GAYA HIDUP
8 Mei 2019

Waspada ‘Selingkuh’ Keuangan di Rumah Tangga, Apa Maksudnya?

Selingkuh ternyata bisa terjadi dalam pengaturan pengeluaran rumah tangga. Apa maksudnya? Simak di sini ulasannya.
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Orami

Selingkuh sering menjadi permasalahan di dalam hubungan pacaran hingga pernikahan.

Adanya orang ketiga dapat memicu konflik di rumah tangga yang dampak fatalnya adalah perceraian.

Faktanya, selingkuh bukan saja artinya punya affair dengan orang lain selain pasangan, tapi selingkuh juga bisa terjadi dalam pengaturan keuangan rumah tangga.

Selingkuh sendiri artinya adalah menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri, berbuat curang dan tidak jujur.

Selingkuh dalam keuangan rumah tangga berarti adanya ketidakjujuran dalam memberitahukan pemasukan atau pengeluaran pada pasangan.

Selingkuh keuangan juga menjadi masalah yang dapat terjadi pada rumah tangga dan dapat menimbulkan konflik.

Hal keuangan dalam rumah tangga pastinya menjadi persoalan yang sensitif.

Baca Juga : 4 Pertanyaan Paling Sering Muncul Mengenai Keuangan Rumah Tangga

Siapa yang mengatur keuangan rumah tangga? Haruskah uang suami menjadi uang istri sepenuhnya? Bagaimana caranya agar pengeluaran rumah tangga tidak defisit setiap bulannya? Dan apa yang harus dilakukan ketika pasangan tidak berlaku jujur tentang keuangannya?

Semua pertanyaan di atas dapat menjadi masalah yang saat ini dihadapi Moms dan Dads. Masalah tersebut harus segera ditemukan jalan keluarnya.

Seorang konselor rumah tangga bernama Nuniek Tirta mengungkapkan kunci utamanya adalah kejujuran dan keterbukaan antar pasangan terlebih dulu.

“Caranya agar tidak ada selingkuh keuangan memang harus dibicarakan soal transparansi dan keterbukaan,” ujar Nuniek pada Kulwap Orami Community, Kamis (7/2) lalu.

Bagaimana mewujudkan transparansi dalam keuangan dengan pasangan? Simak di sini ulasannya.

Pentingnya Mengelola Keuangan

Waspada ‘Selingkuh’ Keuangan di Rumah Tangga, Apa Maksudnya-2.jpg

Foto: moneyunder30

Setiap pasangan suami dan istri punya kebutuhan yang berbeda-beda dan cara mengelola keuangan juga pasti akan berbeda.

Pasangan yang baru menikah setahun tentu akan berbeda dengan pasangan yang sudah mempunyai 3 anak.

Namun, menurut Nuniek, ada pelajaran penting yang harus terus diingat tentang pengelolaan keuangan.

Terlepas dari berapa pun usia pernikahan yang Moms jalani.

“Hal yang menjadi sumber masalah adalah bukan seberapa besar atau kecilnya uang yang dimiliki, namun keterbukaan dalam mengelolanya. Gaji besar bukan jaminan lebih bahagia apalagi kalau gaya hidup melebihi batas kemampuan finansial,” ujar Nuniek yang juga inisiator #Startuplokal Community ini.

Nuniek selalu menekankan bahwa pengeluaran terbesar bukan kebutuhan sehari-hari, namun gaya hidup yang harus diikuti.

Untuk itu, sebaiknya Moms dan Dads menjauhkan diri dari kebiasaan boros keuangan yang hanya akan merugikan ke depannya.

“Pentingnya menyatukan pengelolaan keuangan agar sejalan, satu haluan, dan tidak melenceng. Percayakan pengelolaan keuangan kepada yang paling bisa mengaturnya,” lanjut Nuniek.

Baca Juga : Agar Pasangan Tak Meributkan Masalah Keuangan

Pentingnya Kejujuran dalam Keuangan

Waspada ‘Selingkuh’ Keuangan di Rumah Tangga, Apa Maksudnya-3.jpg

Foto: verywellmind

Setelah diskusi tentang siapa yang mengelola keuangan, maka hal yang penting untuk diingat adalah pentingnya kejujuran dalam keuangan rumah tangga.

Misalnya begini, Moms dan Dads sama-sama bekerja dan berpenghasilan.

Sisihkan penghasilan sekian besar untuk kebutuhan masing-masing pribadi.

Namun, tetap harus jujur pada pasangan tentang nominal sisa penghasilan yang harus digunakan sebagai kebutuhan keluarga.

Kondisi ini dapat memicu konflik jika ada ketidakjujuran pada pasangan. Untuk itu, keterbukaan dan kejujuran sangat dibutuhkan dalam mengatur keuangan rumah tangga.

Idealnya, pasangan suami dan istri punya rekening atas nama bersama yang bisa diakses berdua.

Hal ini dilakukan agar keuangan rumah tangga lebih terbuka dan transparan.

Pastinya semua harus dibicarakan baik-baik dulu dengan suami.

Intinya adalah jujur dan bijak dalam mengatur keuangan keluarga karena dampak bukan terjadi hari ini tapi juga di masa mendatang.

(DG/CAR)

Artikel Terkait