PARENTING
29 Agustus 2019

Sempat Merasa Tidak Siap Jadi Ibu Menyusui Bagi Dua Anak, Ini Kisah Saya Melakukan Tandem Nursing

Saya sempat down karena seorang teman mengatakan saya tidak mampu
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Oleh Carissa Savitri (28 th), Ibu dari Arzanka Khalif Danurendra (22 bln) dan Misha Fahima Yarakalya (5 bln), Member dari WAG Orami Toddler (2)

Bulan Ramadhan tahun lalu, jadi bulan yang cukup menyibukkan bagi saya. Saya mendapat pesanan kue kering hingga ratusan toples.

Karena jam kerja pegawai hanya sampai jam 16.00, alhasil kue kering yang belum tertata di toples, rekapan order yang belum tersalin sempurna, atau proses packaging yang belum rapi, harus diselesaikan oleh diri saya sendiri.

Biasanya saya baru selesai jam 22.00. Sedangkan jam 03.00, saya sudah harus bangun untuk menyiapkan sahur karena tidak ada ART yang menginap.

Saya akui rasanya lelah luar biasa sampai badan ini ingin dipijat setiap hari. Apalagi, saya juga berpuasa seperti biasa walaupun sedang menyusui. Saat itu anak saya, Arza, masih berumur 8 bulan.

Mengingat aktivitas yang dilakukan cukup menguras fisik, ditambah harus mengurus bayi, saya tak terlalu ambil pusing saat badan rasanya pegal-pegal setiap hari. Saya pikir itu hanya kelelahan biasa.

"Nanti juga hilang kalau sudah beristirahat," pikir saya.

Baca Juga: OMG! Ternyata Saya Mengalami Blighted Ovum alias Kehamilan Kosong

‌Kejutan yang Sebenarnya Tidak Menggembirakan

P2110227-01.jpeg

Foto: Orami/Carissa Savitri

Menjelang Lebaran, produksi kue kering sudah rampung, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain bersama Arza.

Anehnya, pegal-pegal tak kunjung hilang walaupun saya sudah tak banyak beraktivitas. Saya pun langsung merasa ada yang tidak beres.

Tanpa memberitahu suami, saya membeli testpack di apotek dekat rumah. Saking tak sabarnya, saya mencoba sore itu juga.

Saya langsung menangis sejadi-jadinya saat melihat dua garis tergambar di sana. Garis merah muda yang mengubah hari-hari saya.

Arza saya peluk. Dunia terasa runtuh. Beragam pikiran muncul di kepala saya. Bergantian dengan wajah polos Arza yang entah dia mengerti atau tidak bahwa sebentar lagi dia akan menjadi kakak. Sejujurnya, saya tidak merasa siap.

Saya tak tahu harus bagaimana menghadapi ini semua. Semua terasa serba tiba-tiba. Saya merasa gagal menjadi ibu.

Saya merasa tidak bisa mengasihi anak dengan sempurna. Bisa-bisanya saya hamil kembali saat Arza masih kecil. Dia masih butuh banyak waktu, dan perhatian dari saya. Apalagi dia juga masih menyusu!

Setiap mengingatnya, saya selalu menangis.

Baca Juga: Serunya Menikmati Tahun Pertama bersama Bayi Prematur

‌Arza Tetap Mendapatkan Haknya

IMG_0087[1]-02.jpeg

Foto: Orami/Carissa Savitri

Perasaan bersalah karena hamil lagi saya tebus dengan tetap menyusui Arza. Saya lalu mengumpulkan banyak informasi tentang nursing while pregnant (NWP) dan tandem nursing dari blog, milis, serta cerita teman-teman yang juga melakukan tandem.

Bahkan saya sampai mengirim pesan ke beberapa orang asing demi mendapat insight.

Sebenarnya, saat saya konsultasi dengan dokter kandungan, beliau tidak menganjurkan saya menyusui sampai umur kandungan lebih dari 4 bulan, karena takut terjadi kontraksi.

Namun, saya sudah berjanji akan berhenti menyusui seandainya terjadi kontraksi. Arza pun tetap saya kenalkan susu selain ASI setelah umurnya 1 tahun, untuk berjaga-jaga saat saya berada di rumah sakit.

Sayangnya, setelah mencoba beragam produk dan rasa, semua ia tolak mentah-mentah.

Saya merasa ASI mulai berkurang banyak saat usia kandungan masuk 5 bulan. Saat memasuki usia kandungan 7 bulan, ASI sudah berubah menjadi kolostrum.

Meski begitu, Arza tetap menikmati aktivitas menyusunya seolah tidak ada yang berubah. Entah dia menyusu hanya untuk mencari kenyamanan, atau memang karena dia membutuhkan ASI.

Apa yang membuat saya tetap mantap melanjutkan NWP adalah karena di atas usia 1 tahun, kebutuhan nutrisi harian 70 persen tercukupi dari pemberian MPASI.

Saya berpikir, walaupun produksi ASI semakin berkurang, sepertinya tidak jadi masalah jika Arza sudah banyak makan.

