BALITA DAN ANAK
25 November 2019

Penyebab Balita Cacingan dan Cara Mencegahnya

Ketahui juga tentang siklus hidup cacing dan gejala cacingan
Artikel ditulis oleh Orami
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Dalam bahasa medis, infeksi parasit di usus akibat cacing gelang besar bernama Ascaris lumbricoides disebut askariasis.

Penyakit ini lebih rentan menyerang anak-anak di bawah usia 10 tahun dibanding orang dewasa. Sebab, di umur tersebut, anak-anak lebih sering bermain dengan tanah.

Anak-anak juga lebih berisiko mengalami masalah di perut dan usus akibat cacingan karena usus mereka yang kecil lebih berisiko tersumbat cacing.

Menurut Journal of The American Academy of Pediatrics, infeksi cacing pada anak-anak termasuk empat infeksi cacing usus askariasis, trikuriasis, cacing tambang, dan enterobiasis, yang ditularkan melalui tanah yang terkontaminasi dan infeksi yang terbawa air yang terkait dengan inang perantara. Secara total, infeksi cacing ini berada di antara ancaman kesehatan global utama terhadap anak-anak.

Selain itu, askariasis banyak terjadi di negara bersuhu hangat sepanjang tahun, yakni wilayah tropis dan subtropis. Askariasis juga umum ditemukan di negara yang menggunakan kotoran manusia sebagai pupuk dan memiliki sanitasi buruk.

Baca Juga: Cegah Cacingan Pada Bayi Dengan Cara Ini

Penyebab Balita Cacingan

Penyebab Cacingan.png

Foto: kidspot.co.nz

Penyakit balita cacingan tidak menular dari manusia ke manusia. Penyakit ini seringkali berkembang karena anak memasukkan tangan ke mulut setelah bermain dengan tanah yang terkontaminasi feses yang mengandung telur cacing.

Menurut website mayoclinic.org, memakan sayur dan buah yang ditanam di tanah yang terkontaminasi dan tidak dicuci juga bisa menyebabkan askariasis.

Siklus Hidup Cacing

Cacing A. lumbricoides adalah parasit yang menggunakan tubuh manusia sebagai inang dalam seluruh siklus hidupnya, mulai dari telur sampai menjadi cacing dewasa.

Cacing betina dewasa dalam usus besar anak bisa menghasilkan lebih dari 200.000 telur per hari. Telur tersebut lalu berpindah ke kotoran manusia.

Di wilayah yang memiliki sanitasi buruk atau kotoran manusia dijadikan pupuk, telur di kotoran akan menjadi matang selama 2-3 minggu di tanah sebelum dapat menginfeksi.

Jika anak bermain di tanah yang berkontaminasi, telur cacing bisa masuk ke jari dan kuku. Kalau jari tersebut dimasukkan ke mulut atau anak memakan sayur dan buah yang tidak dicuci, telur cacing bisa tertelan dan masuk ke sistem pencernaan.

Baca Juga: Seperti Apa Gejala Cacingan Pada Anak?

Setelah telur cacing menetas di usus besar, larva melubangi dinding usus dan masuk ke aliran darah. Darah membawa larva ke paru-paru, sehingga parasit tersebut bisa masuk ke kantung pernapasan.

Setelah berada selama 6-10 hari di paru-paru, larva naik ke saluran pernapasan dan masuk ke tenggorokan. Larva tertelan lagi dan masuk ke usus kecil. Di sinilah larva berkembang menjadi cacing dewasa, kawin, dan menghasilkan telur.

Tertelannya telur cacing sampai bertelurnya cacing dewasa memakan waktu 2-3 bulan. Cacing A. lumbricoides bisa hidup di tubuh manusia selama 1-2 tahun.

Moms, cacing betina bisa memiliki panjang lebih dari 40 cm dan diameter 6 mm, lo! Cacing jantan biasanya lebih kecil. Selain itu, cacing dapat keluar melalui anus, mulut, atau hidung. Hiii… Ngeri, ya!

Gejala Balita Cacingan dan Komplikasinya

Gejala Cacingan dan Komplikasinya.jpg

Foto: Shutterstock

Kebanyakan anak yang terinfeksi cacing A. lumbricoides tidak menunjukkan gejala balita cacingan. Namun, semakin banyak cacing di usus kecil, semakin parah gejalanya. Misalnya, sakit perut hebat, kelelahan, muntah, turun berat badan atau malnutrisi, serta diare atau tinja berdarah.

Komplikasi askariasis di antaranya:

  • Lambatnya pertumbuhan anak. Kehilangan nafsu makan dan buruknya penyerapan makanan yang sudah dicerna membuat balita cacingan berisiko tidak mendapatkan gizi yang cukup.
  • Usus tersumbat dan berlubang. Pada askariasis tingkat berat, sekumpulan cacing dapat menutup sebagian usus kecil sehingga menyebabkan kram perut hebat dan muntah. Penyumbatan tersebut juga dapat membuat dinding usus berlubang sehingga menyebabkan perdarahan dalam atau apendisitis.
  • Penyumbatan saluran hati atau pankreas dan infeksi sehingga menimbulkan rasa sakit yang parah
  • Pneumonitis atau inflamasi paru akibat alergi bersama demam, batuk, bengek, dan sesak napas akibat migrasi larva melalui paru-paru

Baca Juga: Bukan Cuma Cuci Tangan, Lakukan 5 Cara Ini untuk Mencegah Cacingan pada Balita

Diagnosis

Diagnosis biasanya akan dilakukan dengan melihat cacing di popok atau lubang toilet, atau mendeteksi telur cacing di sampel kotoran anak. Telur cacing hanya bisa dilihat dengan mikroskop, namun cacing bisa dilihat dengan mata telanjang dan mirip cacing tanah.

Pencegahan

  • Jauhkan anak dari tanah yang kemungkinan terkontaminasi kotoran manusia
  • Cuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi
  • Cuci tangan anak menggunakan sabun sampai bersih, terutama sebelum makan
  • Selalu pastikan kuku anak pendek dan bersih

Moms juga bisa memberikan obat cacing khusus balita dan anak-anak setiap enam bulan sekali untuk mencegah balita cacingan.

Artikel Terkait