SELEBRITI
23 Juli 2019

Mengenal Tradisi Tedhak Siten, Tradisi Jawa yang Digelar Ardina Rasti untuk Anaknya

Tradisi tedhak siten biasa dilakukan di lingkungan Keraton Yogyakarta

Sumber: instagram.com/reisabrotoasmoro

Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Setiap orang tua memiliki caranya sendiri dalam menunjukkan rasa syukur akan kelahiran anaknya. Salah satunya dengan mengadakan upacara syukuran.

Termasuk juga bagi pasangan Ardina Rasti dan Arie Dwi Andhika yang telah melahirkan anak pertamanya, Anara Langit, pada Desember 2018 kemarin.

Upacara tedhak siten ini diadakan pada Senin (22/7) di Pendopo Kemang Kafe, Jakarta Selatan. Acara ini tidak hanya dihadiri oleh keluarga, tetapi juga kerabat dari Ardina maupun Arie.

Tampak Ardina dan Arie berbusana serba biru, lengkap dengan properti dan dekorasi upacara dengan warna biru yang senada.

Pasangan Ardina dan Arie menggelar upacara tedhak siten ketika anak mereka memasuki usia 7 bulan. Tedhak siten sendiri biasa diadakan di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Lalu, seperti apa proses ritual tedhak siten yang diadakan oleh pasangan Ardina dan Arie untuk anak pertama mereka? Berikut ini penjelasannya!

Upacara Tedhak Siten

upacara tedhak siten

Foto: instagram.com/hendrosudarta

Mengutip Joglo Semar, tedhak berarti "melangkah", dan "siten" berasal dari kata siti yang artinya "tanah/bumi". Sehingga, tedhak siten memiliki makna "melangkah di bumi".

Upacara ini menggambarkan kesiapan seorang anak untuk menghadapi kehidupan yang sukses di masa depan, dengan berkah Tuhan dan bimbingan dari orang tua, sejak masa kecilnya.

Upacara tedhak siten dilakukan ketika seorang anak perempuan atau laki-laki berusia 7 lapan. Karena 1 lapan sama dengan 35 hari, jadi umur anak saat mengadakan tedhak siten berusia 245 hari (7 x 35 = 245 hari).

Karna pada usia ini, perkembangan anak sudah berada pada tahap berdiri, dan di momen ini kaki anak sudah bisa menginjak tanah.

Biasanya, tedhak siten harus diselenggarakan di pagi hari, di halaman depan rumah.

Tedhak siten menggunakan sajen/persembahan yang melambangkan permintaan dan doa kepada Tuhan untuk menerima berkah dan perlindungan, berkah dari para leluhur, serta memerangi perbuatan jahat dari manusia dan roh jahat.

Baca Juga: Unik dan Berbeda-beda, Seperti Inilah Tradisi Perayaan Tahun Baru di 5 Benua

Ritual Tedhak Siten

tedak siten-4.jpg

Foto: budayajawa.id

Sebelum masuk ke proses acara, pihak orang tua yang hendak mengadakan tedhak siten membutuhkan peralatan yang diperlukan, yaitu:

  • Kurungan dari bambu seperti untuk mengurung ayam
  • Aneka jenang (bubur) warna-warni
  • Tangga dan kursi, dibuat dari tebu
  • Ayam panggang ditusukkan pada batang tebu, dibawahnya diberi pisang, aneka barang-barang dan mainan tradisional
  • Tumpeng robyong, bubur dan jadah (terbuat dari ketan) 7 warna, buah-buahan dan jajanan pasar
  • Uang kertas/receh untuk disebarkan
  • Bayu gege (air gege), dibiarkan semalam di tempat terbuka dan paginya kena sinar matahari sampai jam 08.00
  • Ayam hidup yang dilepaskan dan diperebutkan kepada tamu undangan

Setelah semua kebutuhan telah disiapkan, keluarga (orang tua, anak, kerabat) dan undangan berkumpul di tempat upacara. Langkah-langkah ritual harus sebagai berikut:

1. Berjalan di 7 Warna

Anak dipandu untuk berjalan di 7 warna yang berbeda (merah, putih, jingga, kuning, hijau, biru, dan ungu) yang terbuat dari beras ketan.

Ritual ini melambangkan bahwa di masa depan, anak harus bisa mengatasi semua hambatan dalam hidup.

2. Menginjak Tangga dari Tebu

Anak selanjutnya dibimbing untuk menginjak tangga yang terbuat dari tebu "Arjuna" dan kemudian turun. Tebu merupakan singkatan dari Antebing Kalbu.

Diharapkan ke depannya, anak itu berperilaku seperti Arjuna, yang merupakan seorang pejuang sejati. Diharapkan anak bisa berjalan dalam kehidupan dengan tekad dan penuh percaya diri seperti Arjuna yang heroik.

3. Diletakkan di Tumpukan Pasir

Usai menginjak tangga dari tebu, selanjutnya anak dipandu dua langkah dan diletakkan di atas tumpukan pasir. Anak harus melakukan "Ceker-Ceker", yaitu ia bermain pasir dengan kedua kaki.

Dalam bahasa Jawa, ritual ini memiliki makna bahwa ceker-ceker tersebut artinya bekerja dan mendapatkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya.

4. Masuk ke Kandang Ayam

Selanjutnya, sang anak kembali dipandu untuk memasuki kandang ayam yang didekorasi. Di dalam kandang, ada beberapa barang, seperti buku tulis, perhiasan, aksesoris emas, kalung, gelang, beras, kapas dan barang-barang bermanfaat lainnya.

Di tahap ini, anak akan memilih barang yang disediakan di kandang ayam tersebut.

Jika misalnya, anak bermain dengan buku tulis, mungkin dia harus bekerja di kantor atau menjadi profesor. Bila anak memilih perhiasan, mungkin anak itu haruslah menjadi orang kaya.

Kandang ayam tersebut memiliki makna bahwa ketika anak telah memasuki kehidupan, dia harus dijaga oleh hal-hal baik.

5. Menyebarkan Udik-udik

Sementara itu, ayah dan kakek anak tersebut menyebarkan "udik-udik", yang merupakan koin-koin dan bunga.

Diharapkan, bahwa anak harus memiliki cara mudah untuk mencari nafkah dan harus bermurah hati dengan membantu orang lain.

Baca Juga: Ternyata Begini Tradisi Hari Pertama Sekolah Di Berbagai Negara

6. Dimandikan dengan Bunga Sritaman

Selanjutnya, anak harus dimandikan atau dibersihkan dengan bunga Sritaman.

Air mandi ini terdiri dari bunga mawar, melati, magnolia dan kenanga. Diharapkan, anak di masa depan bisa memberikan nama baik untuk keluarganya.

7. Dipakaikan Pakaian Baru

Usai menjalani semua ritual, anak itu dipakaikan pakaian rapi yang indah dan baru.

Ini menggambarkan bahwa ia harus selalu memiliki kehidupan yang baik dan makmur, dan dapat membuat orang tuanya hidup bahagia.

Nah, itu dia Moms proses tedhak siten, tradisi Jawa yang digelar pasangan Ardina Rasti dan Arie Dwi Andhika, kepada anak pertamanya, Anara Langit.

Artikel Terkait