MOMSPIRATION
15 September 2020

Sedih Sekeluarga Didiagnosis COVID-19, ASI Saya Berhenti Mengalir

Anak bungsu saya masih baru mulai MPASI dan membutuhkan ASI
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Ranita Purnabudhiwijaya (32 tahun), Ibu dari Kimmy Aurora Mikala Queenyra Gunawan (3.5 tahun) dan Kalandra Faresta Gunawan (7 ulan)

Beberapa orang mengira bahwa virus corona (COVID-19) mungkin tidak nyata. Meskipun pemberitaan di televisi sudah hampir setiap hari membahas mengenai COVID-19 dan menginformasikan cara terbaik untuk terlindungi dari corona, masih ada yang tidak menaatinya.

Mungkin baru akan tersadar hingga ada tetangga atau orang terdekat kita yang terinfeksi COVID-19. Padahal tanpa hal ini pun tidak ada salahnya kita melakukan protokol pencegahan dari sekarang ini.

Sederhana saja kok, hanya menggunakan masker dengan benar seperti yang dianjurkan, rajin mencuci tangan, tidak berkumpul dengan banyak orang, dan jika bisa melakukan aktivitas di dalam rumah. Sama sekali tidak sulit.

Bahkan mereka yang sudah mentaati hal ini pun tidak terlepas dari infeksi COVID-19. Berikut cerita dari Moms Ranita yang positif COVID-19.

Baca Juga: Bersyukur Punya Waktu 'Bonus' Bersama Keluarga, Ini Cerita Pandemi COVID-19 di Singapura

Perasaan Campur Aduk saat Didiagnosis Positif COVID-19

cerita corona

Foto: dok. Ranita Purnabudhiwijaya

Ibu mana yang tidak panik mendengar berita tentang COVID-19 yang sudah banyak menginfeksi orang? Saya saja panik dan takut.

Ketika awal COVID-19 ini masuk ke Indonesia sekitar bulan Februari atau Maret lalu, kebetulan saya sedang cuti melahirkan. Tetapi bulan April sudah masuk kerja kembali dan pemberitaan COVID-19 tidak juga mereda.

Bahkan tidak ada tanda pengurangan pada jumlah penderitanya. Jujur, ini membuat saya semakin panik untuk bekerja. Saya punya anak balita, bayi, dan orang tua berusia di atas 50 tahun.

Sedangkan pekerjaan saya menuntut untuk bertemu banyak orang lain walaupun tetap menjaga protokol kesehatan yang ada.

Ketakutan saya menjadi nyata. Bukan orang terdekat, bahkan saya sendiri yang terinfeksi penyakit yang meresahkan banyak orang di seluruh belahan dunia tersebut.

Dari mana awal mula COVID-19 masuk ke lingkungan rumah, saya dan keluarga tidak yakin siapa yang membawa virus ini, karena semua orang di rumah saya bekerja, kecuali anak-anak tentunya.

Akhir bulan Juli, sekitar minggu ke-3 atau 4, orang tua saya tiba-tiba merasakan tidak enak badan, gejalanya seperti sedang masuk angin, lalu meriang, disertai dengan batuk kering. Sedangkan saya dan suami tidak menunjukan gejala-gejala berat, hanya saja kami memang sangat lelah akibat kesibukan di kantor.

Alhamdulillah, anak-anak masih terlihat sehat. Lalu saya dan suami memutuskan mengungsi ke rumah mertua di Cileungsi, di sana kondisi keluarga bisa dibilang aman atau sehat saat itu.

Namun papa saya tiba-tiba kondisi tubuhnya drop dan agak merasa sesak. Lalu mama dan adik saya 3 hari sebelumnya memang merasakan tidak enak badan tetapi sudah membaik. Papa saya hari ke-5 mengalami demam dan tidak turun.

Mengambil langkah cepat, beliau kami larikan ke RSPAD Gatot Subroto. Saat melakukan rapid test, ternyata hasil yang keluar negatif, sayangnya hasil swab menyatakan positif COVID-19. Saat itu pula, papa langsung diisolasi.

Dikarenakan ada gejala sesak napas dan memiliki riwayat diabetes, maka dilakukanlah perawatan khusus di ICU, sampai satu bulan ini beliau masih di ICU. (mohon doanya ya Moms agak papa saya bisa sehat kembali).

Mengetahui hasil tes swab papa positif, maka kami pun ikut melakukan tes swab. Mama dan adik saya di RSPAD Gatot Subroto dan hasilnya juga menunjukkan positif, langsung diisolasi di Wisma Atlet selama 10 hari lamanya.

Kita mundur sedikit untuk cerita sebelumnya, setelah saya memutuskan untuk mengungsi ke rumah mertua, sore harinya saya demam, diikuti sakit tenggorokan, lalu meriang, dan saya merasa pegal linu yang amat sangat di seluruh tubuh saya, sampai tulang saya rasanya seperti tidak ada.

Akhirnya dipijatlah oleh suami saya, dengan asumsi bahwa kami hanya masuk angin seperti biasa (saat itu kondisi papa saya belum melakukan swab, jadi kami tidak curiga terinfeksi COVID-19).

Besoknya gantian, malah suami saya merasakan hal yang sama, ditambah dengan batuk pula, akhirnya kedua mertua dan adik ipar saya juga sakit (khusus ibu mertua sempat tidak bisa mencium bau apapun).

Setelah 4 hari demam dan tidak ada penurunan, paginya kami diberitahu bahwa hasil swab papa saya positif, maka semua pun memutuskan untuk pergi ke Rumah Sakit Hermina, kecuali saya, kedua anak, dan mertua laki-laki. Karena panik dan keadaan tidak kondusif sekali saat itu, saya bingung harus bagaimana. Terlebih tahu bahwa hasilnya semua positif COVID-19, hal yang selama ini saya takutkan.