Selain itu, memberi Arza susu selain ASI amat sangat susah. Lima teguk saja rasanya saya sudah bahagia bukan kepalang. Untungnya, hingga hari persalinan, saya tidak pernah mengalami kontraksi karena NWP ini. Kontraksi palsu pun baru dirasakan saat usia kandungan masuk 38 minggu.

Baca Juga: Paniknya Saya sebagai Ibu Baru saat Melihat Anak Kejang karena Demam

Menyusui Balita dan Bayi

1560089411348_IMG_0030-02.jpeg

Foto: Orami/Carissa Savitri

Dua bulan awal setelah kelahiran anak kedua menjadi masa-masa berat untuk saya. Arza menyesuaikan diri menjadi kakak, sang adik menyesuaikan diri dengan dunia luar. Saya pun turut menyesuaikan diri sebagai ibu bagi dua anak yang masih kecil.

Awalnya, menyusui dua anak sungguh merepotkan. Karena belum terbiasa, Arza seringkali marah jika saya menyusui adiknya. Seolah terkoneksi satu sama lain, Arza pasti akan terbangun saat adiknya minta menyusu di malam hari.

Begitu pula adiknya yang selalu terbangun saat kakaknya minta menyusu. Hal ini yang kadang membuat saya ingin menangis, dan menyerah karena semalaman tidak tidur hanya untuk meladeni Arza dan adiknya bergantian menyusu.

Sungguh-sungguh bergantian sampai rasanya payudara saya kempot, dan tak ada isinya.

Tapi, pikiran itu segera saya singkirkan dengan mantra "this too shall pass". Menyusui memang tidak memakan waktu lama, tapi dampaknya akan membekas seumur hidup mereka.

Lagipula, dari apa yang saya baca, tandem nursing memiliki banyak manfaat. Seperti belajar berbagi, menghindari sibling rivalry, memberi kesempatan kakak mendapat hak ASI hingga 2 tahun, dan juga mencegah payudara bengkak usai melahirkan.

Saya juga turut merasakan hal yang "ajaib" karena dilakukan tandem ternyata membuat berat badan Arza naik melesat. Bahkan, di usianya yang sudah 19 bulan dan sedang aktif-aktifnya, saat itu berat badannya bisa naik sampai satu kilogram. Padahal, biasanya kenaikan berat badan Arza cenderung sedikit.

Mungkin karena kandungan ASI saat itu mengikuti kebutuhan bayi baru lahir, sehingga banyak mengandung lemak. Bahkan salah satu teman tandem saya bercerita, dalam 2 minggu berat badan anak pertamanya bisa naik hingga 2 kilogram.

Sekarang, mereka sudah tidak pernah berebut payudara. Kadang, jika Arza saya tawari menyusu ia malah menjawab dengan, "Nenen buat dedek", tanpa saya ajari. Jawaban yang terdengar sangat manis.

Hal ini yang membuat saya bersyukur dan tetap yakin untuk melakoni NWP dan tandem nursing.

Baca Juga: 4 Fakta Penting Ibu Menyusui

Sempat Disebut Ibu yang Egois

1562321868150.jpg

Foto: Orami/Carissa Savitri

Sebenarnya, perjalanan yang paling sulit bukan melakoni tandem itu sendiri, tetapi menghadapi lingkungan, dan komentar orang-orang, karena NWP dan tandem nursing bukan hal yang familiar. Mitos yang mengakar membuat dua istilah ini dianggap sesuatu yang salah.

Tiga hari pascapersalinan, saya mendapat WhatsApp panjang dari salah satu orang dekat. WhatsApp yang sukses membuat saya emosi sampai ke ubun-ubun.

Mungkin selain pengaruh mood swing, chat ini membuat saya sakit hati karena ia terang-terangan menyebut bahwa saya tidak bisa memberi yang terbaik untuk anak.

Dia mengatakan saya ibu yang egois karena menyusui kakak dan adik secara bersamaan. Saya dinilai egois karena memaksakan keduanya untuk mendapat ASI.

Saya dinilai egois karena tetap memberikan ASI pada Arza yang terlihat kurus dan kurang gizi (yang padahal menurut standar Kartu Menuju Sehat pun masih tergolong gizi baik).

Tak cukup komentar dari orang dekat, saya juga selalu mendapat tatapan terkejut dari setiap orang yang datang menengok, disertai pertanyaan, "Memangnya boleh?", "Memang ASI-nya enggak jadi racun?", "Jangan disusui terus, nanti kakaknya jadi manja", "Nanti adiknya kurus kurang ASI", dan komentar lain yang membuat saya banyak-banyak mengucapkan istighfar tiap kali mendengarnya.

Saya yakin seburuk-buruknya seorang ibu, ia akan tetap memberikan yang terbaik bagi anaknya. Begitu pula dengan saya.

Saya yakin tandem nursing adalah cara yang terbaik sesuai dengan kondisi anak-anak saya.

Apa yang terpenting, saya terus memantau grafik tumbuh kembang mereka, dan memastikan nutrisi saya sebagai ibu menyusui dua anak tercukupi. Selain itu, ASI booster terbaik sejatinya adalah mendapat dukungan dan doa dari lingkungan.

Artikel Terkait