3-5 TAHUN
8 Oktober 2020

Berapa Tekanan Darah Normal pada Anak?

Tekanan darah normal pada anak harus diperhatikan guna menjaga tumbuh kembang yang optimal
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Serenata Kedang
Disunting oleh Intan Aprilia

Tekanan darah pada manusia dapat menunjukkan kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Tekanan darah yang tidak normal dapat menjadi sinyal adanya gangguan atau ketidakseimbangan dalam tubuh kita.

Pada orang dewasa, tekanan darah normal dapat ditentukan berdasarkan standar yang telah umum diketahui, tapi bagaimana dengan tekanan darah normal pada anak?

Tekanan Darah Normal pada Anak

Tekanan Darah Normal pada Anak.jpg

Foto: freepik.com

Tekanan darah adalah besarnya kekuatan darah mendorong dinding arteri dalam tubuh.

Pada alat pengukur tekanan darah atau Tensimeter, terdapat dua angka yang menunjukkan tekanan sistolik dan diastolik.

Tekanan sistolik adalah angka yang biasanya terletak di atas dan lebih besar, menunjukkan tekanan tertinggi yang terjadi saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh.

Sedangkan tekanan diastolik adalah angka yang terletak di bawah, menunjukkan tekanan darah terendah saat jantung beristirahat dan terisi darah.

Dalam jurnal BMC Pediatrics, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak-anak di atas 3 tahun untuk memeriksa tekanan darah setidaknya sekali setahun untuk mendeteksi lebih dini adanya abnormalitas seperti tekanan darah terlalu tinggi atau rendah, walaupun kasus ini jarang terjadi pada anak-anak.

Baca Juga: 7 Makanan Ini Bisa Menurunkan Tekanan Darah Tinggi Dengan Cepat

Panduan tekanan darah normal pada anak yang digunakan berdasarkan pada tinggi, berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar kepala.

Mengacu pada Pediatric Advanced Life Support (PALS), umumnya tekanan darah normal pada anak usia 3-6 tahun adalah berada pada rentang 95-110 mmHg untuk tekanan darah sistolik serta 60-75 mmHg untuk tekanan darah diastolik.

1. Hipotensi pada Anak

Hipotensi pada Anak Balita.jpg

Foto: freepik.com

Untuk mengetahui apakah tekanan darah Si Kecil terlalu rendah (hipotensi), Moms bisa menggunakan rumus dari PALS yang dapat digunakan sebagai panduan bagi anak berusia 1-10 tahun.

Jika angka tekanan darah sistolik Si Kecil lebih kecil dari 70+(2 x usia) mmHg, maka tekanan darahnya terlalu rendah.

Penyebabnya bisa bermacam-macam, antara lain:

  • Dehidrasi
  • Reaksi alergi
  • Infeksi
  • Anemia akibat kurang zat besi
  • Kelainan jantung
  • Luka atau trauma
  • Kekurangan nutrisi atau masalah metabolisme
  • Aktivitas fisik yang berlebihan

Umumnya, anak yang tekanan darahnya rendah menunjukkan gejala seperti pusing atau sakit kepala, pingsan, merasa lelah walau sudah beristirahat cukup, mual, sulit fokus, pandangan kabur, tidak enak badan, serta sulit bernapas.

2. Hipertensi pada Anak

Hipertensi pada Anak Balita.jpg

Foto: freepik.com

Angka tekanan darah yang lebih tinggi di atas panduan tekanan darah normal pada anak biasanya jarang terdeteksi.

Sebab, hipertensi pada anak-anak sulit diukur, lebih sulit diidentifikasi, dan seringkali hipertensi dianggap jarang ada pada anak-anak.

Hipertensi pada anak usia kurang dari 6 tahun umumnya disebabkan oleh kondisi kesehatan lainnya.

Pada usia 6 tahun dan seterusnya, penyebab hipertensi mirip dengan orang dewasa, yaitu berat badan berlebihan, nutrisi tidak seimbang, dan kurang olahraga.

Pada anak-anak, hipertensi biasanya juga tidak sering menunjukkan gejala, kecuali hipertensi yang dideritanya tergolong hipertensi tingkat 2.

