BAYI
11 Agustus 2020

5 Mitos Bayi Tumbuh Gigi, Tidak Perlu Dipercaya!

Bayi tumbuh gigi yang memakai kalung amber memiliki kemungkinan tersedak atau tercekik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh sera
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Bagi orang tua yang tinggal di Indonesia, banyak sekali ujaran-ujaran di masyarakat, baik yang didengar dari orang lain atau dari orang yang lebih tua. Moms yang memiliki bayi akan sering mendapat ujaran-ujaran dan larangan yang harus dilakukan sesuai adat di daerah masing-masing.

Terkadang, hal-hal yang dikatakan ternyata akurat dan didasarkan pada penjelasan ilmiah. Tapi banyak hal juga yang hanya sekedar mitos yang tidak ada penjelasan ilmiahnya, termasuk bayi tumbuh gigi.

Mitos tentang Bayi Tumbuh Gigi

Bayi tumbuh gigi tidak lepas dari mitos. Seperti halnya banyak mitos yang beredar di masyarakat, terutama di Indonesia, banyak sekali ujaran-ujaran tentang bayi tumbuh gigi.

Tapi seberapa akurat ujaran-ujaran tersebut masih perlu dipertanyakan. Kira-kira apa saja mitos tentang bayi tumbuh gigi? Seperti apa kebenarannya? Yuk simak ulasannya di bawah ini!

Baca Juga: Kenapa Bayi Belum Tumbuh Gigi di Usia 1 Tahun?

1. Kalung Amber untuk Meredakan Nyeri Tumbuh Gigi

teethingnecklace_baby_white.jpg

Foto: healthychildren.org

Setiap orang tua tidak ingin bayinya kesakitan dan berusaha memberikan produk yang bisa meredakan sakit. Dan kata ‘alami’ yang tercantum pada produk biasanya membuat orang tua berpikir jika produk tersebut tidak berbahaya dan menimbulkan efek samping.

Dan kalung amber adalah salah satu contohnya. Di kalangan orang tua dengan bayi tumbuh gigi, kalung amber dipercaya bisa membantu menenangkan bayi yang mengalami nyeri akibat tumbuh gigi.

Banyak orang percaya kalung amber dapat melepaskan asam suksinat yang diyakini memiliki sifat penghilang rasa sakit. Dan memang benar jika batu amber memiliki kandungan asam suksinat.

Namun sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang membenarkan bahwa menggunakan kalung amber mampu meredakan nyeri yang diderita bayi saat tumbuh gigi.

Di balik efek meredakan nyeri yang belum terbukti benar, ternyata penggunaan kalung amber memberikan ancaman nyata untuk bayi. Bayi yang memakai kalung amber memiliki kemungkinan tersedak atau tercekik karena tali kalung dan untaian batu amber yang berbentuk kecil-kecil.

2. Bayi Tumbuh Gigi Akan Mengalami Demam

freepik13.jpg

Foto: Freepik.com

Mitos bayi tumbuh gigi selanjutnya adalah bayi akan demam saat tumbuh gigi. Dikutip dari American Academy of Pediatrics, para peneliti menemukan bahwa iritasi gusi, iritabilitas, dan air liur adalah gejala paling sering saat bayi tumbuh gigi. Sedikit peningkatan suhu tubuh adalah gejala umum lainnya, tetapi paling sering tidak cukup tinggi untuk dianggap demam.

Jadi, bayi tumbuh gigi menyebabkan demam hanyalah sebuah mitos. Bayi tidak mengalami demam atau peningkatan suhu yang signifikan saat mereka tumbuh gigi.

Terkadang, bersamaan dengan tumbuh gigi, bayi menderita demam. Orang tua terkadang menyepelekan demam bayi karena dianggap bagian dari tumbuh gigi.

Padahal, bisa jadi demam bayi merupakan indikasi infeksi karena demam terkadang muncul sebagai reaksi alamiah tubuh anak melawan zat asing.

Baca Juga: 4 Fakta Tentang Tumbuh Gigi Pada Bayi, Moms Sudah Tahu?

3. Bayi Tumbuh Gigi Tidak Perlu ke Dokter Gigi

Photo by 🇸🇮 Janko Ferlič - @itfeelslikefilm on Unsplash.jpg

Foto: Janko Ferlic

Mitos bayi tumbuh gigi selanjutnya adalah bayi tumbuh gigi tidak perlu ke dokter gigi. Gigi bayi, atau disebut susu, bersifat tidak permanen. Ketika anak berusia sekitar 6 tahun, gigi susu akan tanggal dan digantikan oleh gigi dewasa yang bersifat permanen.

Sifat tidak permanen gigi susu membuat orang tua menyepelekan gigi bayi yang tumbuh sehingga muncul mitos bahwa bayi tidak perlu dokter gigi.

