KESEHATAN
5 April 2020

Seasonal Affective Disorder Lebih Berisiko Menyerang Perempuan, Kenapa?

Seasonal Affective Disorder cenderung disebut depresi musiman. Apa itu?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Sabrina
Disunting oleh Dina Vionetta

Seasonal Affective Disorder merupakan depresi yang cenderung mempengaruhi orang-orang yang tinggal di negara-negara yang lebih jauh dari garis katulistiwa.

Depresi yang terjadi setiap tahun pada waktu yang sama, biasanya dimulai pada musim gugur, memburuk pada musim dingin, dan berakhir pada musim semi.

Menurut American Psychiatric Association (APA), kondisi ini mempengaruhi sekitar 5% orang di Amerika Serikat.

Baca Juga: Gejala Depresi dan Kelelahan Hampir Sama, Ini Cara Bedakannya

Penyebab Seasonal Affective Disorder (SAD)

Seasonal Affective Disorder - penyebab - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Penyebab pasti dari kondisi ini tidak diketahui, tetapi bukti sangat menunjukkan bahwa, bagi mereka yang rentan terhadapnya, SAD dipicu oleh perubahan ketersediaan sinar matahari.

Satu teori dari the University of British Columbia mengatakan bahwa dengan sedikit paparan sinar matahari, jam biologis internal yang mengatur suasana hati, tidur, dan hormon digeser. Paparan cahaya dapat mengatur ulang jam biologis.

Teori lain adalah bahan kimia otak (neurotransmiter, seperti serotonin) yang mengirimkan informasi antar saraf dapat diubah pada orang dengan SAD. Dipercaya bahwa paparan cahaya dapat memperbaiki ketidakseimbangan ini.

Baca Juga: Kisah Saya Melawan Depresi Pascamelahirkan dan Berdamai dengan Tangisan Bayi

Gejala Seasonal Affective Disorder (SAD)

Seasonal Affective Disorder - gejala - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Gejala SAD mirip dengan gejala depresi. Perbedaan utama adalah bahwa gejala berkembang ketika musim dingin dan akan selesai pada musim semi.

Tanda dan gejala Seasonal Affective Disorder cenderung meliputi perasaan cemas yang tidak proporsional dengan penyebab atau pemicunya, perasaan bersalah dan tidak berharga, stres, dan lekas marah.

Tak cuma itu, kesulitan dalam mengambil keputusan, konsentrasi berkurang, mood rendah, libido berkurang, gelisah, menangis, lelah, dan tidur semalaman juga menjadi tanda dan gejala SAD.

Seasonal Affective Disorder Lebih Berisiko Menyerang Perempuan

Seasonal Affective Disorder - risiko - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Para peneliti di Universitas Glasgow di Inggris telah menemukan bahwa wanita lebih mungkin mengalami SAD dibandingkan dengan laki-laki.

Rekan penulis studi, Daniel Smith, dari Institute of Health and Wellbeing di Glasgow, dan tim baru-baru ini melaporkan hasilnya dalam Journal of Affective Disorders.

Daniel Smith dan timnya melakukan analisis cross-sectional terhadap lebih dari 150.000 orang dewasa yang merupakan bagian dari UK Biobank, yang merupakan basis data kesehatan dari setengah juta orang di Inggris.

Para peneliti melihat gejala depresi peserta selama setiap musim, serta gejala suasana hati yang rendah, anhedonia, kelelahan, dan ketegangan.

Tim juga melihat hubungan antara gejala depresi, lamanya hari, dan rata-rata suhu luar ruangan.

Analisis mengungkapkan bahwa wanita mengalami gejala Seasonal Affective Disorder seperti kelelahan dan anhedonia dan variasi musiman ini tak ditemukan pada pria.

Baca Juga: Mengenal Hidroterapi, Terapi Air untuk Orang yang Sedang Alami Depresi

Mengatasi Seasonal Affective Disorder

Seasonal Affective Disorder - perawatan - shutterstock.jpg

Foto: shutterstock.com

Kurangnya paparan cahaya alami adalah salah satu alasan yang jelas di balik SAD musim dingin, sehingga tidak mengherankan bahwa terapi cahaya - juga dikenal sebagai "fototerapi" - akan bermanfaat untuk tubuh.

Tak cuma terapi cahaya, makan dengan baik juga membantu mengatasi SAD. Dikarenakan kurangnya cahaya, meminum suplemen yang mengandung vitamin D dan omega-3 juga disarankan.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan tahun lalu di American Journal of Public Health menunjukkan buah dan sayuran sebagai makanan pilihan dalam hal meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.

Penulis ulasan Benny Peiser dari Lembaga Penelitian untuk Ilmu Olah Raga dan Latihan di Liverpool John Moore University di Inggris menjelaskan bahwa ikut serta dalam latihan fisik secara teratur selama bulan-bulan musim gugur dan musim dingin dapat membantu mempertahankan ritme sirkadian yang tepat, sehingga menjaga SAD tak timbul. (SA)

Artikel Terkait