Di Amerika, hipertensi pada anak-anak dideteksi seiring dengan berat badan berlebihan (obesitas).

Selain obesitas, sekitar 40% anak yang diperiksa dan menunjukkan hipertensi kemungkinan terdampak White Coat Hypertension, yaitu tekanan darah naik akibat rasa takut dan cemas saat menghadapi dokter (yang umumnya memakai jas putih).

Saat ini untuk mendiagnosis Si Kecil dengan hipertensi, tekanan darahnya akan dibandingkan dengan anak lain yang memiliki jenis kelamin, tinggi, dan umur yang sama dengan Si Kecil.

Untuk melakukan diagnosis yang lebih pasti, Moms dapat mengukur tekanan darah Si Kecil di rumah sesuai rekomendasi dokter.

Italian Journal of Pediatrics memberikan panduan untuk mengukur tekanan darah di rumah agar mendapatkan data yang benar dan lebih akurat, yaitu dengan melakukan dua kali pengukuran dalam jeda waktu beberapa menit, dilakukan saat pagi dan malam hari selama 3 hari berturut-turut.

Baca Juga: Ini Gejala Anemia pada Anak dan Cara Menanganinya, Wajib Tahu!

Tekanan Darah Normal pada Remaja

Remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan juga memiliki rentang tekanan darah normal yang berbeda dengan orang dewasa.

Banyak faktor yang memengaruhi berubahnya tekanan darah misalnya aktivitas fisik, emosi, usia, tinggi dan berat badan, jenis kelamin, kondisi kesehatan tertentu, dan diet sehari-hari.

Berdasarkan panduan PALS, rentang tekanan darah normal pada anak remaja adalah 110-131 mmHG pada tekanan darah sistolik, serta 64-83 mmHg pada tekanan darah diastolik.

1. Hipotensi pada Remaja

Hipotensi pada Anak Remaja.jpg

Foto: freepik.com

Pada usia remaja, hipotensi dapat terjadi karena gaya hidup atau gejala masalah kesehatan lainnya.

Gaya hidup sehari-hari yang dapat menjadi faktor rendahnya tekanan darah pada remaja, contohnya kurang konsumsi garam dan cairan, stres, berdiri terlalu lama dalam kondisi udara panas, kurang zat besi, atau minum alkohol.

Namun, faktor lain seperti masalah kesehatan yang belum diketahui juga memungkinkan, misalnya kelainan pada kelenjar adrenal (Addison’s Disease), diabetes, kehilangan banyak darah tiba-tiba, infeksi yang parah, reaksi alergi, serta kelainan jantung.

Pada remaja perempuan, hipotensi dapat terjadi ketika sedang menstruasi akibat darah yang terlalu banyak keluar atau kondisi sinkop vasovagal (pingsan).

Gejala lain yang mungkin muncul pada anak remaja yang memiliki tekanan darah yang rendah antara lain pandangan kabur, kepala terasa ringan, kebingungan, pusing, lemas, mual atau muntah, dan terus menerus merasa ngantuk.

Baca Juga: Orang Tua Merokok Berisiko Membuat Anak Merokok Sejak Remaja

2. Hipertensi pada Remaja

Hipertensi pada Anak Remaja.jpg

Foto: freepik.com

Pada anak usia remaja yang rentang tekanan darahnya di antara 120/80 mmHg hingga 139/89 mmHg memang berada di atas tekanan darah normal anak remaja, namun tidak serta merta menjadikan anak remaja terdiagnosis hipertensi, melainkan berada dalam golongan prehipertensi.

Namun, kondisi ini tidak boleh dianggap remeh karena penelitian menunjukkan remaja yang memiliki kondisi prehipertensi lebih mungkin terkena hipertensi dan komplikasinya, seperti masalah jantung atau stroke, di masa dewasanya.

Sama seperti orang dewasa, pada umumnya hipertensi pada remaja biasanya disebabkan oleh obesitas, gaya hidup kurang sehat, misalnya makan-makanan yang terlalu banyak garam, konsumsi kafein berlebihan, minuman beralkohol, kurang berolahraga, nutrisi tidak seimbang, dan merokok.

