PARENTING
11 September 2019

Kisahku dalam Menjalani LDM, Penuh Perjuangan ketika Jarak Memisahkan

Saat ketuban pecah, saya tidak berani ke rumah sakit sendirian tengah malam, dan memutuskan untuk menunggu esok paginya
Artikel ditulis oleh Amelia
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Yuanita Arindya (25 th), Ibu dari Muhammad Daffa Atqa Tsaqib (9 bln), Member WAG Orami Newborn (1), Working Moms (1), Mompreneur (1)

Setiap pasangan suami istri pasti menginginkan untuk bisa tinggal bersama dalam satu atap. Tetapi hal ini belum dapat kami rasakan karena tuntutan pekerjaan.

Dari awal pernikahan, kami harus menjalani Long Distance Marriage (LDM) karena perbedaan kota. Saat ini, saya bekerja di salah satu BUMN dan saya juga harus bersedia ditempatkan di mana saja.

Saya ditempatkan di Jakarta, dan suami bekerja sebagai dosen di salah satu universitas negeri yang ada di Semarang.

Kami terpisahkan oleh jarak antara Jakarta dan Semarang, yang membuat kami menjadi jarang bertemu. Manisnya hidup setelah pernikahan harus dibarengi dengan ketabahan, agar rindu yang dimiliki bisa berbuah manis di masa depan.

Belum lagi momen-momen penuh perjuangan yang harus saya lalui selama menjalani LDM ini.

Menjalani Kehamilan Seorang Diri

kehamilan.jpeg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Tidak lama setelah menikah, alhamdulillah Allah memberikan amanah buah hati kepada kami. Saya harus menjadi ibu hamil yang mandiri karena jauh dari suami dan keluarga.

Mandiri ketika harus kesana kemari, padahal badan rasanya lelah sekali tetapi tidak ada pilihan lain dan tidak ada yang mengantar jemput.

Termasuk ketika jadwal kontrol kandungan tiba, tetapi suami kala itu tidak bisa datang ke Jakarta. Terkadang ada rasa iri yang muncul ketika di ruang tunggu dokter, dipenuhi oleh sepasang suami istri, tetapi saya harus datang dan menunggu di ruang tunggu sendirian.

Di awal kehamilan, saya mengalami mual muntah yang sangat parah dan harus saya hadapi sendiri, belum lagi dengan keinginan ngidam yang harus dipenuhi dengan mencari makanan sendiri.

Tidak jarang juga, karena efek hormon ibu hamil yang tidak menentu membuat perasaan saya menjadi semakin labil. Tiba-tiba muncul perasaaan rindu yang bisa membuat saya sampai menangis tersedu di dalam kamar sendirian.

Baca Juga: OMG! Ternyata Saya Mengalami Blighted Ovum alias Kehamilan Kosong

Melahirkan tanpa Suami dan Keluarga yang Mendampingi

KELAHIRAN.jpg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Waktu itu tengah malam pukul 02.30, tiba-tiba ketuban saya pecah. Bingung karena di rumah seorang diri, tidak ada suami, dan saya merantau jauh dari keluarga.

Alhasil, saya menunggu hingga pagi hari untuk ke rumah sakit, karena takut tengah malam keluar sendiri.

Waktu itu, saya masih belum mengajukan cuti hamil karena masih sangat jauh dari HPL (Hari Perkiraan Lahir), jadi sebelum ke rumah sakit, saya masih sempat ke kantor untuk menemui atasan.

Sampai di rumah sakit pukul 09.00, setelah dicek oleh dokter, ternyata ketuban sudah kering dan harus segera ditindak. Saya harus diinduksi untuk mempercepat bukaan dan disuntikkan pematangan paru-paru karena kandungan saya masih kurang bulan.

Suami pun berangkat dari Semarang pukul 13.00 naik pesawat, dan sampai di rumah sakit pukul 15.30. Anak saya lahir pukul 14.40 sehingga suami tidak sempat mendampingi masa-masa kontraksi hingga proses persalinan.

Perasaan sedih memang tidak bisa dipungkiri, disaat saya benar-benar butuh dukungan, tetapi karena jarak akhirnya saya harus berjuang sendiri di ruang persalinan.

Tetapi saya percaya ada doa dari orang-orang tersayang, sehingga saya diberi kekuatan dan kelancaran selama proses persalinan.