Kesehatan gigi anak baru mendapat perhatian setelah gigi dewasa tumbuh menggantikan gigi susu mereka. Orang tua membawa anak mereka ke dokter gigi setelah gigi susu mereka mulai tanggal.

Gigi susu memegang peranan penting bagi kesehatan dan perkembangan bayi. Gigi susu membantu bayi untuk mengunyah, berbicara, dan tersenyum. Tidak kalah pentingnya, gigi susu yang tumbuh akan memberikan ruang untuk tempat tumbuh gigi dewasa anak yang tumbuh di bawah gusi.

Menurut Dr. Patel, sesuai tulisannya di Checkupnewsroom.com, jika gigi susu tanggal terlalu dini karena kerusakan gigi, gigi susu yang berdekatan akan tumbuh mengarah ke gusi di tempat gigi tanggal. Ini mengakibatkan ruang untuk gigi dewasa tumbuh menjadi sempit dan berefek pada pertumbuhan gigi dewasa yang tidak teratur.

Jika gigi bayi hilang lebih awal karena kerusakan gigi, gigi yang berdekatan cenderung melayang atau berujung ke ruang itu. Oleh karena itu, gigi permanen memiliki lebih sedikit ruang untuk masuk dan dapat dihalangi untuk meletus ke dalam ruang tersebut.

Untuk itu, penting bagi bayi untuk melakukan pemeriksaan gigi sejak dini, ketika gigi susu pertama tumbuh. Selain itu, dokter gigi akan memberikan saran agar gigi susu bayi tumbuh dengan baik dan melakukan pencegahan kerusakan gigi bayi.

4. Tumbuh Gigi Lebih Cepat, Berjalan Lebih Lambat, atau Sebaliknya

Photo by zelle duda on Unsplash.jpg

Foto: Unsplash.com/Zelle Duda

Salah satu mitos bayi tumbuh gigi yang masih terdengar di masyarakat adalah bayi yang gigi susunya tumbuh lebih cepat maka proses mulai berjalannya akan lebih lambat. Begitu pula sebaliknya, jika gigi susu tumbuh lebih lambat, anak akan mulai bisa berjalan dengan lebih cepat.

Bahkan banyak Moms menanyakan ini secara online. Tapi benarkah demikian?

Dalam Jurnal Dokter Anak Turki mengenai hubungan tumbuh gigi dan mulainya bayi berjalan, penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang ditemukan antara waktu munculnya gigi susu yang pertama dan waktu dimulainya anak berjalan sendiri. Waktu tumbuh gigi berbeda di antara bayi.

Pada beberapa bayi, gigi susu mulai tumbuh lebih awal dan di beberapa bayi yang lain, gigi susu mulai tumbuh lebih terlambat. Demikian pula, waktu anak-anak mulai berjalan bisa berbeda untuk setiap anak. Kedua bentuk pertumbuhan ini terkait dengan faktor keturunan dan bisa jadi penyakit yang diderita bayi. Asupan kalsium yang dikonsumsi bayi juga bisa menjadi faktor penentu.

Jadi, Moms tidak perlu khawatir jika gigi susu bayi tumbuh lebih awal atau lebih lambat karena ini tidak akan berpengaruh dengan saat berjalannya bayi. Moms bisa fokus memberikan asupan kalsium yang cukup agar gigi bayi bisa tumbuh dengan sehat.

Baca Juga: Bayi Tumbuh Gigi atau Sakit? Ini Cara Membedakannya

5. Pasta Gigi Berfluoride Berbahaya untuk Bayi

freepik14.jpg

Foto: freepik.com

Salah satu mitos bayi tumbuh gigi yang beredar di masyarakat adalah tentang bahayanya fluoride untuk bayi. Perlu dipahami jika kesehatan mulut yang baik penting dimulai sejak awal.

Sebelum gigi bayi tumbuh, Moms bisa membantu menghilangkan bakteri dengan menyeka mulut mereka dengan kain lembut.

Begitu gigi mereka mulai tumbuh, American Academy of Pediatrics merekomendasikan untuk beralih ke pasta gigi berfluoride.

Fluoride adalah mineral penting untuk semua anak. Bakteri di mulut bergabung dengan gula dan menghasilkan asam yang dapat merusak enamel gigi dan merusak gigi. Fluoride melindungi gigi dari kerusakan asam.

Yang menjadi masalah bukan penggunaan fluoride, tapi bagaimana cara penggunaan fluoride yang benar. Untuk bayi, cukup mengusap sedikit pasta gigi berfluoride dan dibersihkan. Hal ini menghindari bayi tidak menelan pasta gigi

Nah, itulah beberapa mitos terkait bayi tumbuh gigi yang perlu Moms ketahui. Tidak perlu dipercaya lagi ya Moms!

Artikel Terkait