Namun, hipertensi juga dapat menjadi gejala dari penyakit lain, seperti masalah pada ginjal, paru-paru, jantung, atau efek samping dari obat-obatan tertentu.

Pada kasus hipertensi yang cukup berat, anak dapat merasakan gejala seperti sakit kepala, pandangan kabur, pusing, mimisan, detak jantung kencang, dan mual.

Mengetahui tekanan darah normal pada anak remaja bermanfaat untuk mendeteksi adanya abnormalitas pada tubuhnya agar dapat dilakukan tindakan preventif guna mencegah masalah kesehatan yang muncul di masa depan.

Jika anak mengetahui tekanan darahnya tergolong dalam prehipertensi, mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat akan mengurangi risiko hipertensi dan komplikasinya di usia dewasanya.

Baca Juga: Anak IVF Berisiko Diabetes dan Hipertensi

Menjaga Tekanan Darah Normal pada Anak

Menjaga Tekanan Darah Normal pada Anak.jpg

Foto: freepik.com

Sama seperti kesehatan bagian tubuh manusia lainnya, tekanan darah juga perlu dijaga kesehatannya agar tetap dalam tekanan dan sirkulasi yang wajar dan normal.

Bagi anak-anak yang pola makan dan aktivitasnya sebagian besar bergantung pada keputusan Moms dan Dads, menjaga tekanan darah normal pada anak dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari, contohnya:

1. Mengontrol Asupan Garam

Kebutuhan garam setiap anak akan berbeda, tergantung pada usia, aktivitas sehari-hari, kondisi kesehatan, dan lain-lain.

CDC merekomendasikan anak-anak 6-18 tahun mendapatkan asupan garam tidak lebih dari 2300 mg per hari.

Untuk mendapatkan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kondisi Si Kecil, Moms dapat berkonsultasi langsung dengan dokter.

2. Makan Makanan Bergizi

Makanan yang bergizi seimbang berperan sangat penting dalam menjaga tekanan darah normal pada anak.

Sayur-sayuran, buah, dan kacang-kacangan yang mengandung zat besi, asam folat dan vitamin B12, sebaiknya menjadi menu makan sehari-hari agar mencukupi kebutuhan tubuh anak.

Contoh makanan yang baik untuk kesehatan darah adalah telur rebus, asparagus, atau brokoli.

Jangan lupa untuk minum cukup air untuk mencegah dehidrasi, salah satu penyebab tekanan darah rendah pada anak-anak.

Baca Juga: Waspadai Penyebab Anak Alami Hipotensi atau Darah Rendah

3. Menyesuaikan Aktivitas Fisik

Jika tekanan darah anak termasuk rendah, anjurkan batasan aktivitas fisiknya agar tidak terlalu berat dan hindari berdiri atau duduk terlalu lama pada suhu yang panas.

Bagi anak remaja, usahakan untuk memotivasi dan mengajak mereka berolahraga minimal 3 kali seminggu selama 30-60 menit.

Moms juga perlu menjaga berat badan anak dalam rekomendasi yang sehat. Moms dapat mengacu pada indeks massa tubuh atau berkonsultasi dengan dokter.

4. Jangan Konsumsi Kafein

Kandungan kafein tertinggi terdapat dalam kopi, namun kafein juga terdapat pada minuman energi, teh, soda, dan cokelat.

Untuk remaja 12-18 tahun, AAP memberikan batasan asupan 100 mg per hari, kurang lebih setara dengan 1 cangkir kopi, 1-2 cangkir teh, atau 2-3 kaleng soda.

Konsumsi kafein di bawah 12 tahun tidak dianjurkan karena dapat menimbulkan efek samping seperti diare, dehidrasi, atau rasa cemas.

Baca Juga: Yuk, Berikan 9 Makanan Kaya Zat Besi Ini untuk Anak

Tekanan darah yang normal pada anak tidak hanya menunjukkan bahwa mereka sehat secara keseluruhan, tetapi juga mencegah mereka menderita masalah kesehatan akibat faktor-faktor tekanan darah yang tidak normal. Untuk itu, tak ada salahnya mengecek tekanan darah Si Kecil secara rutin ya, Moms.

Artikel Terkait