Anak-anak saya titip di Bandung (rumah tante saya) kondisi mereka saat itu sehat Alhamdulillah. Akhirnya saya putuskan menjalani tes swab karena permintaan pihak rumah sakit.

Hasil rontgen dan cek darah saya ada indikasi COVID-19, swab dilakukan hari ke-3, tetapi hasil swab baru keluar 5 hari lamanya, karena RS Hermina dibantu Kementerian Kesehatan untuk menentukan hasil swab, jadi agak lama dan pasien pun membludak. Total isolasi saya 20 hari.

Baca Juga: Beruntung Bahan Makanan Selalu Tersedia, Ini Cerita Kami Melewati Pandemi COVID-19 di Thailand

Sedih dengan Kondisi, Hingga ASI pun Tidak Mau Keluar

cerita corona

Foto: dok. Ranita Purnabudhiwijaya

Berada dalam kondisi seperti ini, tidak dipungkiri saya merasa sedih dan sangat kepikiran. Bagaimana tidak, hampir satu keluarga dinyatakan positif COVID-19.

Namun di saat berbarengan, saya adalah seorang ibu. Saya harus menjaga mental dan fisik saya saat itu, walaupun pikiran terpecah antara orang tua, anak dan suami. Sebagai informasi, kami isolasi di tempat berbeda.

Awalnya saya kepikiran apakah boleh saya tetap memberikan ASI? Apakah ASI saya tidak jadi media penularan COVID-19? Saya pun mencari banyak informasi mengenai ini. Saya membaca artikel parenting yang menjelaskan bahwa ASI akan tetap aman meskipun ibunya dinyatakan positif COVID-19. Bahkan, ASI sangat baik untuk menjaga imun anak kita.

Saya pun mencoba untuk tetap memerah ASI untuk bisa diberikan kepada si bungsu yang baru berusia 7 bulan. Sayangnya, kenyataan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Tiga hari pertama, saya masih dapat 100 ml ketika memompa.

Namun, semakin hari, produksi ASI saya semakin menurun. Bahkan ada satu waktu ketika ASI saya berhenti mengalir. ASI baru bisa keluar lagi saat dipompa manual dengan tangan.

Kondisi ini betul-betul membuat saya frustasi. Saya yakin sekali ASI saya berhenti mengalir karena saya sedang banyak pikiran dan sedih. Sebagai ibu, tentu saya sangat terluka. Kesedihan saya memang sangat berdasar. Bagaimana tidak, saya harus menjalani perawatan sendiri dan jauh dari anak-anak saya yang usianya masih kecil.

Anak kedua saya mungkin tidak banyak menyadari ketidakhadiran saya. Namun, si sulung sudah bisa mengungkapkan ekspresinya. Dia kerap bertanya saya sedang di mana dan apa yang saya lakukan di rumah sakit.

Saya juga belum menjelaskan ke anak pertama saya yang masih berusia 3,5 tahun, bahwa keluarganya sedang terinfeksi COVID-19 di rumah sakit, jujur saya masih bingung.

Dia juga sering menyatakan kerinduannya dan keinginannya untuk bersama saya. Saya pun semakin meleleh.

Baca Juga: Pandemi COVID-19 di Australia, Saya Ajak Anak Berdiskusi Demi Kesehatannya

Berangsur Membaik, Hingga Dinyatakan Negatif

cerita corona

Foto: Orami Photo Stock

Setelah menjalani perawatan intensif dan dinyatakan negatif, saya harus menjalani tes swab. Bukan sekali dua kali. Melainkan lima kali tes sampai menemukan hasil negatif.

Alhamdulillah kami sudah dinyatakan negatif, tetapi sebagai antisipasi, masih melakukan isolasi di rumah tetap selama dua minggu lamanya. Anak-anak baru kami jemput setelah isolasi mandiri selesai. Kini, saya sudah bisa kembali berkumpul dengan keluarga.

PR saya adalah untuk mengembalikan produksi ASI dan menyiapkan MPASI berkualitas untuk si bungsu agar imun tubuhnya semakin kuat. Tidak lupa, saya juga memberikan suplemen vitamin untuk si sulung.

Setelah apa yang saya alami kemarin, jujur saya semakin parno dan makin meningkatkan kewaspadaan. Ternyata COVID-19 masih belum selesai.

Kami sekeluarga tidak hanya melakukan perlindungan dari luar saja, seperti menggunakan masker dengan baik, lalu membawa hand sanitizer dan social distancing, tetapi sembari meningkatkan daya tahan tubuh.

Caranya dengan mengatur pola makan dan asupan makanan sesuai anjuran, banyak minum minuman herbal seperti empon-empon, minum air hangat, dan berjemur pastinya. Anak-anak juga sebisa mungkin diberikan suplemen yang mengandung banyak vitamin C agar imunnya terjaga.

Setelah saya sendiri mengalami hal ini, saya sarankan yang masih sehat, tolong ikuti aturan-aturan yang ada, perketat orang-orang yang masuk ke rumah kita, jangan lupa untuk jaga kesehatan baik dari luar maupun dalam.

Yang sudah kena pun, usahakan jangan panik, kondisikan pikiran walaupun pasti susah sekali saya yakin, namun usahakan agar imun naik kembali, juga tetap berserah diri kepada Allah, tetap ikhlas dan sabar, badai pasti berlalu.

Baca Juga: Pandemi Covid-19, Ini yang Keluarga Kami Lewati di Negeri Jiran Malaysia

Artikel Terkait