PARENTING
19 Agustus 2019

Mengalah Bukan untuk Menyerah, Bayi Saya Minum Susu Formula

Bayi saya menerima sumbing langit sehingga sulit untuk menyusui langsung
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Nuryana (31 tahun), Ibu dari Syandana Atsurga “Syaga” (3 bulan 20 hari), Member WAG Orami Moms with Special Kids

"As you go through life, you will see that there is so much that we don’t understand. And the only thing we know is things don’t always go the way we plan." -Simba, The Lion King (1994)

Idealnya, ASI Ekslusif diberikan pada bayi sampai minimal usia 6 bulan. Ya, itu merupakan keinginan saya saat hamil setelah banyak mengikuti seminar kehamilan sebagai persiapan menjadi seorang ibu.

Saya sangat menantikan kehadiran putra saya, setelah menikah dua tahun lalu. Syaga lahir melalui proses persalinan caesar karena posisi kaki di bawah dan ketuban sudah pecah lebih dahulu. Alhamdulillah, ia lahir dengan BB 3,340 gram dan panjang 50 cm setelah berada di kandungan selama 41 minggu dan 3 hari.

Setelah sadar dari bius ketika proses persalinan, suami mendekati saya dan perlahan membisikkan, "Alhamdulillah anak laki-laki, lahir sehat dan menangis dengan kencang paling kencang di antara bayi-bayi lainnya”.

Lalu, suami saya terdiam sejenak...

"...Tapi, anak kita sumbing langit-langit," lanjutnya.

Saya mengakui perasaan saya sedih, tapi di satu sisi saya merasa senang.

Sumbing Langit Membuat Syaga Tidak Bisa Menyusu Langsung

Mengalah bukan untuk menyerah-bayi saya minum sufor-1

Foto: Orami/Nuryana

Tidak lama kemudian datang perawat yang membawa bayi dan meletakkannya di samping saya. Saya melihat dengan penuh haru dan rasa syukur karena telah menjadi seorang ibu. Namun, hanya beberapa menit, bayi saya langsung diambil kembali sama perawat.

Ternyata, kondisi Syaga yang sumbing langit menyebabkan ia tidak bisa menyusu langsung melalui payudara ibunya dan hanya bisa minum melalui selang. Syaga pun harus tinggal di ruang perawatan bayi dan dirawat sampai ia bisa pulang ke rumah.

Saya dipindahkan ke ruang perawatan ibu setelah bersalin. Saya selalu bertanya apa Syaga nanti bisa ditempatkan bersama saya. Suami hanya bilang mungkin nanti setelah kondisi bayi stabil. Namun, ternyata hal itu tidak terwujud sampai saya pulang dari rumah sakit.

Tiap hari saya bertanya, "Dedek minumnya apa kok nggak IMD (Inisiasi Menyusui Dini)?"

Tetapi, perawat hanya bilang "Kalau ASI-nya ada, masukkin ke botol saja, Bu,. Nanti bisa dikasih ke dedek bayinya."

Mendengar hal tersebut, kondisi saya yang kala itu baru selesai operasi membuat saya terbaring lemah. Seharian tidak bisa bangun, ditambah stres karena tidak bisa bertemu Syaga.

Baca Juga: Petualangan Panjang Memilih Alat Kontrasepsi (KB) Paling Ampuh

Proses Menggunakan Pompa ASI yang Tidak Mudah

Mengalah bukan untuk menyerah-bayi saya minum sufor-2

Hari berikutnya, saya meminta tolong suami untuk mencarikan pompa ASI. Tetapi, yang tersedia di rumah sakit kala itu hanya pompa ASI manual yang mirip terompet. Harganya juga murah, yaitu Rp15.000.

Di hari pertama menggunakan pompa ASI, ASI saya masih belum keluar, bahkan setelah browsing bagaimana cara memakainya, setelah dipijat dan compress, hasilnya tetap nihil.

Hari berikutnya, ASI mulai keluar setetes, sempat merasa senang karena mengira bakal keluar lagi yang banyak. Ternyata, sampai pulang pun belum ada ASI yang bisa diberikan ke Syaga. Saya merasa sedih.

Tiba hari terakhir di rumah sakit dan waktunya pulang ke rumah. Payudara saya bengkak dan saya demam, karena ASI tidak dikeluarkan.

Alhamdulillah, ada kakak sepupu yang bisa memijat dan dapat membantu mengeluarkan ASI-nya, saya pun sudah tidak demam lagi. Saya menampung ASI-nya sampai ada sekitar 10 ml yang bisa dikasih ke Syaga nanti.

Saya pikir setelah pulang ke rumah, saya bisa memberikan ASI eksklusif meski lewat pumping. Ternyata kondisi psikis tidak mumpuni untuk mendapatkan hasil ASI yang dibutuhkan oleh Syaga. Saya merelakan Syaga minum susu formula lebih dominan, tapi tetap didampingi ASI eksklusif seberapa pun hasil pompanya.

Minggu berikutnya, kawan saya di Tegal menyewakan pompa ASI elektrik, kala itu katanya biar mantap hasil pumping ASI-nya.

Mata saya langsung berbinar dan penuh semangat untuk melakukan tips dan triknya. Sayangnya hasilnya tetap sama, Syaga masih dominan susu formula. Saya pikir yang penting Syaga tidak kehausan.

