PARENTING
12 September 2019

Kisah Saya Melawan Depresi Pascamelahirkan dan Berdamai dengan Tangisan Bayi

Saya takut melihat pisau, gunting, dan benda tajam lainnya, khawatir akan melukai bayi, karena bayangan bayi terluka selalu datang menghampiri saya.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Gesti (27 th), Ibu dari Maryam (4 th), Aruna (2 th), dan Gesang (21 hari), Member WAG Orami Newborn (9).

Mendengar tangisan bayi usai melahirkan adalah hal yang menggembirakan, bahkan mengharukan bagi kebanyakan ibu.

Tapi tidak bagi saya, tangisan bayi menjadi teror yang menusuk telinga. Pedih. Saya mengalami hal ini dua kali dan berlangsung hingga Si Kecil berusia enam bulan.

Saya memiliki tiga anak dan persalinan pertama serta kedua saya diwarnai oleh baby blues dan depresi pascamelahirkan. Sehingga, saat saya hamil anak ketiga beberapa bulan lalu, saya selalu dihantui rasa takut.

Berbagai pertanyaan dan kekhawatiran selalu datang, bahkan hingga trimester akhir kehamilan. Saya takut tidak bisa memberikan perhatian untuk Maryam dan Aruna. Padahal mereka masih balita.

Apalagi, kala itu saya sudah tidak memiliki ART untuk membantu mengurus pekerjaan rumah. Bisakah saya mengurus rumah dengan tiga anak, tanpa ART?

Rasanya berat sekali. Memikirkannya berulangkali membuat saya semakin tertekan. Saya mudah lelah, tidak berselera makan, dan hanya bermalas-malasan sepanjang hari. Rumah pun saya biarkan berantakan.

Hampir setiap malam saya mimpi buruk tentang persalinan anak ketiga. Seolah ini berdasar dari ketakutan dan kecemasan saya. Tidur nyenyak adalah hal yang sangat sulit. Hampir setiap malam saya menangis diam-diam setelah anak dan suami tidur.

Hari demi hari berlalu dengan lambat, hingga akhirnya saya menyadari bahwa saya sedang tidak baik-baik saja. Ada yang tidak beres, saya harus bangkit dari keterpurukan. Saya harus mencoba, setidaknya melawan ketakutan saya sendiri.

Alhamdulillah, Tuhan memberikan saya petunjuk. Saat itu ada sebuah kuliah WhatsApp (kulwap) yang membahas tentang depresi prenatal.

Dalam kulwap itu ada sesi tanya jawab bersama psikolog. Saya pun mengungkapkan segala kekhawatiran saya di sana. Hati sedikit lebih plong, meski belum menemukan solusi konkret dari rasa takut ini.

Saya hanya pasrah dan berserah, selebihnya memercayai Tuhan punya rencana yang lebih baik setelah kelahiran anak ketiga saya ini.

Baca Juga: Dengan Mantap! Saya Menyekolahkan Anak-Anak ke Sekolah Berbasis Agama

Proses Panjang Berdamai dengan Tangisan Bayi

foto kelahiran anak ketiga-2.jpg

Satu hal yang saya yakini adalah semua hal yang ditakutkan belum tentu terjadi. Saat kehamilan mendekati hari perkiraan lahir, saya semakin pasrah. Saya memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama Maryam dan Aruna.

Kami menonton bioskop, pergi ke tempat wisata, dan bermain sepuasnya. Bahkan sempat membuat video bersama untuk menyambut kelahiran Gesang.

Tiba saatnya persalinan, semua mimpi buruk saya tidak terjadi sama sekali. Persalinan berlangsung dengan damai dan cukup lancar. Pembukaan dua pada jam 09.00 WIB, dan tepat pukul 12.14 WIB saya melahirkan Gesang, anak ketiga.

Di rumah, Maryam menjadi asisten terbaik saya. Maryam membantu mengambilkan baju Gesang dan Aruna, membereskan mainannya sendiri, hingga menjadi 'pengawas' adiknya.

Sementara Aruna, meski diwarnai drama caper, ia sangat menyayangi adiknya. Tentu saja mengasuh mereka bertiga tetap membutuhkan pengawasan ekstra.

Apakah saya lelah? Tentu. Tapi kabar baiknya, saya sudah bisa berdamai dengan tangisan bayi.

Dulu, saat saya melahirkan Maryam dan Aruna, saya selalu grogi tiap mendengar tangisan bayi. Takut sekali. Saya tidak bisa tidur bersama bayi, takut menyakiti karena mendengar bisikan yang begitu mengganggu di telinga.

Bisikan itu seakan menyuruh saya untuk menyakiti bayi untuk mengakhiri tangisannya. Setiap bayi menangis, saya merasa begitu tertekan, merasa gagal dan tidak layak menjadi ibu, dan berbagai pikiran negatif lainnya yang terus muncul di kepala.

Saya bahkan takut kalau melihat pisau, gunting, dan benda tajam lainnya, hingga tidak pernah memasak. Untunglah saat itu dibantu ART untuk memasak dan mengurus rumah.

Saya takut kalau memegang benda tajam, saya akan melukai bayi, karena bayangan bayi terluka selalu datang menghampiri saya.

