hancur. Namun, aku langsung mencari info tentang bayi tabung, juga tentang para pejuang bayi tabung.

Rata-rata mereka yang melakukan program bayi tabung memiliki banyak hal yang harus dipersiapkan dan dilakukan, termasuk diet sehat. Asupan makanan para pejuang program bayi tabung amat sangat diperhatikan, termasuk olahraga dan gaya hidup.

Baca Juga: Tetap Bekerja sambil Membesarkan Anak Ternyata Menyenangkan!

Habiskan Waktu bersama Pasangan untuk Redakan Stres

Aku dan suami memutuskan untuk menghempaskan segala hal soal program bayi tabung yang bikin stres itu. "Yuk, kita pulihin dulu hati dan mental yang sudah hancur. Lakuin hal-hal yang bikin kita dan orang lain senang," kata suamiku.

Aku dan suami puas-puasin ngetrip, liburan, ke mana saja yang bisa bikin kita lupa hal-hal yang membuat sedih. Tidak lupa juga, aku mengubah gaya hidup dengan melakukan diet sehat.

Diet sehat ini aku lakukan dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman instan, MSG, dan nasi.

Jadi, saat itu yang aku hanya makan lauk, sayur, dan buah. Aku hanya makan makanan hiburan maksimal dua suap hanya untuk menghilangkan penasaran. Olahraga aku rutin juga melakukannya, dengan mengikuti kelas aerobik dan yoga, minimal 3 kali seminggu.

Satu bulan aku melakukan hidup sehat, badan sudah terasa lebih baik, bugar dan fit. Aku bahkan mendapatkan bonus, karena berat badanku turun 5 kilogram!

Baca Juga: Siapa Bilang jadi IRT Bisa Santai? Ternyata Penuh Tantangan Lho Moms

Jalani Pola Hidup Sehat yang Berbuah Manis

Promil,hamil,stay at home mom 2.jpg

Foto: Orami/Ayu Flo

Dua minggu kemudian, Alhamdulillah aku positif hamil, setelah 4 tahun kami menunggu. Sesuai anjuran dokter, dengan gaya hidup sehat yang aku lakukam sudah menjinakkan PCOS yang aku miliki.

Kehamilan para penderita PCOS tidaklah biasa. Karena kata dokterku, penderita PCOS rentan mengalami keguguran, sehingga aku harus rutin minum obat untuk menjaga kehamilanku ini.

Karena satu dan lain hal, aku harus mengganti dokter saat usia kandunganku 6 bulan. Tak lupa dokter sebelumnya memberikan rekam medis sebagai bekal kepada dokter pengganti.

Menonton Konser Sheila On 7 di Usia Kandungan 9 Bulan

Promil,hamil,stay at home mom 3.jpg

Foto: Orami/Ayu Flo

Di usia kandunganku sudah masuk 9 bulan, entah mengapa aku ingin sekali menonton konser Sheila On 7. Padahal, persis sebelum hamil aku sudah puas menonton konser dengan suami.

Walaupun agak ragu, tetapi suamiku tiba-tiba memberikan aku tiket, tepat di hari konser dimulai.

Lalu, berangkatlah kami menonton konser.

Hebatnya, menonton konser di usia kandungan trimester ketiga justru terasa segalanya mudah. Aku diberikan prioritas, jalanan tidak macet padahal saat itu jam pulang kantor, aku tidak ikut mengantri karcis, saat konser dimulai aku diberi tempat paling depan oleh para kru sehingga merasa begitu dekat dengan Mas Duta.

Meskipun tidak loncat-loncat, tetapi aku masih teriak-teriak ikut bernyanyi. Hehe. Hingga konser berakhir, perut masih aman dan tidak terjadi kontraksi. Mungkin juga tidak terasa karena perasaanku yang bahagia.

Usia kandungan 37 minggu, dokter kandunganku mengatakan kalau janinku terlilit tali pusar. Namun, sang dokter menenangkan, dan mengatakan ini hanya 1 kali lilitan dan kemungkinan masih bisa lepas.

Tetapi, masuk ke minggu 38, ternyata janin makin terlilit tali pusar, ketuban sudah keruh, dan berat badan bayi pun sudah tidak bertambah secara signifikan.

Saat ke rumah sakit hanya untuk kontrol mingguan, tenyata langsung diminta melakukan persalinan. Rasanya seperti tidak percaya kalau akan segera bertemu malaikat kecilku.

Lalu, lahirlah si cantik Arsenia. Yap! Papanya the Gooners (penggemar klub bola Arsenal) sejati.

Baca Juga: Sempat Merasa Tidak Siap Jadi Ibu Menyusui Bagi Dua Anak, Ini Kisah Saya Melakukan Tandem Nursing

Hari-hari Menjadi Stay-at-Home Moms

Promil,hamil,stay at home mom 6.jpg

Foto: Orami/Ayu Flo

Tiga bulan Arsenia lahir, berat untuk mulai masuk ke dunia kerja lagi. Rasanya berdosa sekali saat sekian tahun meminta buah hati, dan ketika diberi aku tinggalkan begitu saja.

Hidup memang pilihan, dan semua pilihan pun harus disesuaikan dengan keadaan. Aku memilih untuk menjadi stay-at-home mom karena keadaan saat ini sangat mendukung pilihanku.

Entah kapan sampai aku bisa kembali menjadi working mom. Setidaknya untuk saat ini, aku menjalani saja kewajiban dan tanggung jawabku terlebih dahulu, dengan menjaga karunia yang sudah diberikan untuk bekal di akhirat kelak.

Artikel Terkait