KESEHATAN
3 September 2019

Mengenal Disfungsi Seksual pada Wanita

Disfungsi seksual pada wanita cenderung terjadi pada orang dewasa yang berusia lebih tua
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Sebagian besar masyarakat sudah mengetahui bahwa disfungsi seksual terjadi pada pria. Namun, tahukah Moms bahwa kaum wanita justru punya persentase lebih banyak untuk mengalami disfungsi seksual?

Dalam diskusi media "Disfungsi Seksual pada Wanita" yang diadakan oleh RS Pondok Indah pada Selasa (13/8/2019) lalu. Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah-Puri Indah, dr. Grace Valentine, Sp.OG, menjelaskan lebih dalam tentang disfungsi seksual pada wanita.

"Disfungsi seksual merupakan masalah yang terjadi selama fase siklus respons seksual, yang menghambat individu atau pasangan untuk mengalami kepuasan dalam kegiatan seksual," jelas dr. Grace.

Dalam sebuah penelitian, disebutkan wanita berjuang dengan disfungsi seksual, dengan persentase 43 persen terjadi pada wanita dan 31 persen terjadi pada pria.

"Disfungsi seksual adalah topik yang banyak orang ragu atau malu untuk membahasnya. Padahal, sebagian besar kasus disfungsi seksual dapat diobati. Penting bagi seseorang untuk berbagi kekhawatiran Anda dengan pasangan dan dokter Anda," tegas dr. Grace.

Baca Juga: Waspada, Ini Penyebab Pria Disfungsi Ereksi di Malam Pengantin

Penyebab Disfungsi Seksual pada Wanita

disfungsi seksual

Dalam diskusi media ini, lebih lanjut dr. Grace menjelaskan bahwa terjadinya disfungsi seksual pada wanita disebabkan oleh beberapa faktor: faktor fisik, psikologis, dan gaya hidup yang tidak sehat.

Faktor fisik tersebut meliputi:

  • Penyakit kardiovaskular
  • Penyakit neurologis
  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Masalah ginekologis
  • Efek samping buruk dari obat-obatan

Faktor psikologisnya meliputi:

  • Gangguan kecemasan
  • Stres berkepanjangan
  • Depresi
  • Histeria
  • Masalah kesehatan mental lainnya

Sementara, untuk gaya hidup yang tidak sehat meliputi hal-hal berikut ini:

  • Pola makan yang tidak sehat
  • Kurang bergerak (sedentary life)
  • Merokok
  • Minuman beralkohol
  • Penggunaan obat-obatan terlarang

"Masalah seksual terjadi pada orang dewasa dari segala usia. Baik pria maupun wanita bisa mengalami disfungsi seksual. Pada umumnya, disfungsi seksual terjadi pada orang dewasa yang lebih tua. Hal ini terkait dengan penurunan kesehatan atau degeneratif," jelas dr. Grace.

Baca Juga: 3 Makanan yang Dapat Menurunkan Hasrat Seksual

Dampak Disfungsi Seksual pada Wanita

hasrat seks menurun-1.jpg

Jika wanita mengalami disfungsi seksual, ada beberapa dampak yang bisa memengaruhi kualitas hubungan seksual dengan pasangan. Dokter Grace menjelaskan, ada empat dampak bagi wanita dengan disfungsi seksual.

  • Hambatan pada hasrat seksual
  • Depresi
  • Bosan dengan rutinitas seksual
  • Ketidakmampuan untuk terangsang
  • Kekeringan vagina (vaginal dryness)
  • Kesulitan orgasme
  • Faktor psikologis
  • Nyeri saat berhubungan intim

Baca Juga: Nyeri Saat Berhubungan Seks, Mungkin Saja Terkena 3 Penyakit Kelamin Ini

Pengobatan Disfungsi Seksual pada Wanita

3 Topik Pillow Talk yang Sebaiknya Dihindari Setelah Berhubungan Seks 03.jpg

Untuk mencari tahu bila seorang wanita mengalami disfungsi seksual, terlebih dahulu dilakukan diagnosis dengan melakukan pemeriksaan fisik dan evaluasi gejala secara menyeluruh.

Setelah itu, dilakukan pemeriksaan panggul untuk mengevaluasi kesehatan organ reproduksi. Juga evaluasi sikap mengenai seks, dan faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi.

Misalnya, jika ada ketakutan, kecemasan, trauma/pelecehan seksual di masa lalu, masalah hubungan, atau penyalahgunaan alkohol atau narkoba.

"Keberhasilan pengobatan disfungsi seksual pada wanita tergantung pada penyebab masalah yang mendasarinya. Hasil terbaik untuk disfungsi seksual yang terkait dengan kondisi fisik dapat diobati atau reversibel," jelas dr. Grace.

Lebih lanjut ia menerangkan, untuk disfungsi ringan karena stres, rasa takut, atau kecemasan dapat diobati dengan konseling, pendidikan, dan komunikasi yang lebih baik antar pasangan.

Artikel Terkait