Baca Juga: Bergabung di Komunitas, Pilihan Saya Agar Tetap 'Waras' dan Cerdas

Perjuangan Membesarkan Anak

Kebersamaan 2.jpeg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Dalam hal ini, saya benar-benar ditantang untuk menjadi perempuan tangguh. Bekerja sambil mengurus anak, jauh dari suami dan sanak saudara.

Beban terasa lebih berat di pundak saya karena saya harus mengurus anak, mengurus rumah, bekerja, dan mengatur perekonomian keluarga.

Ketika bekerja, saya harus merelakan anak saya dititipkan oleh orang lain. Tak jarang karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan untuk dinas keluar kota, saya membawa anak saya ikut perjalanan dinas.

Kami pun harus pandai-pandai mengatur perekonomian kelurga, agar dapat bertemu setidaknya dua minggu sekali. Memang berat diongkos. Namun, kami rela merogoh kocek demi berharganya sebuah pertemuan.

Kalau ditanya bagaimana rasanya menjalani ini? Berat.

Harapan tinggal bersama selalu ada. Mengharap pertemuan yang tak kenal pada kata "pulang", kebersamaan tanpa harus kenal kalimat "Aku pulang dulu ya, Sayang".

Tapi, semua perlu dijalani dengan ikhlas dan sabar sembari meyakini akan ada pelangi setelah hujan dengan 3 modal dasar, yaitu:

1. Komitmen

Kebersamaan.jpeg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Jauhnya jarak bukan menjadi alasan kami untuk bisa lebih dekat, justru memupuk rindu kami, dan membuat pelukan kami menjadi lebih erat ketika bersama dalam beberapa saat.

Komitmen dalam menjalani pernikahan menjadi bekal yang pada akhirnya dipakai untuk bisa saling menguatkan. Komitmen menjadi sangat penting dalam hubungan LDM, tanpa komitmen rasanya seperti rumah yang didirikan di atas pasir, diterpa angin sedikit maka akan roboh.

Namun, bila komitmen dengan pasangan sudah kuat, berarti rumah tangga sudah dibangun di atas pondasi yang kuat.

Baca Juga: Serunya Menikmati Tahun Pertama bersama Bayi Prematur

2. Kepercayaan

kebersamaan 3.jpeg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Tentu kami percaya ada campur tangan Allah yang menguatkan dan meridhoi sehingga kami bisa melewati suka duka dan semua masalah rumah tangga yang juga dialami oleh pasangan lain, baik LDM maupun tinggal satu atap.

Rasa khawatir karena pasangan jauh dari kita pasti ada, tapi kami lebih memilih untuk percaya satu sama lain.

Ketika terus memiliki kekhawatiran, hidup rasanya menjadi tidak damai dan akan terus menginterogasi pasangan mengenai detail kejadian sepanjang hari yang bisa menimbulkan ketidaknyamanan.

Dengan memupuk kepercayaan, saya menjadi lebih damai merawat Si Kecil. Sesekali boleh melakukan interogasi kecil untuk memastikan semua berjalan sesuai jalur.

3. Komunikasi

Dinas bareng anak.jpeg

Foto: Orami/Yuanita Arindya

Meski berjauhan, komunikasi harus tetap terjaga.

Jangan lupa untuk menghubungi pasangan lewat pesan singkat, telepon, atau video call. Walaupun jauh, tetap bisa memberikan perhatian-perhatian kecil kepada pasangan.

Misalnya, seperti mengirim foto terbaru anak, agar pasangan juga mengetahui perkembangan anak.

Peganglah filosofi “cinta itu seperti arang di dalam tungku”, dia tidak berkobar tapi tetap menyala, dia konsisten memberikan kehangatan.

Komunikasi ibarat kipas bambu yang membuat bara api tetap menyala. Cara kami berkomunikasi juga seperti ketika mengipas arang tersebut.

Kipaslah ringan, tidak perlu sekuat tenaga karena nanti akan mudah lelah. Jangan terlalu lemah dan jarang juga, pastikan anginnya menyentuh bara dan nyalanya menjadi tetap, sehingga hangatnya tetap terjaga.

Tidak ada LDM yang abadi, mereka hanya butuh waktu untuk bisa bersatu. Nikmatilah sampai tiba masanya. Semoga kami dimampukan dan dikuatkan.

Artikel Terkait