PARENTING
21 Februari 2020

Tantangan Tinggal di Luar Negeri Sambil Membesarkan Anak yang Fasih Berbahasa Indonesia

Meskipun tinggal di luar negeri, tapi keinginan saya bulat, anak saya harus bisa bahasa Indonesia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Prita Apresianti

Oleh Angelyn Ardiwinata Liem, Mom dari Asher Jaskie Miao, 3 tahun dan Darrell Liem Miao, 4 bulan

Sebagai Moms, saya melalui banyak proses trial dan error dalam membesarkan anak pertama saya, Asher. Ia sudah melalui berbagai macam jenis percobaan dan eksperimen buatan saya. Mulai dari soal makanan (FYI : saya tidak jago masak), pendidikan (Asher sampai berpindah ke tiga sekolah karena saya mau tahu banyak metode pembelajaran), sampai soal bahasa (hingga kini Asher masih berkomunikasi campur aduk antara Bahasa Indonesia dan Inggris).

Perlu diketahui, suami saya orang Amerika tapi lahir di China. Dengan ayahnya, Asher berkomunikasi dengan bahasa Inggris atau Chinese, karena suami saya kurang lancar berbahasa Indonesia walaupun dia pernah tinggal di Jakarta selama hampir 5 tahun. Sedangkan dengan saya, Asher dan saya sering memakai bahasa Indonesia campur English.

Lullabies buat Asher dinyanyikan kebanyakan dalam bahasa Inggris, karena yang saya ketahui pun dalam bahasa Indonesia terbatas. Untungnya sebelum pindah ke Amerika, ayah saya sering menyanyikan lagu dalam bahasa Indonesia, seperti Tepuk Tepuk Tangan Suka Suka. Sehingga Asher sangat mengenal lagu itu. Sayangnya Asher pindah ke Amerika di umur 3 bulan, Sehingga ingatannya soal bahasa Indonesia pun bertambah kecil.

Pentingnya Berbahasa Indonesia sejak Dini

smOpa.jpg

Mungkin saya terlambat, untuk soal komunikasi dengan anak saya menggunakan 100 persen bahasa Indonesia balita. Saya baru mulai mengerti pentingnya menggunakan bahasa Indonesia dengan anak saya ketika Asher 1,5 tahun dan kakak saya berkata dia menyesal tidak mengajarkan anaknya untuk sering berbahasa Indonesia.

Akibatnya, anaknya tidak dapat berkomunikasi dengan Ibu dan Ayah kami yang memang kurang mahir berbicara Inggris.

Baca Juga: Pentingnya Anak Belajar Bahasa Indonesia

Timbul Kekhawatiran soal Speech Delay

BacaBuku.jpg

Sejak saat itu, saya mulai membiasakan Asher berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Tapi kemudian saat merayakan ulang tahunnya yang kedua, Asher belum dapat berbicara sebanyak anak lain seusianya.

Saya pun mulai cemas. Banyak Moms lain yang berkata saya tidak perlu khawatir, karena banyak anak-anak lain yang orang tuanya menggunakan lebih dari satu bahasa di rumah baru mulai berbicara di umur 2.5 atau bahkan 3 tahun.

Tapi, mungkin karena Asher adalah anak pertama saya dan saya belum berpengalaman banyak sebagai orang tua, saya tetap khawatir.. Apalagi ketika dokter disini memberi kami instruksi supaya Asher ikut kelas speech therapy.

Baca Juga: 5 Aktivitas Tepat Untuk Mendidik Anak Bilingual

Setelah berdiskusi dengan suami, kami memutuskan untuk tidak memberikan Asher speech therapy. Tapi saya memilih tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia lagi dengan Asher, dan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris saja, supaya Asher tidak bingung dan speech delay-nya semakin parah.

Akhirnya, Asher menunjukkan kebaikan. Di usia 26 bulan, ia mulai lancar berbicara dalam bahasa Inggris. Tapi sempat ada sedikit penyesalan melihatnya tidak mengerti bahasa Indonesia ketika bermain dengan sepupu-sepupunya di Jakarta yang berbahasa Indonesia. Ayah dan Ibu saya pun kurang dapat berkomunikasi dengan Asher.

Saya mulai memerhatikan beberapa Moms lain yang juga tinggal di Amerika, yang sangat konsisten dalam menggunakan bahasa “native” mereka dengan anak-anaknya Ada Moms asal Jepang, yang walaupun anak anaknya lahir dan besar di Amerika, tapi tetap bisa dan lancar berbahasa Jepang.

Ada juga yang asal Indonesia dan bisa berbahasa Indonesia dengan kedua anaknya cukup konsisten, walaupun sang Ayah fasih berbahasa Jerman.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Klinik Tumbuh Kembang Anak di Jakarta dan Layanan Terapi yang Dimiliki

Susahnya Mengubah Kebiasaan Anak

Masak.jpg

Saya pun kembali mencoba untuk menggunakan bahasa Indonesia lagi dengan Asher. Namun karena sudah terbiasa berbahasa Inggris, Asher tidak paham lagi. Jadinya, saya tidak bisa konsisten dalam berbahasa Indonesia, karena sering ada saatnya dia segera mengerti apa yang saya katakan.

Lantas saya pun terpaksa kembali berbahasa Inggris dengannya. Dan sampai saat ini, Asher hanya dapat berbicara beberapa kata saja dalam bahasa Indonesia, seperti “gendong,” “bau,” “makan,” dan “apa kabar.”

Baca Juga: Ternyata Ini 6 Penyebab Anak Zaman Sekarang Lebih Senang Menggunakan Bahasa Inggris

Pantang Menyerah karena Hari Esok adalah Kesempatan Baru

Hingga saat ini, saya masih kesal dengan diri saya sendiri setiap kali saya mendengar diri saya berbicara bahasa Inggris dengan Asher. Dengan anak kedua saya, Darrell, saya coba hanya menggunakan bahasa Indonesia 100 persen dengannya. Dengan Asher, saat ini saya masih menggunakan dua bahasa secara bersamaan.

Mungkin keputusan ini juga bukan yang terbaik, tapi saya juga sering heran melihat banyak Moms di Indonesia yang lebih banyak berbahasa Inggris dengan anak anak mereka sehingga anak anak tersebut lebih nyaman berbahasa Inggris.

Sedangkan observasi saya di sini, para Moms malah berusaha keras agar anak-anaknya fasih berbahasa Indonesia. Oleh sebab itu, saya belum dan tidak akan menyerah. Saya akan terus mencoba untuk menggunakan konsisten menggunakan 100 persen bahasa Indonesia dengan Asher.

Menurut riset, anak berumur 3 dan 4 tahun masih bisa belajar bahasa baru dengan cepat. Asher sekarang berumur 3.5 tahun, jadi saya masih punya harapan bahwa dia akan dapat berbahasa Indonesia dengan lancar sebelum dia berumur 5 tahun. Doakan saya sukses ya Moms!

Artikel Terkait