BALITA DAN ANAK
8 Agustus 2020

Mengapa GERD pada Balita Bisa Terjadi? Ini Penjelasannya!

Asam lambung naik tak hanya bisa dirasakan oleh orang dewasa, balita juga!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Ternyata penyakit asam lambung naik bukan hanya penyakit orang dewasa saja, bayi dan balita juga bisa terkena penyakit tersebut.

Untuk anak, biasanya istilah yang dipakai untuk gangguan asam lambung adalah GER alias Gastroesophageal Reflux (atau refluks saja).

Jurnal yang disusun oleh American Academy of Pediatrics menuliskan bahwa GER adalah hal yang cukup sering dialami oleh bayi terutama usia 4 hingga 12 bulan.

Nah, ketika refluks terjadi semakin sering dan menimbulkan rasa sakit, baru ini dikategorikan sebagai penyakit yang kita sebut GERD. Biasanya, balita lah yang mengidap GERD ini.

Mengapa GERD pada Balita Bisa Terjadi?

gerd pada balita

Foto: Orami Stock Photos

Mengutip Johns Hopkins Medicine, GERD sering disebabkan oleh sesuatu yang mempengaruhi LES, sfingter esofagus bagian bawah. LES adalah otot di bagian bawah pipa makanan (kerongkongan).

LES terbuka untuk membiarkan makanan masuk ke dalam perut. Tutup untuk menyimpan makanan di perut. Ketika LES terlalu sering rileks terlalu lama, asam lambung akan mengalir kembali ke kerongkongan. Hal ini bisa menyebabkan muntah atau mulas.

Setiap orang mengalami refluks dari waktu ke waktu. Jika pernah bersendawa dan mempunyai rasa asam di mulut, itu artinya sedang mengalami refluks. Kadang-kadang LES bersantai di saat yang kurang tepat. Seringkali Si Kecil hanya akan memiliki rasa tidak enak pada mulutnya. Atau ia mungkin merasakan GERD yang pendek dan ringan.

Bayi lebih cenderung memiliki LES yang lebih lemah. Ini membuat LES rileks ketika harus tetap tertutup. Ketika makanan atau susu dicerna, maka LES akan terbuka. Ini memungkinkan isi lambung naik kembali ke kerongkongan.

Kemudian bayi atau anak itu muntah. Dalam kasus lain, isi lambung yang naik hanya sebagian dari naiknya esofagus. Ini menyebabkan GERD atau masalah pada pernapasan. Dalam beberapa kasus tidak timbul gejala sama sekali.

Beberapa jenis makanan tampaknya memengaruhi pergerakan otot LES. Mereka membiarkan LES akan tetap terbuka lebih lama dari biasanya. Makanan-makanan ini adalah:

  • Cokelat
  • Permen
  • Makanan tinggi lemak

Makanan lain menyebabkan perut lebih banyak asam. Makanan-makanan ini adalah:

  • Jeruk
  • Saus tomat dan tomat

Hal-hal lain yang dapat menyebabkan GERD adalah:

  • Gemuk
  • Obat-obatan, termasuk beberapa antihistamin, antidepresan, dan obat sakit
  • Berada di sekitar asap rokok

Baca Juga: 7 Buah-buahan yang Aman Dikonsumsi Penderita GERD

Tanda-tanda GERD pada Balita

gerd pada balita

Foto: Orami Stock Photos

Dilansir dari Kids Health, salah satu ciri utama GERD pada balita yang harus Moms waspadai adalah muntah berkali-kali. Namun, ada beberapa tanda lain yang juga harus diperhatikan.

Saat Si Kecil mengeluh sakit perut, tanyakan padanya apakah ia merasa sakit saat menelan, apakah dada atasnya terasa panas, dan perutnya semakin sakit saat ia berbaring?

Selain itu, Si Kecil juga biasanya menolak untuk makan karena bagian lambungnya akan terasa sakit saat makanan masuk.

Di pagi hari, ia akan merasa tidak enak di bagian mulut karena bau tidak sedap. Coba Moms pegang juga perutnya, apabila bengkak dan keras maka bisa jadi ia terkena GERD. Untuk beberapa anak, mereka akan mengalami gangguan pernapasan, pneumonia, dan kolik.

Ada beberapa gejala lain yang menunjukkan bahwa Si Kecil menderita GERD. Yuk, disimak Moms:

  • Menolak untuk makan atau makan hanya sedikit.
  • Gampang rewel, gelisah, dan menangis setelah makan. Sebab, Si Kecil belum dapat mengekspresikan hal yang mengganggunya.
  • Sering muntah kuat, terutama setelah makan.
  • Heartburn yang bisa berlangsung sampai 2 jam dan cenderung memburuk setelah makan. Ini merupakan gejala GERD pada balita dan remaja yang paling umum.
  • Perut anak kembung dan jika Moms raba, terasa keras.
  • Anak menunjukkan gejala respiratorik, yaitu mengi dan batuk.
  • Berat badannya tetap dan tidak naik.