Saya bahkan melakukan ruqyah sendiri untuk mengusir bisikan-bisikan jahat yang berulangkali terdengar di telinga sendiri. Tapi tidak mempan sama sekali. Saya merasa begitu stres saat itu.

Baca Juga: Moms Ingin Punya Me-Time? Apakah Terlalu Egois? Tidak Sama Sekali

Mengetahui Adanya Depresi Pasca Melahirkan

foto kehamilan anak ketiga.jpg

Saya datang ke puskesmas dan menceritakan keluhan saya. Dokter di puskesmas sangat perhatian dalam mendengarkan cerita saya sampai selesai.

"Ibu, Anda tidak sendiri. Saya punya teman, seorang dokter juga. Ia juga mengalami apa yang ibu alami. Anda tidak kesurupan atau diganggu setan. Ini adalah gejala Depresi Pascamelahirkan. Anda membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Tindakan ibu ke sini sudah sangat tepat," begitu kata ibu dokter di Puskesmas.

Kata dokter, kondisi ini terjadi pada sebagian ibu, karena kelelahan setelah melahirkan dan perubahan hormon yang drastis.

"Setelah melahirkan, tubuh membutuhkan penyesuaian, ibu kelelahan, hormonnya belum stabil, ditambah harus mengurus bayi," terangnya.

Dokter kemudian memanggil suami saya. Berulangkali beliau meminta, agar saya tidak dibiarkan sendirian.

"Semua anggota keluarga di rumah harus mengerti soal ini ya bu. Semuanya, bahkan ART jika ada, tetap harus mengetahui. Ibu juga tidak boleh sendirian," sarannya.

Saya menjelaskan kepada dokter, ada rasa takut kalau orang-orang di sekitar saya tidak percaya dan dikira mengada-ada. Saya juga takut kalau saya dikira gila. Itulah kenapa dari dulu saya tahan-tahan soal ini.

Namun, dokter memegang tangan saya dan bilang jika ia bersedia menjelaskan ke seluruh anggota keluarganya.

"Kalau ada yang enggak percaya, suruh ke sini menemui saya. Saya yang akan menjelaskan. Karena ini memang kondisi medis yang membutuhkan pengobatan," ungkapnya.

Saya sangat terharu, karena merasa mendapatkan dukungan yang luar biasa dari dokter. Suami saya pun setelah mendapatkan penjelasan dari dokter juga memberikan dukungan dengan berbagi tugas rumah.

Mertua awalnya kurang bisa menerima soal hal ini, tetapi akhirnya beliau memahami. Bahwa apa yang saya alami adalah sebuah penyakit yang bisa menyerang siapapun, bahkan dokter.

Baca Juga: Dengan Senang Hati, Saya Berbagi Kisah Hamil dan Melahirkan di Denmark, Negara Paling Bahagia di Dunia

Dukungan dan Cinta Keluarga yang Luar Biasa

foto keluarga.jpg

Setelah mendapatkan pertolongan medis, saya semakin membaik dari hari ke hari. Saya bisa istirahat, makan teratur, dan bersemangat kembali. Hal yang paling membahagiakan adalah dukungan keluarga yang luar biasa, terutama suami.

Suami saya bisa dibilang seorang 'cheerleader' dan moodbooster saya saat terpuruk dalam perasaan depresi.

Ia tidak ragu memeluk saat saya sedang menangis diam-diam, membantu cuci piring saat saya kerepotan dan terlihat lelah. Ia juga tidak protes ketika melihat rumah berantakan karena mengerti saya mudah lelah.

Pikiran buruk dan bisikan jahat itu memudar, hingga lama-lama menghilang. Alhamdulillah, hingga Gesang berusia 21 hari, bisikan itu tidak datang kembali.

Saya makin percaya diri saat mengasuh Gesang, Maryam, dan Aruna. Bahkan ketika mereka bertiga menangis bersama, saya tidak grogi atau takut.

Saya merasa begitu dicintai dan dibutuhkan. Perasaan ini membuat saya semakin bersyukur dan bahagia. Meski ada banyak kondisi yang begitu merepotkan ketika Maryam minta disuapi, Aruna BAB di celana, dan Gesang minta menyusu, semua dalam waktu bebarengan, tapi sekarang ini saya bisa tertawa dan tersenyum saat menghadapinya.

Pada akhirnya, saya bersyukur dapat melewati depresi pascamelahirkan dan pulih sepenuhnya pada kelahiran anak ketiga. Ternyata, semua ketakutan yang saya rasakan, tidak terjadi sama sekali!

Kepada semua ibu yang kini sedang berjuang pulih dari depresi pascamelahirkan, ketahuilah Moms bahwa kalian tidak sendiri.

Moms adalah ibu hebat dan anak-anak mencintaimu, tanpa syarat. Tidak ada ibu yang sempurna. Satu yang pasti, semua ibu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya.

Jangan pernah merasa gagal jadi ibu ya, Moms. Jangan ragu juga untuk datang mendapatkan pertolongan medis jika Moms mendapati gejala seperti menangis dan sedih terus menerus lebih dari dua minggu usai melahirkan, atau mendapatkan bisikan dan halusinasi yang mengganggu.

Agar anak-anak bahagia, setiap ibu berhak bahagia dan bebas dari belenggu depresi.

Artikel Terkait