Saat Syaga berusia dua bulan, saya sudah bertekad akan ke konselor laktasi, berbekal searching di internet dan menemukan artikel yang ditulis oleh dr Asti Praborini SpA IBCLC, terkait mengASIhi untuk bayi sumbing. Alhamdulillah, beliau membuka praktek di salah satu rumah sakit di Depok yang dekat dengan rumah.

Baca Juga: Mendampingi Anak Epilepsi dan Delay Tumbuh Kembang

Bertemu Konselor Laktasi Hingga Perlu Pendonor ASIP

Mengalah bukan untuk menyerah-bayi saya minum sufor-3

Orami/Nuryana

Tiba hari bertemu dengan dr Asti, setelah mengantre cukup lama, kami dijelaskan bagaimana pentingnya ASI ekslusif. Kemudian memeriksa kondisi Syaga dan ditemukan kondisi Tongue Tie pada mulut Syaga yang langsung disarankan pemotongan tali lidah saat itu juga.

Saya dan suami harus mencari donor ASI demi imunitas tubuh Syaga yang harus menjalani operasi nanti. Saya juga harus mengganti dot yang khusus untuk bibir sumbing.

Saya kembali kontrol ke dokter seminggu kemudian dan Alhamdulillah berat badan Syaga naik 180 gram. Ini merupakan pencapaian luar biasa setelah selama dua bulan hanya naik 200-300 gram.

Kemudian kami mencari donor ASI sesuai saran dokter. Namun, ternyata tidak semudah bayangan kami.

Saya baru berhasil menemukan pendonor ASI setelah sebulan kemudian. Alhamdulillah, pendonor ASI didapat dari kakak kelas yang langsung memberikan tanpa syarat ASIP-nya.

Kurang lebih, Syaga minum ASIP dan stop konsumsi susu formula selama 10 hari. Syaga terlihat sangat menikmati dan gembira saat minum ASIP. Tapi beberapa hari kemudian, Syaga mulai menangis kencang sampai puncaknya tidak mau minum susu semalaman.

Besoknya, kami bawa ke dokter spesialis anak di rumah sakit terdekat. Saat Syaga ditimbang, beratnya ternyata turun jadi 3400 gram, saya pun merasa kaget karena status Syaga yang sudah masuk dalam "gizi buruk”.

Setelah diperiksa dokter, tidak ada hasil meskipun sudah cek darah dan urin semua terlihat normal dan baik-baik saja. Tetapi, Syaga masih belum terlihat pulih meski sudah mau minum susu sedikit demi sedikit.

Kami putuskan untuk membawa Syaga ke RSAB Harapan Kita di Jakarta, karena ada poli khusus yang menangani anak dengan sumbing langit.

Sayangnya kami datang di waktu yang salah, poli tersebut hanya buka di hari Senin-Jumat, sementara kami datang di hari Sabtu. Karena sudah terlanjur datang, kami diarahkan ke DSA spesialis pencernaan.

Baca Juga: Sempat Panik saat Mati Listrik, Ini Pengalaman dan Tips Menjaga ASIP Agar Tetap Sip

Keputusan Berat: Disarankan untuk Memberikan Susu Formula

Mengalah bukan untuk menyerah-bayi saya minum sufor-4

Orami/Nuryana

Di sinilah keputusan berat bermula. Dokter menanyakan beberapa hal, saya jelaskan awal lahir Syaga minum susu formula yang dicampur ASI, lalu lanjut minum dari ASi pendonor. Dokter hanya bilang, untuk fokus minum susu formula dan memberi vitamin.

Suami saya merasa bingung tentang maksud dari penjelasan dokter tadi. Saya menjelaskan bahwa Syaga tidak cocok minum ASI dengan susu formula, sehingga harus pilih salah satu.

Setelah mempertimbangkan bahwa ASI dari saya tidak bisa didapat dengan maksimal karena tidak melakukan direct breastfeeding, stok ASIP dari pendonor ASI juga terbatas karena suatu saat akan berkurang dan habis. Dengan berat hati dan sedih, Syaga akhirnya kami beri susu formula penuh.

Kala itu, sembari berdoa, "Bismillah, semoga ini keputusan yang tepat dan hanya bisa berdoa dan meminta Allah yang menjaga Syaga."

Alhamdulillah, kini berat badan Syaga selama dua minggu telah naik 400 gram dari minum susu formula sepenuhnya. Semoga stabil dan terus sehat hingga bisa mencapai berat badan minimal untuk operasi pertamanya yang Insya Allah dilakukan bulan Oktober nanti.

Perjalanan Syaga masih panjang, ada segelintir surat rujukan internal yang harus dikonsultasikan dengan dokter spesialis lainnya, juga beberapa hal terkait jadwal operasinya.

"Bismillah, kita jalani satu-satu dan berjuang bersama. Allah titipkan Syaga sama Umma berarti Allah percaya Umma bisa menjaga amanat-Nya. Semangattt," ujar saya.

Saat ini, saya merasa mengalah bukan menyerah. Saya memberikan susu formula untuk memenangkan gizi baik bagi Syaga. Saya malah sempat berpikir, semoga nanti setelah semua rangkaian operasinya selesai, Syaga bisa minum ASI saya lagi.

Gimana caranya? Supaya ASI saya keluar lagi, harus ada permintaan internal, dan saya pun belum KB. Hahaha. Semua saya serahkan pada Tuhan.

Ini memang sebuah keputusan yang besar, tetapi saya hanya bisa berpasrah pada Sang Pencipta.

Artikel Terkait