“Beberapa gejala di atas dapat memburuk jika anak berbaring atau didudukkan setelah ia makan,” terang dr. Frieda.

Seiring bertambahnya usia, gejala GERD pada balita semakin mirip dengan gejala pada orang dewasa. Menurut Canadian Society of Intestinal Research, GERD pada balita juga bisa dikaitkan dengan batuk kronis, napas yang berbau busuk, sinusitis, suara serak, dan pneumonia.

Jangan lupa untuk memperhatikan hal-hal di atas ya Moms, karena jika berlanjut ini akan memengaruhi tumbuh kembang Si Kecil.

Baca Juga: Ini Perbedaan GER dan GERD pada Anak

Dampak GERD pada Balita

dampak gerd pada anak

Foto: Orami Stock Photos

Beberapa anak juga bisa mengalami komplikasi dari GERD. Refluks asam yang terjadi terus menerus bisa menyebabkan:

  • Gangguan pernapasan (apabila isi perut masuk ke dalam trakea, paru-paru atau hidung).
  • Iritasi kerongkongan, biasa disebut esophagitis.
  • Pendarahan kerongkongan.
  • Adanya luka kerongkongan yang membuat anak sulit menelan makanan.
  • Ada kemungkinan GERD mempengaruhi gizi mereka. Jika berat badan anak menurun, segera konsultasikan ke dokter.

Baca Juga: Moms Sudah Tahu Beda Maag dan GERD?

Komplikasi GERD yang Akan Dialami Anak

komplikasi GERD pada Anak.jpg

Foto: Orami Stock Photos

Ada beberapa komplikasi GERD pada balita yang mungkin bisa terjadi.

1. Esofagitis

Atau dikenal juga dengan radang atau iritasi kerongkongan. Esofagitis ini disebabkan refluks yang terjadi akibat gangguan pada katup bagian bawah kerongkongan yang berfungsi menahan isi dari lambung agar tidak naik menuju kerongkongan.

Kondisi esofagitis refluks yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan kesulitan naiknya berat badan pada anak dan juga kesulitan bernapas.

2. Radang Paru Berulang

Salah satu kemungkinannya adalah karena aliran asam lambung yang berulang ke kerongkongan merusak lapisan tenggorokan dan saluran udara ke paru-paru.

Menurut dr. Frieda, ini bisa membuat sulit bernapas dan batuk yang berkepanjangan. Seringnya paparan asam juga membuat paru-paru lebih sensitif terhadap iritasi, seperti debu atau serbuk sari yang semuanya menjadi pemicu asma.

Baca Juga: Benarkah GERD Bisa Menyebabkan Bau Mulut? Begini Penjelasan Lengkapnya

3. Striktur (Penyempitan) Esofagus

Striktur esofagus adalah penyempitan saluran esofagus, disebut juga kerongkongan. Peradangan atau kerusakan pada esofagus bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut yang lantas menyebabkan sempitnya kerongkongan.

Moms harus membawa anak ke dokter segera jika mengalami gejala striktur esofagus. Tubuh masing-masing orang berbeda. Selalu konsultasikan ke dokter untuk menangani kondisi kesehatan anak ya Moms.

Menangani GERD pada Balita

gerd pada balita

Foto: Orami Stock Photos

Jika balita Moms mengalami GERD, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Untuk anak yang masih menyusu, pastikan ia berada dalam posisi vertikal saat sedang disusui. Jika ia sudah minum susu dengan botol, tambahkanlah ASI maupun susu formulanya dengan satu sendok sereal oat untuk mengurangi refluks.

Untuk anak yang sudah MPASI atau makan sendiri, ingat untuk selalu memosisikan kepalanya dengan tegak dalam kurun waktu dua jam setelah makan ya, Moms.

Atur juga porsi makanan Si Kecil, lebih baik makan sedikit dengan frekuensi yang banyak, dibanding sekali makan dengan jumlah banyak.

Hindari beberapa makanan yang bisa memicu gejala GERD pada balita, seperti cokelat, peppermint, gorengan, makanan berlemak, dan kafein.

Ketika tidur, tinggikanlah kepalanya dengan dua bantal atau lebih agar kerongkongannya tidak mengalami gangguan.

Baca Juga: Serba-serbi GERD pada Anak, Cari Tahu Yuk Moms!

Semoga dengan penanganan ini, balita tercinta Moms yang mengidap GERD bisa segera pulih.

Jika sakitnya berlanjut, jangan segan untuk membawanya ke dokter untuk ditangani secara profesional masalah GERD pada balita ini, karena dokter bisa memberikan obat-obatan yang bisa membantu menjaga kesehatan lambungnya dalam jangka panjang, Moms!

Artikel Terkait